MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
MHD season 2



Eden segera membubuhkan tanda tangannya setelah memeriksa dengan seksama isi berkas tersebut. Sementara Michel masih berdiri dengan wajah datar. Wanita itu bahkan tidak bersikap genit seperti yang selalu dia perlihatkan selama ini.


"Ini, sudah saya tanda tangani," ujar Eden seraya menyerahkan berkas tersebut kepada Michel.


"Baik, Pak Bos. Terima kasih, saya permisi," jawab Michel singkat, padat dan tanpa basa-basi membuat Eden semakin dilanda rasa gelisah.


Wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat, setelah itu dia pun berbalik dan meninggalkan ruangan dengan wajah datar. Eden yang menyaksikan perubahan sikap kekasihnya itu pun seketika berdiri tegak. Perasaannya semakin tidak karuan. Dia benar-benar merasa heran, apa ucapannya semalam terlalu menyakiti hati seorang Michel sehingga sikap wanita itu berubah dingin? Bahkan sangat dingin menurutnya.


"Ternyata cinta kamu tidak sebesar yang selalu kamu gembar-gemborkan, Michel. Mana, saya baru bilang kayak gitu aja kamu udah berubah, dasar bulsyit!" decak Eden perasaanya tiba-tiba saja merasa kesal, perubahan sikap Michel telah mengusik ketenangan relung hatinya yang paling dalam.


Eden berdiri di belakang pintu yang memang sengaja di buka meski hanya berupa celah kecil, dia menatap wajah Michel yang mulai melanjutkan pekerjaannya. Wanita itu duduk seraya menatap layar laptop yang berada di atas meja. Jarinya terlihat menari-nari di atas keyboard dengan begitu lihainya.


Sementara Eden masih mengintip di balik pintu. Laki-laki itu seketika mengerutkan kening tatkala melihat Michel tiba-tiba saja mengangkat sambungan telpon.


'Michel telponan sama siapa tuh?' batin Eden seketika mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa. Dia pun mendengarkan dengan seksama apa yang dibicarakan oleh wanita itu di dalam sambungan telpon.


"Halo! Kamu di mana?" Sapa Michel meletakan ponsel di telinganya.


Sementara Eden semakin membuka ke dua telinganya lebar-lebar agar dapat mendengarkan percakapan wanita itu.


"Hmmm! Baiklah, aku ke sana sekarang juga. Kamu tunggu di situ, jangan ke mana-mana, oke?" kembali terdengar suara Michel.


Eden seketika mengerutkan kening. Sebenarnya dengan siapa kekasihnya itu melakukan sambungan telpon? Perasaanya pun semakin dilanda rasa gelisah. Apalagi ketika dia melihat Michel tiba-tiba saja berdiri tegak lalu berjalan meninggalkan meja.


"Astaga, wanita ini. Jam kerja mau ke mana dia?" decak Eden segera keluar dari dalam ruangannya lalu berjalan mengikuti wanita bernama Michel itu dari arah belakang.


Bak seorang detektif swasta, Eden mengendap-endap mengikuti sekretarisnya berjalan di koridor kantor. Dia bahkan segera bersembunyi di balik tembok ketika Michel berbalik dan menoleh ke belakang. Dirinya tidak ingin kalau Michel sampai tahu bahwa dirinya melakukan hal yang memalukan seperti ini.


"Pokoknya, si Michel jangan sampai tahu kalau saya mengikuti dia. Bisa turun harga diri saya kalau dia sampai tahu," gumam Eden mengintip dari balik tembok, tapi wanita yang sedang dia ikuti sudah tidak berada lagi di sana.


Eden gelagapan seraya menatap sekeliling. Dia pun berjalan dengan setengah berlari berharap tidak kehilangan jejak wanita itu. Namun, sepertinya dia sudah benar-benar kehilangan jejak Michel karena wanita itu tidak terlihat di mana pun. Sampai akhirnya, dia pun berhenti di persimpangan lorong dengan napas yang terengah-engah juga dada yang terlihat naik turun.


"Sial, kemana perginya si Michel? Jalannya cepat banget," decak Eden seraya mengatur napasnya yang saat ini berhembus tidak beraturan.


"Anda mencari siapa, Pak Bos?" tiba-tiba terdengar suara yang sangat dia kenal. Eden sontak menoleh ke arah sumber suara.


"Astaga, kamu!" sahut Eden terperanjat, jantungnya hampir saja melompat dari tempatnya bersarang, tatkala melihat Michel berdiri dengan menyandarkan punggungnya di tembok yang berada di persimpangan koridor.


"Pak Bos pasti sedang mencari saya, kan?" tanya Michel seketika tersenyum menyeringai seraya menatap wajah sang Bos dengan tatapan mata tajam.


"Si-siapa bilang saya mencari kamu?" tanya Eden wajahnya seketika memerah menahan rasa malu, "Jangan terlalu percaya diri kamu, Michel. Lagian, ini masih jam kerja kamu mau ke mana?"


'Sial, sepertinya saya dikerjain sama si Michel. Jadi malu 'kan saya,' batin Eden seraya memejamkan ke dua matanya sekejap.


"Udah gak usah bohong, Anda mencari saya, kan? Saya tau ko," imbuh Michel menatap lekat wajah Eden dengan posisi yang sangat dekat.


"Apaan sih? Saya bilang tidak ya tidak," sahut Eden masih bersikukuh, "Sekarang lanjutkan perkejaan kamu, ini masih jam kerja lho. Nanti saya potong gaji kamu baru tahu rasa," ketus Eden mulai berjalan bersama Michel menuju ruangan kerjanya.


"Kata siapa ini masih jam kerja? Sekarang sudah waktunya jam makan siang ko," decak Michel berusaha untuk menyeimbangkan langkah kakinya dengan langkah Eden.


"O ya?" sahut Eden tanpa menoleh.


Michel menganggukkan kepalanya, "Gimana kalau kita makan siang bareng? Aku lapar Pak Bos," rengek Michel dengan nada suara manja.


"Makan aja sendiri."


"Ya udah, aku cari teman lain aja. Aku gak bisa makan sendirian, kayak orang yang gak punya teman aja," celetuk Michel seketika menghentikan langkah kakinya.


Hal yang sama pun dilakukan oleh Eden, "Teman? Memangnya kamu punya teman?" tanya Eden mengerutkan keningnya.


"Apa maksud Bapak? Saya punya banyak teman di kantor ini, situnya aja yang gak pernah lihat, ya udah aku makan dulu ya, babay!" sahut Michel seraya melepaskan lingkaran tangannya lalu berbalik dan meninggalkan sang atasan.


Eden sontak memutar tubuhnya dan menatap punggung Michel, "Dia mau makan sama siapa? Jangan-jangan sama cowok lagi," gumam Eden tiba-tiba saja di landa rasa penasaran, "Akh, sudahlah. Mau di makan sama cowok kek, sama cewek kek, saya tidak peduli," decaknya lalu kembali memutar badan melanjutkan langkah kakinya.


* * *


30 Menit Kemudian


Tidak seperti biasanya, Eden yang biasa menahan rasa lapar demi menyelesaikan pekerjaan, kini terlihat mengantri di kantin perusahaan dengan membawa sepiring makanan yang sudah terisi nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Tatapan matanya nampak berkeliling menatap satu-persatu karyawan kantor yang sedang menyantap makan siang. Dirinya sedang mencari seseorang, siapa lagi kalau bukan wanita bernama Michel sekretaris sekaligus kekasihnya.


Sampai akhirnya, Eden menemukan sosok yang dia cari. Michel nampak sedang duduk seraya menyantap makan siang bersama seorang laki-laki yang juga karyawan di perusahaan itu. Hati seorang Eden tiba-tiba saja merasa panas terbakar. Sesuatu yang aneh terasa mengusik relung hatinya, rasa yang membuatnya merasa heran. Apa mungkin Eden cemburu melihat kekasihnya bersama laki-laki lain?


Michel nampak mengobrol bahkan tersenyum lebar bersama laki-laki itu di sela-sela aktivitasnya menyantap makanan. Eden berjalan menghampiri dengan perasaan kesal.


Bruk!


Eden meletakan piring di atas meja dengan sedikit di hentakan membuat Michel merasa terkejut begitupun dengan laki-laki yang duduk bersamanya.


"Pak Bos," gumam Michel seketika menghentikan gerakan mulutnya yang sedang mengunyah makanan.


"Kalau makan itu jangan sambil ngobrol, nanti keselek tau rasa!" ketus Eden dengan wajah merah padam menahan rasa kesal.


BERSAMBUNG