
Bruk!
Nata terkulai lemas tepat di atas raga polos suaminya. Napasnya terdengar tidak beraturan juga terlihat puas dengan pendakian panjang yang baru saja dia lakukan bersama Daren. Senyuman kecil pun mengembang dari kedua sisi bibir Daren kini. Sebagai seorang suami, dirinya benar-benar merasa puas dengan pelayanan yang di suguhkan oleh Natalia Agatha istrinya tercinta.
"Sayang, bayi kita baik-baik aja 'kan?" tanya Daren mengingat janin di dalam perut sang istri.
"O iya, aku sampai lupa kalau aku sedang hamil muda. Hehehehe!" jawab Nata tersenyum cengengesan, dia pun perlahan mulai turun dari raga sang suami.
"Kamu ini, ingat ya kamu ini sedang hamil muda, sayang. Jaga baik-baik kandungan kamu ini.''
"Kita 'kan pengantin baru, wajar 'kan kalau lagi enak-enaknya menikmati masa pengantin baru kita ini? Tapi aku janji ko bakalan jaga kandungan aku."
"Iya sayang. Mas juga sama seperti kamu, tapi--"
"Cukup! Aku ngantuk, ceramahnya besok lagi aja, atau Mas terusin kerjaan yang tadi, oke!?" sela Nata membuat Daren seketika menghetikan ucapannya.
Daren hanya bisa menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar, dirinya memang tidak akan pernah menang dalam hal berdebat dengan istrinya itu. Dia merapatkan selimut tebal yang menutupi hampir seluruh tubuh Nata lalu meringkuk tepat di belakangnya kini.
Perlahan, Daren melingkarkan tangannya di perut sang istri lalu mengusap permukaan perutnya dimana sang baby bersemayam di dalam sana.
"Sayang, babynya Daddy, kamu baik-baik di dalam sana ya. Mommy kamu ini kadang-kadang suka nakal. Susah banget buat dikendalikan,'' lirih Daren membuat Natan seketika memutar badan lalu menatap tajam wajah suaminya.
"Ko jadi aku yang susah untuk dikendalikan? Bukannya Mas juga sama ya? Kita sama-sama enak lho?" gerutu Nata kemudian.
"Iya, sayang iya. Mas juga gak bisa mengendalikan diri kalau kamu udah polosan kayak gini. Pokoknya, tubuh kamu ini anu banget deh.''
"Dih, dasar ..."
Cup ...
Satu kecu*an pun mendarat di kening Nata, Daren menatap lekat wajah Nata dengan tatapan mata sayu. Rasanya masih seperti mimpi baginya gadis bernama Nata ini sudah menjadi istrinya sekarang.
"Kenapa Mas liatin aku kayak gitu?" tanya Nata tersenyum kecil.
"Mas masih merasa gak percaya aja, bahwa kamu sudah menjadi istri Mas sekarang. Mas pikir, Mas akan menjadi duda seumur hidup Mas. Kamu adalah anugerah terindah di dalam hidup Mas, Nata.''
"Sudah lama aku gak dengerin gombalannya Mas."
"O ya? Hahahaha! Mas juga sudah lama gak denger kamu gombalin Mas. Coba dong keluarin gombalan kamu, sayang."
"Baiklah, kalau Mas yang minta.''
Perlahan, Nata meletakkan kedua telapak tangan di kedua sisi Daren suaminya. Dia pun menatap wajah sang suami dengan tatapan penuh rasa cinta. Tidak lupa, senyuman mengembang lebar dari kedua sisi bibirnya kini terlihat begitu bahagia.
"Apa Mas tahu, aku sudah mengagumi Mas dari semenjak aku masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas? Diam-diam aku suka ngintipin Mas lho, waktu itu wajah Mas belum setua ini. Mas selalu saja terlihat se*si. Wajah Mas, senyuman Mas, bahkan aku pernah melihat Mas dalam keadaan telanjang dada dan rasanya aku ingin sekali memeluk Mas saat itu."
"Aku sama sekali tidak menyangka, bahwa aku bisa benar-benar memeluk Mas sekarang. Menyandarkan kepala aku di dada bidang Mas ini rasanya seperti mimpi bagiku. Aku pikir aku hanya bisa mengagumi Mas tanpa bisa memiliki Mas mengingat umur kita yang terpaut cukup jauh ini.''
"Mas adalah anugerah terindah di dalam hidup aku, sayang. Aku bahkan tidak pernah berpacaran dengan laki-laki lain selain Mas Daren. Sebesar itulah rasa cintaku sama Mas. Mas adalah cinta pertama dan juga cinta terakhir aku. I love you, Mas.''
Andai saja, Daren sedang dalam keadaan berdiri, mungkin dirinya sudah menjatuhkan diri saat itu juga. Apa yang baru saja diucapkan oleh Nata benar-benar mampu menyentuh titik terdalam telung hati seorang Daren. Kedua mata laki-laki itu bahkan seketika mulai berkaca-kaca merasa terharu dengan apa yang baru saja diucapkan oleh istrinya tercinta.
"Sayang! Kamu--" Daren bahkan tidak kuasa untuk meneruskan ucapannya. Dia telah mengencani banyak wanita, tapi tidak ada yang pernah mengatakan hal yang begitu menyentuh hatinya.
"Mas? Mas nangis? Astaga!" Lirih Nata mengusap kedua sisi rahang suaminya.
"Kamu benar-benar telah membuat Mas merasa terharu, sayang. Mas benar-benar tersentuh dengan apa yang baru saja kamu katakan itu. Makasih sayang karena telah mengatakan semua itu. Mas semakin cinta sama kamu, Nata. Muach ...!" lembut Daren kemudian. Satu kecu*an kecil pun mendarat di bibir mungil sang istri.
"O ya? Mas merasa tersentuh dengan apa yang aku katakan tadi? Padahal aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan selama ini lho. Mas benar-benar beruntung mendapatkan aku. Tubuh aku ini hanya di sentuh sama Mas. Ciu*an pertama aku juga Mas lho."
"Tentu saja, Mas benar-benar beruntung bisa memiliki istri seperti kamu, sayang. Mas cintaaaaaa banget sama kamu.''
Nata tersenyum kecil. Keduanya pun saling menatap wajah masing-masing. Akan tetapi, Daren seketika membulatkan bola matanya saat jemari nakal istrinya itu tiba-tiba saja menggegam sesuatu di bawah sana.
"Sayang! Tangan kamu?" tanya Daren seketika memejamkan matanya saat jari lentik suaminya itu benar-benar menggegam erat junior miliknya di bawah sana.
"Aku gak akan bisa tidur kalau gak megang junior kesayangan aku ini. Hehehe!''
"Natalia Agatha, astaga kamu ini."
"Udah, Mas tidur aja," celetuk Nata memejamkan kedua matanya dengan tangan yang semakin bermain lincah di bawah sana.
"Gimana Mas bisa tidur kalau kamu kayak gini.''
"Ya udah Mas gak usah tidur kalau begitu."
"Dih!"
"Dasar Nakal ya! Hahahaha!'' Daren menyibakkan selimut tebal yang menutupi raga polos keduanya lalu melemparkan selimut tersebut sembarang hingga raga keduanya benar-benar terpampang nyata polos-sepolosnya.
"Mas Daren apa-apaan!?" teriak Nata meringkuk kedinginan.
"Salah kamu sendiri, selalu saja membuat Mas merasa gemas sama kamu. Jangan salahkan Mas kalau malam ini kita akan begadang semalaman!"
"Haaaa!''
Nata seketika berteriak kencang saat Daren melakukan hal sama kepadanya kini. Dia memejamkan kedua matanya merasakan gelombang kenik*atan yang tiada tara. Sepasang suami-istri itu benar-benar menikmati kebersamaan mereka sebagai pengantin baru.
Tidak ada kalimat yang cocok untuk menggambarkan betapa bahagia perasaan mereka saat ini. Malam ini benar-benar menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua. Tanpa rasa lelah dan tanpa henti-hentinya mereka pun terus saja melakukan hal itu.
Surga Nata ada bersama Daren, dan kebahagiaan Daren berada bersama Nata. Sungguh, Othor pun merasa iri menceritakan kebersamaan mereka berdua.
BERSAMBUNG
...****************...