
Nata mulai membuka kedua matanya. Mengedipkan pelupuknya secara perahan memaksa kelopaknya untuk terbuka sempurna. Kepalanya benar-benar merasa pusing.
Samar-samar terlihat wajah Daren berdiri tepat di samping ranjang. Nampak buram pada awalnya hingga Nata harus mengusap kedua matanya secara berkali-kali. Sampai akhirnya, pengelihatannya mulai normal, tapi bukan wajah tampan Daren yang dia lihat saat ini melainkan wajah Jude sang ayah.
"Da-ddy? Sedang apa Daddy di sini? Mas Daren mana?" tanya Nata dengan nada suara lemah.
"Daren sudah pulang, sayang."
"Pulang? Nggak, aku masih ingin bersama dia. Aku gak mau ikut Daddy ke luar kota.'' Nata tiba-tiba saja bangkit lalu duduk di atas ranjang. Dia bahkan menarik jarum infus dari pergelangan tangannya hingga darah segar pun seketika mengalir dengan begitu derasnya.
"Apa yang kamu lakukan, Natalia Agatha? Kondisi kamu masih belum pulih?"
"Aku gak peduli, aku mau Mas Daren. Aku benci sama Daddy, benci! Hiks hiks hiks!'' tangis Nata benar-benar pecah seketika itu juga.
"Daren telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kalian. Jadi, berhenti menyebut nama dia, Nata. Sadarlah, Nak. Dia bukan laki-laki yang pantas buat kamu!''
"Tidak, Mas Daren tidak mungkin mengakhiri hubungan kami begitu saja. Dia berjanji akan bicara 4 mata dengan Daddy! Daddy pasti bohong 'kan?"
"Daddy gak bohong, kita memang bicara 4 mata tadi. Dia telah mengakui kesalahannya. Dia bersalah karena telah mendekati kamu, karena dia kamu berubah menjadi anak yang pembangkang, berani melawan sama orang tua!"
"Tidaaaak! Aku benci sama Daddy. Bukan dia yang mendekati aku, tapi sebaliknya. Aku jadi seperti ini juga bukan karena dia tapi karena Daddy sendiri, andai saja Daddy tidak mempersulit hubungan kami mungkin aku gak akan jadi seperti ini. Daddy jahat, Daddy gak sayang sama aku.''
"NATALIA AGATHA!"
"HENTIKAN, APA YANG KAMU LAKUKAN MAS? Putri kita sedang sakit, berhenti berteriak sama dia. Ada apa denganmu, Mas. Kenapa kamu keras seperti ini? Benar kata Nata kamu jahat.'' Merry yang baru saja datang sontak merasa murka melihat suaminya membentak bahkan berteriak kepada putrinya, sebagai seorang ibu tentu saja dia merasa tidak terima meskipun yang melakukannya adalah ayahnya sendiri.
"Merry, bilang sama putri kamu yang keras kepala ini. Si Daren itu sudah sepakat sama Mas bahwa dia akan meninggalkan Nata. Dia tidak akan pernah menemui putri kita lagi, dan hubungan mereka pun sudah berakhir. Minggu ini kita akan pindah ke luar kota, tidak ada bantahan tidak penolakannya, titik,'' tegas Jude penuh penekanan, dia pun pergi begitu saja keluar dari dalam ruangan.
"Mom! Daddy pasti bohong 'kan? Gak mungkin Mas Daren memutuskan hubungan kami? Gak mungkin, Mom,'' rengek Nata memelas dengan tatapan mata sayu.
"Sayang, tenangkan dulu perasaan kamu. Mommy akan bicara sama Daren apakah semua yang dikatakan oleh Daddy kamu itu benar apa tidak. Lebih baik kamu istirahat saja dulu, jangan terlalu memikirkan masalah ini,'' lembut Merry sang ibu penuh kasih sayang.
"Tapi, Mom?"
Merry memeluk tubuh putrinya, dia pun mengusap punggungnya lembut dan penuh kasih sayang. Sungguh hati Merry benar-benar merasa sedih, melihat putri yang paling dia sayangi dalam keadaan sedih seperti ini membuat perasaannya pun ikut merasa terluka.
"Sayang, dengarkan Mommy. Apa kamu sayang sama Mommy?" tanya Merry lembut dan mulai mengurai pelukan.
Nata hanya menjawab dengan anggukan kecil seraya terisak.
"Apa kamu juga sayang sama Daddy mu?"
Nata diam seraya menundukkan kepalanya.
"Satu lagi, apa kamu percaya dengan yang namanya takdir?''
Nata mengangkat kepalanya lalu menatap wajah sang ibu merasa tidak mengerti.
"Kamu tahu, setiap manusia memiliki takdir masing-masing. Takdir kamu, takdir Daddy dan Mommy juga takdir Daren laki-laki yang kamu cintai itu. Begitu pun dengan jodoh, setiap manusia memiliki jodoh masing-masing yang telah disiapkan oleh Tuhan.''
"Pesan Mommy di sini, kalau kalian memang berjodoh Tuhan pasti akan mempersatukan kalian kembali. Kalau memang kalian berjodoh, sebesar apapun rintangan yang menghalangi cinta kalian pasti akan ada jalan keluarnya nanti. Jadi--''
"Sebenarnya Mommy mau mengatakan apa? Langsung saja ke intinya," sela Nata kemudian.
"Intinya di sini, kita tidak akan pernah bisa menentang keinginan Daddy kamu. Kita tahu betapa keras kepalanya dia. Percuma saja kita menentang dan buang-buang tenaga untuk melawan dia. Daddy mu gak akan pernah berubah pikiran. Jadi, serahkan saja semuanya sama takdir dan jodoh. Yakinlah, jika memang Daren itu jodoh kamu, kalian pasti akan bertemu lagi suatu saat nanti. Takdir pasti akan mempersatukan kalian kembali suatu saat ini. Kamu mengerti?"
Nata seketika memeluk tubuh sang ibu. Tangisnya pun kembali pecah memekikkan telinga. Apa yang baru saja di katakan oleh ibunya memanglah benar adanya. Tidak ada yang bisa menentang keputusan sang ayah, tapi tidak ada juga yang bisa melawan takdir, jika memang mereka ditakdirkan untuk berjodoh maka ayahnya sekalipun tidak akan pernah bisa menentang takdir.
"Maafkan aku, Mom. Maaf karena aku telah bersikap seperti anak kecil. Merengek-rengek meminta untuk dinikahkan dengan Mas Daren seolah dia itu adalah mainan. Sekali lagi aku minta maaf, hiks hiks hiks!" tangis Nata terdengar pilu.
"Iya, sayang. Mommy memaafkan kamu. Kamu adalah putri kami satu-satunya. Mommy sayang sekali sama kamu, sayang."
Nata menganggukkan kepalanya seraya tersenyum dipaksakan.
* * *
Satu Minggu berlalu. Nata dan keluarganya benar-benar pindah keluar kota. Selama satu Minggu ini, dia bahkan tidak bertemu sama sekali dengan sang duda pujaan hati seolah hubungan mereka benar-benar telah berakhir.
Baik Daren maupun Nata menyerahkan semuanya kepada Takdir, satu yang mereka yakini. Jika memang mereka berjodoh maka keduanya akan dipertemukan kembali suatu saat nanti.
Mobil pick up yang akan mengangkut barang-barang pun sudah penuh terisi. Mobil tersebut perlahan mulai meninggalkan halaman dan melaju menuju tempat tujuan. Sementara Nata dan kedua orang tuanya baru saja keluar dari dalam rumahnya bersiap untuk meninggalkan rumah tersebut.
"Nata!" Eden tiba-tiba saja berjalan menghampiri Nata beserta ayah dan ibunya.
"Eden,'' sapa Nata tersenyum kecil.
"Om, Tante. Boleh aku bicara sebentar dengan Nata? Aku janji gak akan lama, Om." Eden meminta izin dan hanya di jawab dengan anggukan datar oleh Jude sementara Merry menunjukan ekspresi wajah ramah. Mereka berdua meninggalkan Nata dan juga Eden kemudian.
"Daddy menitipkan ini buat kamu, Nat.'' Eden menyerahkan sepucuk surat kepada Nata.
"Apa ini?"
"Entahlah, kamu bisa baca nanti. Nata, aku berharap kalian bisa bersatu lagi. Aku benar-benar ingin kamu yang menjadi ibu sambungku, aku gak mau wanita lain. Aku berharap Om Jude akan berubah pikiran,'' rengek Eden dengan nada suara manja, jelas sekali terlihat bahwa dia merasa sedih harus berpisah dengan sahabatnya, terutama dia ikut bersedih untuk sang ayah yang harus berpisah dengan gadis yang paling dicintai oleh ayahnya tersebut.
"Dih, bukannya kamu menentang hubungan kami dahulu?" Nata tersenyum kecil.
"Itu kan dulu. Sekarang aku sadar, kalau kebahagiaan Daddy adalah kebahagiaan aku juga. Kesedihan Daddy kesedihan aku juga, dan kebahagiaan Daddy itu ada pada kamu, Nata. Eu ... Bolehkan aku memeluk kamu untuk terakhir kalinya rasanya sedih sekali harus berpisah denganmu, Nat."
Nata menganggukkan kepalanya lalu merentangkan kedua tangannya. Mereka pun berpelukkan untuk yang terakhir kalinya. Berat sekali bagi Eden untuk berpisah dengan sahabatnya itu. Hal yang sama pun dirasakan oleh Nata kini. Baginya, Eden bukan hanya sekedar teman, sahabat, atau pun tetangga dekat, tapi lebih dari itu Eden seperti seorang saudara baginya.
"Nata! Kita harus pergi sekarang!'' teriak Jude membuat Nata dan juga Eden seketika mengurai pelukan.
"Aku pergi dulu."
Eden menganggukkan kepalanya, kedua matanya nampak mulai berkaca-kaca. Dia tidak tahu bahwa rasanya akan sesakit ini ditinggalkan oleh sahabat terdekatnya.
"Jangan menangis, cengeng banget sih." Nata seraya berjalan mundur.
"Jaga diri baik-baik, Nat. Aku pasti akan merindukanmu, hiks hiks hiks!'' tangis Eden tiba-tiba saja pecah.
"Astaga, Eden. Kamu benar-benar kayak anak kecil!'' Nata balas berteriak sebelum dia mulai membuka pintu mobil lalu akhirnya masuk ke dalam sana.
Eden melambaikan tangannya, dia menatap mobil yang perlahan mulai dinyalakan lalu melaju meninggalkan area halaman dan melesat di jalanan kemudian.
"Aku harap kamu kembali lagi, Nat. Bukan sebagai Nata sahabatku tapi sebagai ibu tiriku," gumam Eden mengusap kedua matanya kemudian.
BERSAMBUNG
...****************...