
"Mas?" lirih Nata dengan kedua mata berkaca-kaca merasa haru.
Apa yang baru saja di ucapkan oleh Daren mampu menyentuh titik terdalam relung hati seorang Nata. Dia pun semakin yakin bahwa laki-laki inilah pelabuhan pertama dan juga pelabuhan terakhirnya. Selain karena dia sama sekali tidak pernah berpacaran dengan laki-laki lain. Dia pun tidak pernah mencintai laki-laki lain selain Daren, sang duda keren.
"Lebih baik sekarang kamu pulang dulu. Mas akan hubungi kamu lagi nanti."
Grep!
Bukannya menuruti keinginan sang kekasih, Nata segera memeluk tubuh Daren erat. Dia bahkan menyandarkan kepalanya di dada bidang laki-laki itu seraya tersenyum senang. Daren balas memeluk Nata juga menghadiahinya kec*pan di pucuk kepalanya kini.
Cup!
Kec*pan kecil yang mampu menyempurnakan kebahagiaan yang saat ini sedang dirasakan oleh Natalia Agatha. Dia pun memejamkan kedua matanya merasakan hangat dan nyaman berada di dalam depan Daren sang duda.
"Aku masih kangen padahal. Tapi, aku juga banyak tugas yang belum aku selesaikan,'' rengek Nata dengan suara manja seperti biasanya.
"Kapan-kapan Mas bantuin kamu ngerjain tugas, gimana? Mas juga masih kangen banget sama kamu sebenarnya."
"Beneran? Mas mau gitu bantuin aku ngerjain tugas kuliah?"
"Tentu saja mau. Biar kuliah kamu cepat selesai, biar kita bisa cepet-cepet menikah. Mas udah gak tahan pengen cepat-cepat belah duren,'' bisik Daren membuat Nata seketika langsung mengurai pelukan. Wajahnya pun memerah merasa malu tentu saja.
"Dih! Mas ini, situasi lagi genting kayak gini malah ngomongin belah duren. Gimana sih," decak Nata menyembunyikan senyuman di bibirnya kini.
"Genting? Emangnya kita lagi perang apa?"
"Iya, perang melawan si Eden, juga perang melawan orang tua aku nanti. Masih banyak hal yang belum kita selesaikan, sebelum mereka mengibarkan bendera putih itu berarti masih banyak PR untuk kita.''
Daren tersenyum lucu. Gadis kecilnya ini memang selalu pandai merangkai kata membuatnya terlihat begitu menggemaskan.
''Udah akh, aku pulang dulu. Muach ...'' pamit Nata, meng*cup kecil bibir Daren sebelum dia benar-benar keluar dari dalam rumah tersebut.
"Hati-hati sayang, Mas cinta kamu Nata sayang!'' teriak Daren.
"Dih kayak anak kecil aja sih," decak Eden berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Sontak, Daren sang ayah pun menoleh lalu menatap wajah Eden kemudian. Dia menghampiri putra semata wayangnya itu lalu meletakan telapak tangannya di pundak Eden. Namun, pemuda itu segera menepis telapak tangan sang ayah lengkap dengan tatapan mata tajam.
"Daddy ngerti kamu syok menerima kenyataan ini. Tapi--''
"Stop! Jangan bahas itu sekarang. Aku gak mau mendengar pembelaan dari Daddy. Walau bagaimanapun pun, Nata gak cocok jadi istri Daddy apalagi jadi Mommy aku. Manggilnya aja geli, 'Mommy Nata.' Ikh ... Ogah banget," gerutu Eden memutar bola mata kesal.
"Lama-lama kamu juga akan terbiasa nanti. Kamu tahu, Daddy cinta sama dia. Jika boleh jujur, Daddy tidak pernah mencintai wanita lain secinta ini. Kalau kata anak muda istilahnya itu bucin, iya bucin. Daddy bucin banget sama dia. Beneran deh."
"Kalau kamu ingin tahu, biasanya wanita-wanita yang kebucinan sama Daddy. Tapi sama Nata beda, malah Daddy yang bucin habis sama dia. Dia adalah istri idaman Daddy, juga calon Mommy yang baik untuk kamu, Ed."
"NGGAK, SEKALI NGGAK TETAP NGGAK. TITIK GAK PAKE KOMA, OKE?"
Daren mengusap wajahnya kasar. Harus bagaimana lagi meyakinkan putranya itu bahwa Nata 'lah wanita yang paling cocok untuk menjadi istrinya. Hanya gadis itu yang dia inginkan saat ini. Sepertinya akan sulit untuk membuat Eden menyerah dan mengibarkan bendera putih. Peperangan masih berlanjut entah sampai kapan.
"Baiklah, kalau kamu masih seperti ini. Tidak masalah, toh Daddy gak butuh izin kamu untuk mencintai siapapun. Hak Daddy dong itu, hak Nata juga untuk mencintai Daddy. Kalau kamu tidak mau menyerah, Daddy juga gak akan pernah menyerah. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang. Oke?'' tegas Daren lalu pergi begitu saja dari hadapan Eden.
"TERSERAH DADDY AJA, AKU GAK PEDULI," teriak Eden, tapi diabaikan oleh Daren tentu saja.
* * *
Satu bulan kemudian.
Eden benar-benar mengabaikan Nata. Dia bahkan sudah melakukannya selama satu bulan lamanya. Tidak ada lagi kata sahabat di antara mereka. Nata bahkan sudah berkali-kali memberikan penjelasan dan mencoba untuk meminta maaf kepada sahabatnya itu, tapi hasilnya masih tetap sama yaitu, diabaikan.
Di kampus pun Eden melakukan hal yang sama. Mereka yang biasanya selalu nempel bak perangko kini tidak terlihat lagi bersama. Keduanya benar-benar seperti orang asing sekarang.
Nata nampak berjalan gontai sendirian, ya hanya sendirian. Tidak ada Eden lagi di sisinya, tidak ada Eden lagi yang selalu menemani hari-harinya. Dia pun seketika tersenyum senang saat melihat Daren sang kekasih duduk di kap mobil miliknya yang dia parkir di tepi jalan. Gadis itu pun segera mempercepat langkah kakinya dan menghampiri Daren kemudian.
"Mas? Kenapa gak bilang kalau mau jemput aku ke sini?" tanya Nata sesaat setelah dia sampai di hadapan Daren.
"Mas memang sengaja pengen ngasih kejutan buat kamu, sayang."
"Euuh ... So sweet deh, makasih ya Mas ku sayang.''
"Sama-sama. O iya, Eden mana? Kalian gak barengan?"
"Dih, Mas ini. Apa Mas lupa kalau dia masih marah sama aku?"
"O iya, Mas sampai lupa kalau dia masih belum mengibarkan bendera putih," decak Daren kemudian.
"Hai, Nat."
Tiba-tiba dua orang mahasiswi menghampiri mereka berdua. Keduanya pun berdiri tepat di samping Nata dengan mata yang menatap Daren dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan mengintimidasi.
"Jadi benar ya gosip selama ini, kalau kamu punya sugar Daddy?" Celetuknya membuat Nata merasa kesal tentu saja.
BERSAMBUNG
...****************...