MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
MHD season 2



Eden menatap wajah Jackie dengan bola mata memerah. Dia teringat akan ucapan sang ayah yang mengatakan bahwa, Airin mendiang istrinya melahirkan anak ini penuh dengan pengorbanan bahkan kehilangan nyawanya. Mendiang istrinya pasti akan merasa sangat terluka apabila dia tahu bahwa buah hati mereka dia sakiti bahkan dia benci selama ini.


"Kaka Eden," sapa Jackie seraya menatap wajah Eden dengan ekspresi wajah polos, "Kenapa berdiri di situ? Masuk saja, Kaka mau menemani aku main?" tanya Jackie membuat Eden merasa tercengang.


Bagaimana bisa anak ini masih bisa bersikap ramah setelah apa yang sudah dia lakukan kepadanya? Bagaimana anak ini bisa melupakan perlakuan buruk yang pernah dia lakukan selama ini? Hati seorang Eden dihujani berbagai penyesalan yang terasa menyesakan dada.


"Kenapa kamu main sendirian? Si kembar mana?" tanya Eden berjalan menghampiri dengan perasaan campur aduk.


"Si kembar sudah tidur, katanya mereka ngantuk," jawab Jackie seraya mengusap ke dua matanya.


"Kamu belum tidur? Ini udah malam lho, besok 'kan kamu harus sekolah," tanya Eden seketika duduk di tepi ranjang. Ke dua matanya menatap sayu wajah Jackie darah dagingnya sendiri.


"Aku nungguin Daddy, biasanya Daddy selalu menemaniku sampai aku tidur," jawab Jackie seraya merapikan mainan yang sedang dia mainkan, "Tumben malam ini Daddy gak ke sini, padahal aku sudah ngantuk sekali."


"Kamu mau ditemani tidur sama Kaka?" tanya Eden membuat Jackie seketika tersenyum lebar.


"Mau, Kak. Mau," sahut Jackie seketika merasa senang, "Tapi ko tumben Kaka mau menemani aku tidur?"


Eden tersenyum kecil seraya mengusap kepala Jackie lembut, "Maafkan Kaka, Jack. Selama ini Kaka selalu bersikap kasar sama kamu, Kaka ngaku salah," lirih Eden bola matanya tiba-tiba saja kembali berair, "Kaka janji gak akan pernah kasar lagi sama kamu, Kaka akan memperlakukan kamu sama seperti si kembar mulai sekarang."


Grep!


Jackie tiba-tiba saja memeluk tubuh kekar seorang Eden. Perasaannya benar-benar merasa bahagia entah mengapa. Sudah lama sekali anak itu ingin bercengkrama dengan laki-laki yang dia kira adalah Kakaknya, padahal laki-laki ini sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri.


Eden balas memeluk tubuh kecil Jackie. Buliran bening seketika jatuh tanpa terasa. Hatinya tiba-tiba saja terasa lega, bahkan sangat lega. Dia seolah baru saja melepaskan beban berat yang selama ini menghimpit dada juga terasa menyiksa.


'Maafkan Daddy, Nak. Maafkan Ayahmu ini, Daddy telah membenci kamu selama 5 tahun ini. Daddy bahkan mengabaikan kamu dan tidak pernah menganggap kehadiran kamu di dunia ini, Daddy menyesal, Nak. Sungguh,' batin Eden mengecup pucuk kepala sang putra lembut dan penuh kasih sayang.


Tanpa sadar, ada sepasang mata yang sedang menyaksikan pemandangan yang sangat mengharukan itu. Ya, dia adalah Daren. Laki-laki itu berdiri di belakang pintu yang sedikit terbuka. Ke dua matanya bahkan membanjir tidak kuasa menahan rasa harunya. Daren mengucap beribu-ribu syukur di dalam hatinya.


'Terima kasih Tuhan. Hamba benar-benar berterima kasih karena Engkau telah menyadarkan putra hamba yang satu ini. Akhirnya Eden menyadari betapa berharganya Jackie. Semoga saja dia sadar sepenuhnya dan dapat menyayangi anak ini selayaknya anak sendiri,' batin Daren seraya menyeka air mata yang membanjiri wajahnya.


* * *


Daren kembali ke kamarnya usai menyaksikan sendiri Eden memeluk Jackie juga meminta maaf kepada anak itu. Perasaan Daren benar-benar merasa bahagia, tapi air mata itu tidak berhenti bergulir dari pelupuk matanya.


"Mas, kamu kenapa? Kamu nangis?" tanya Nata seraya menatap wajah suaminya yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Memangnya ada apa? Tumben sekali Mas nangis kayak gini? Apa terjadi sesuatu di kantor?" tanya Nata seketika mengerutkan kening.


"Eden, sayang. Dia--" Daren tidak kuasa untuk meneruskan ucapannya. Perasaanya terlalu bahagia membuatnya kesulitan untuk berkata-kata.


"Ada apa dengan si Eden? Apa dia membentak Jackie lagi? Memarahi dia lagi?"


Daren menggelengkan kepalanya. Laki-laki itu tiba-tiba saja memeluk tubuh Nata juga terisak seraya mendekap tubuh istrinya tercinta.


"Eden, sudah membuka hatinya untuk Jackie," lirih Daren seraya tersenyum juga menangis secara bersamaan.


Nata seketika mengurai pelukan, "Mas serius? Kamu tidak sedang mengigau, kan?" tanya Nata antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya, "Eden membuka hatinya untuk Jackie? Maksudnya Mas, Eden putra kamu mulai menerima Jackie, begitu?"


"Bukan hanya mulai, tapi sudah menerima. Mas melihat dengan ke dua mata Mas sendiri Eden memeluk Jackie di kamarnya," jelas Daren menatap lekat wajah istrinya, "Dia bahkan meminta maaf kepasa Jackie, ini seperti sebuah mukjizat, sayang. Mas benar-benar senang sekali, sangat senang."


Nata seketika menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya sendiri. Ke dua matanya pun mulai berkaca-kaca. Sama halnya seperti sang suami, Natalia Agatha benar-benar merasa terharu. Dia tahu lebih dari siapapun seperti apa Eden memperlakukan Jackie selama ini.


"Aku senang sekali mendengarnya, Mas. Akhirnya Eden menerima Jackie sebagai darah dagingnya," lirih Nata seraya tersenyum kecil.


"Iya, sayang. Sepertinya kita harus merayakan moment bahagia ini," sahut Daren.


"Merayakan?" Nata seketika mengerutkan kening.


"Tadi siang 'kan kita gagal bercinta. Bagaimana kalau malam ini--" Daren menahan ucapannya seraya mengusap wajah istrinya lembut.


"Hmm! Dasar," decak Nata seketika menahan senyuman di bibirnya.


Blug!


Daren segera menjatuhkan tubuh istrinya di atas ranjang hingga dia berbaring terlentang. Tanpa basa-basi lagi, dia segera menerkam tubuh istrinya buas dan tidak sabaran.


"Pelan-pelan, Mas. Sabar, astaga!"


BERSAMBUNG