MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Tuduhan



Daren membulatkan bola matanya saat melihat Jude berdiri di sebrang sana. Tatapan mata Jude nampak menatap tajam wajah Daren lengkap dengan wajah masam juga menunjukan rasa tidak sukanya melihat sang putri yang tiba-tiba saja keluar dari dalam mobil sang duda.


Apakah wanita yang waktu itu dibicarakan oleh Daren adalah putrinya sendiri? Gadis muda yang menjadi kekasih dari laki-laki yang memiliki usia yang sama dengannya itu adalah Natalia Agatha? Sungguh kenyataan yang sulit untuk diterima.


"Dari mana kamu Nata? Jangan bilang kalau kamu habis bermalam dengan Daren di hotel?" tuduh Jude murka.


"Hah? Nggak, Dad. Bukan seperti itu yang terjadi di antara kami," jawab Nata dengan nada suara gugup. Dia tidak pernah melihat wajah sang ayah semurka itu.


"Biar aku yang jelaskan. Kami tidak seperti yang kamu tuduhkan, Jude." Sela Daren mencoba untuk menjelaskan.


"Lalu dari mana kalian pagi-pagi begini pulang bersama? Dari manaaaa!?" teriak Jude benar-benar merasa murka.


"Dad, kami hanya--''


"Hanya apa, Nata? Hanya apa?! Jadi begini kelakukan kamu di belakang Daddy? Kamu menginap di luar dengan seorang laki-laki? Apa seperti ini yang Daddy ajarkan sama kamu selama ini? Apa pernah Daddy mengajarkan kamu buat main bersama om-om kayak dia?"


"Tunggu, Jude. Jangan salah paham dulu, semua yang kamu tuduhkan itu salah. Kami tidak melakukan apapun, kami menginap di Villa ku yang ada di puncak, tapi sumpah demi apapun kami tidak melakukan hal yang tidak senonoh, aku berani bersumpah demi nyawaku sendiri," tegas Daren penuh penekanan.


"Apa kamu pikir aku akan percaya dengan ucapan kamu, Daren? Kamu itu duda, berduaan bersama seorang gadis di dalam Vila? Siapa yang akan percaya kalau kalian tidak melakukan apapun? Kamu pikir aku ini bodoh, hah?"


"Dad--" gumam Nata.


"Diam kamu, masuk ke kamu ke dalam sekarang juga. Cepat!" Jude menghampiri putrinya lalu menarik pergelangan tangannya kasar hendak membawanya masuk ke dalam rumahnya.


"Argh ... Pelan-pelan, Dad. Sakit," ringis Nata.


"Jude, aku mohon jangan kasar seperti itu sama putri kamu sendiri. Dia gak salah, aku yang salah!'' teriak Daren, tapi diabaikan oleh Jude tentu saja.


Ceklek!


Blug!


Pintu rumah di buka lebar lalu di tutup kembali setelah Jude dan putrinya masuk ke dalam rumah tersebut. Jude bahkan menarik putrinya itu ke lantai dua dan segera membawanya masuk ke dalam kamarnya.


Blug!


Laki-laki itu menghempaskan kasar tubuh Nata ke atas ranjang. Sebagai seorang ayah, tentu saja dirinya merasa kecewa mendapati putri semata wayangnya bermalam dengan seorang pria, terlebih lagi pria itu seorang duda yang tentunya membutuhkan belaian seorang wanita.


"Dad, aku sama sekali tidak melakukan apapun sama Mas Daren, hiks hiks hiks!" rengek Nata duduk di atas ranjang.


"Mas Daren? Sejak kapan kamu memanggil dia dengan sebutan Mas? Apa kalian pacaran? Jawab Nata!" teriak sang ayah membuat Nata merasa ketakutan.


"I-iya, Dad."


"Apa? Gila kamu Nata, kamu gak lihat dia itu sudah tua? Umur si Daren itu bahkan seumuran Daddy. Kamu tidak pantas bersanding dengan dia, masih banyak pemuda yang lebih pantas buat kamu. Kenapa harus di Daren? Kenapaaaa?''


"Karena aku mencintai dia, Dad."


Nata diam seraya menundukkan kepalanya. Air mata pun mengalir begitu saja dari kedua pelupuknya kini. Baru kali ini Jude sang ayah membentak bahkan murka seperti ini kepada dirinya. Sungguh perasaan Nata benar-benar merasa sangat terluka.


"Pokoknya, Daddy gak akan pernah setuju kamu sama laki-laki itu. Titik!" teriak sang ayah lagi penuh penekanan.


"Tapi, Dad. Dia laki-laki yang baik. Sebagai sahabatnya, seharusnya Daddy lebih tahu dari pada aku siapa Mas Daren sebenarnya!"


"Iya, Daddy tahu siapa dia. Tentu saja Daddy tahu betul siapa dia. Si Daren itu suka mempermainkan perasaan wanita. Dia juga sering gonta-ganti pacar bahkan tidak segan mencampakkan wanita itu ketika dia sudah puas menidurinya."


"Tidak, Dad. Mas Daren tidak seperti itu. Aku yakin sekali kalau dia laki-laki yang baik. Terutama buat aku, hiks hiks hiks!''


"Tahu apa kamu tentang dia, hah? Apa jangan-jangan kamu juga pernah tidur dengan dia? jawab dengan jujur Natalia Agatha!"


"Ada apa ini, Mas? Kenapa Mas teriak-teriak seperti itu sama putri kita?'' Merry ibunda Nata masuk ke dalam kamar dan segera memeluk tubuh putrinya yang saat ini menangis sesenggukan di atas ranjang.


"Kamu tahu putri kamu ini menginap di mana semalam?"


Merry hanya terdiam seraya memeluk tubuh Nata sang putri.


"Dia menginap di Villa sama si Daren tetangga kita," tegas Jude dengan suara lantang.


"Apakah benar yang dikatakan Daddy kamu, sayang?" Merry mengurai pelukan lalu menatap wajah Nata kemudian.


"Tapi kami tidak melakukan apapun, Mom. Aku berani bersumpah demi apapun, hiks hiks hiks!" jawab Nata diiringi dengan suara tangisan.


"Lebih baik Mas keluar dulu biar aku yang bicara berdua dengan Nata," pinta sang ibu ingin berbicara dari hati ke hati dengan Putri kesayangannya itu.


"Bilangin sama putri kamu ini. Kalau sampai kapan pun aku aku gak akan pernah mengijinkan dia berpacaran dengan si Daren apalagi sampai menikah dengannya." Ucapan terakhir Jude sebelum dia benar-benar keluar dari dalam kamar tersebut.


Blug!


Pintu kamar bahkan di tutup secara kasar setelah Jude keluar dari dalamnya.


Sepeninggal suaminya, Merry mencoba untuk berbicara baik-baik dengan Nata putri satu-satunya yang dia punya. Dia menatap wajah sang putri yang saat ini menundukkan kepalanya seraya menangis sesenggukan setelah dimarahi sedemikan rupa oleh suaminya.


"Katakan sama Mommy, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Daddy kamu sampai marah seperti ini? Sebenarnya semalam kamu menginap di mana, sayang?" tanya Merry lembut tidak seperti Jude suaminya.


Nata menceritakan prihal hubungan percintaannya dengan Daren sang duda. Dari awal sampai akhir tidak ada satupun yang dia lewatkan diiringi dengan suara tangisan juga diiringi dengan helaan napas yang berhembus tidak beraturan. Dadanya pun terlihat naik turun menahan rasa sesak.


"Tolong bilangin sama Daddy, Mom. Aku cinta sama Mas Daren. Hanya dia laki-laki yang ingin aku nikahi, aku gak bisa hidup tanpa dia, hiks hiks hiks!" ucapan terakhir Nata sebelum dia akhirnya memeluk kembali tubuh sang ibu berharap bahwa ibundanya itu akan mengerti perasaanya.


BERSAMBUNG


...****************...