MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Mempertimbangkan



Setelah membalut luka kecil akibat pecahan piring yang menembus kulit Nata, Daren menghampiri Eden sang putra yang masih saja berpura-pura memejamkan kedua matanya. Sebenarnya, Daren tahu betul bahwasanya putranya itu Tidak sungguh-sungguh tertidur, Daren hanya ingin fokus kepada luka di telapak tangan Nata kekasihnya.


"Eden, apa kamu sudah makan?" tanya Daren berdiri tepat di samping ranjang.


Eden bergeming. Dia hanya memutar badan lalu memunggungi ayahnya tersebut.


"Sudahlah, jangan berpura-pura lagi. Daddy tahu kamu gak tidur sama sekali,'' ucap Daren membuat pemuda itu terpaksa membuka kedua matanya lalu memutar kembali tubuhnya.


"Eh ... Ada Daddy. Kapan Daddy datang? Huaaaa ... Tidurku nyenyak sekali," tanya Eden membuka mulutnya lebar-lebar, lebih tepatnya hanya berpura-pura tentu saja.


"Kamu udah makan belum? Daddy nanya lho dari tadi.''


"Daddy nanya? Aku kirain hanya ngomong biasa. Eu ... Udah ko, Dad. Aku udah makan tadi. Ya ... Meskipun makanan Rumah Sakit gak enak sama sekali, tapi teman aku yang cerewet itu memaksaku buat makan, nyebelin ...'' jawab Eden melirik ke arah Nata kemudian.


"Bagus deh, Daddy harap kamu cepat sembuh dan jangan banyak tingkah. Kamu tahu Daddy sibuk di kantor.''


"Baik, Dad. Aku janji gak akan banyak tingkah, sebenarnya--"


"Sebenarnya apa?"


"Nggak ko, gak apa-apa. Aku ngantuk, Dad. Mau tidur dulu sebentar.''


"Ya sudah kamu tidur aja. Daddy mau beresin bekas ulah kamu itu, dasar anak gak sopan," ketus Daren.


'Jadi Daddy sebenarnya tahu bahwa aku yang menumpahkan makanan itu? Tapi, dia sama sekali gak marah?' (batin Eden).


Daren memutar badan hendak membersihkan sisa makanan yang semula berserakan di atas lantai. Namun, laki-laki itu seketika terkejut saat melihat lantai sudah bersih dan Nata pun keluar dari dalam kamar tersebut. Dia pun hendak mengejar gadisnya itu, tapi Daren seketika menghentikan langkah kakinya saat Eden sang putra tiba-tiba saja meraih pergelangan tangannya kini.


"Dad ...'' rengek Eden terdengar manja.


"Apa? Gara-gara kamu calon istri Daddy sampai terluka kayak gitu. Kamu gak kasian apa sama dia? Seharian ini dia berada di sini buat nemenin kamu lho. Tega banget kamu. Cinta kami terhalang restu kamu, Ed. Kamu benar-benar kejam,'' ucap Daren penuh drama.


"Daddy lebay deh. Gak perlu sampai kayak gini kali. Kebanyakkan nonton drama nih, Daddy. Aku minta maaf deh, aku juga bakalan pertimbangan hubungan Daddy sama pacar Daddy yang centil itu.''


"Hah? Kamu serius? Beneran, Ed? Kamu bakalan ngerestuin hubungan Daddy sama pacar Daddy yang cantik itu?" Daren tersenyum lebar.


"Mempertimbangkan ya, belum benar-benar merestui. Jangan GR dulu,'' Eden penuh penekanan.


Grep!


Daren seketika memeluk tubuh Eden yang saat ini dalam keadaan berbaring membuat Eden seketika meringis kesakitan merasa sesak tentu saja. Akan tetapi, Eden merasa bahagia melihat ayahnya begitu bahagia. Dia pun sadar, bahwa kebahagiaan ayahnya adalah kebahagiaan dia juga, dan kebahagiaan sang ayah adalah segala-galanya bagi pemuda yang memiliki usia yang sama dengan calon istri ayahnya itu.


"Maaf-maaf, Daddy gak sengaja. Daddy benar-benar senang, sayang. Makasih karena kamu telah mempertimbangkan untuk merestui hubungan kami,'' ucap Daren dengan senyuman yang mengembang sempurna dari kedua sisi bibirnya kini.


Ceklek!


Pintu ruangan pun di buka. Nata masuk ke dalam kamar menatap wajah Mas dudanya dengan perasaan heran. Dia pun menatap ke arah Eden yang wajahnya sudah terlihat lebih ramah dari sebelumnya.


"Ada apa dengan kalian? Apa terjadi sesuatu? Atau, kalian sedang membicarakan aku?'' tanya Nata berjalan menghampiri.


"Ini lho, Nat. Eden dia--"


"Aku minta maaf karena telah berbuat kasar sama kamu tadi, jarimu sampai terluka segala. Aku menyesal, Nat," sela Eden membuat Daren tidak menyelesaikan ucapannya.


"Oh itu, gak apa-apa ko. Aku juga baik-baik aja,'' jawab Nata tersenyum ramah lalu berdiri tepat di samping Daren sang kekasih.


Sementara Daren. Dia menatap wajah Eden dan juga kekasih tercintanya secara bergantian. Hatinya benar-benar merasa bahagia. Akhirnya, kesabaran Nata membuahkan hasil, Eden sang putra mengibarkan bendera putih dan perang pun berakhir dengan berdamai.


* * * *


Tiga Bulan Kemudian.


Sikap Eden kepada Nata sudah mulai melunak. Nata bahkan sudah tidak segan untuk memasakan sesuatu untuk calon suami juga calon putra sambungnya. Mereka bertiga benar-benar terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


Saat ini Daren sengaja bertamu ke rumah Nata. Dia akan berbicara secara langsung kepada Jude ayah gadisnya itu yang juga sahabatnya sendiri. Dengan mengenakan kemeja berwarna putih dan rapi, Daren mulai mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


Pintu pun di ketuk dan di buka kemudian. Daren tersenyum menatap calon besannya yang saat ini berdiri tepat di belakang pintu. Namun, dia seketika merasa heran karena di dalam sepertinya sedang ada tamu yang tidak dia kenal.


"Daren? Tumben ke sini?" tanya Jude menatap sahabatnya itu dari ujung kaki hingga ujung rambut yang terlihat rapi tidak seperti biasanya.


"Iya, ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu, Jude. Sepertinya sedang ada tamu ya?"


"Oh itu, mereka teman lamaku. Rencananya aku akan menjodohkan Nata dengan putranya."


BERSAMBUNG


...****************...