
Jackie menyadarkan kepalanya di pundak Eden dengan perasaan senang. Hatinya pun seketika merasa tenang berada di dekapan laki-laki yang sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri. Sepertinya, ikatan batin di antara ayah dan anak itu tidak dapat berbohong. Ikatan yang hanya dapat di rasakan oleh Jackie, tapi tidak di sadari oleh Eden.
Laki-laki itu seolah tidak sadar dengan apa yang sedang dia lakukan. Semuanya seolah mengalir begitu saja tanpa di rencanakan. Dia berjalan dengan menggendong Jackie hingga mereka tiba di lantai dasar.
Kebetulan sekali, Daren baru saja tiba di kantor usai mengadakan meeting dengan klien penting. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan melihat pemandangan langka yang menyejukkan mata.
"Eden," gumam Daren menatap putranya yang saat ini sedang menggendong Jackie.
Seuntas senyuman terukir dari ke dua sisi bibir Daren. Tanpa sadar, ke dua matanya pun mulai berkaca-kaca merasa haru. Akhirnya dirinya dapat melihat Eden menggendong tubuh mungil Jackie, pemandangan yang tidak pernah dia lihat selama ini.
"Daddy!" teriak Jackie.
Anak itu melihat tubuh Daren dari kejauhan. Eden sontak menurunkan tubuh anak itu seolah dirinya baru saja tersadar dari lamunan panjang.
'Astaga, kenapa saya jadi gendong anak ini sih?' batin Eden seketika mengusap wajahnya kasar.
"Sayangnya, Daddy. Kenapa kamu bisa ada di sini, Nak?" tanya Daren segera berjalan menghampiri lalu meraih tubuh Jackie dan menggendongnya kemudian.
"Akhirnya Daddy datang juga," sahut Eden seraya menatap lekat wajah sang ayah, "Daddy antarkan dia pulang ya, saya sibuk."
Eden pergi meninggalkan sang ayah begitu saja bahkan sebelum Daren sempat mengatakan sepatah katapun. Daren hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan tingkah sang putra yang sulit di tebak.
"Dad, aku lapar," rengek Jackie dengan nada suara manja.
"Apa Kaka Eden tidak memberi kamu makan?" tanya Daren seketika mengerutkan kening.
"Tidak," jawab Jackie singkat.
Dia menyandarkan kepalanya di pundak Daren yang sebenarnya adalah Kakeknya bukanlah ayahnya seperti yang selama ini dia kira.
"Ya sudah kita makan dulu, setelah itu Daddy akan mengantarkan kamu pulang, oke?"
Jackie menganggukkan kepalanya samar.
* * *
Sementara itu di ruangannya, Eden nampak sedang menatap potret wajah Airin yang selalu dia simpan di laci meja kerjanya. Photo tersebut adalah pengobat rasa rindu bagi Eden.
"Kenapa saya baru menyadari bahwa wajah Jackie mirip sekali dengan kamu, Airin," gumam Eden mengusap gambar wajah Airin yang terlihat begitu mirip dengan wajah Jackie putra mereka.
Ceklek!
Pintu ruangan tiba-tiba saja di buka tanpa di ketuk. Michel sekretarisnya masuk ke dalam ruangan membuat Eden seketika merasa terkejut.
"Astaga, Michel. Saya 'kan sudah pernah bilang sama kamu, kalau masuk ke dalam ruangan saya itu ketuk pintu dulu," decak Eden merasa kesal, "Kalau saya sedang buka baju, atau saja sedang tidak berpakaian, gimana?"
Michel seketika menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali. Untuk apa atasannya ini melepas pakaiannya di dalam kantor? Michel menggelengkan kepala larut dalam lamunannya sendiri.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu dengar 'kan apa yang saya katakan?" tanya Eden mulai menaikan suaranya.
"Iya, Pak. Saya dengar ko," jawab Michel seketika memasang wajah serius.
"Terus apa, Pak Bos?" Michel balas bertanya dengan wajah polosnya.
"Terus kamu masuk ke dalam ruangan saya mau apa?"
"O iya, saya lupa. Eu ... saya mau memberikan laporan hasil meeting kita tadi pagi, Pak Bos," jawab Michel seraya meletakan map berwarna coklat berisi laporan yang dia buat.
"Oke, akan saya periksa nanti," jawab Eden dengan wajah datar.
Tatapan mata Michel tertuju kepada bingkai photo yang berada di atas meja. Dia berpikir bahwa potret wanita di dalam bingkai tersebut adalah kekasih atasannya.
"Itu photo pacarnya Pak Bos ya?" tanya Michel dengan begitu polosnya.
"Siapa, ini?" tanya Eden meraih bingkai tersebut lalu memperlihatkannya kepada sang sekertaris.
"Iya itu. Pacarnya Pak Bos cantik."
"Dia bukan pacar saya."
Michel seketika mengerutkan kening.
"Ini adalah photo istri saya."
"O ya?"
"Iya, istri yang sangat saya cintai, tapi--"
"Tapi apa, Pak Bos?" tanya Michel tiba-tiba saja merasa penasaran.
"Tapi dia sudah pergi meninggalkan saya."
"Apa? Ko bisa? Wanita seperti apa yang meninggalkan suami setampan Anda, sebaik dan semapan Anda, Pak Bos? Dasar wanita tidak tahu diri," sahut Michel dengan begitu polosnya.
Eden seketika memejamkan ke dua matanya. Jujur, dirinya benar-benar merasa tidak terima ketika sekretarisnya ini mengatakan hal yang tidak baik tentang mendingan istrinya. Namun, dia mencoba untuk menahan emosinya karena Michel memang tidak tahu bahwa Airin telah pergi untuk selamanya.
"Hati-hati kamu kalau bicara, Michel," ujar Eden seraya memasukan bingkai photo tersebut ke dalam laci meja, "Istri saya pergi bukan karena dia ingin, tapi karena Tuhan telah menjemput dia terlebih dahulu."
Michel tentu saja merasa terhenyak. Dia menutup mulut menggunakan telapak tangannya sendiri dengan ke dua mata yang di buka lebar. Bisa-bisanya bibir merahnya ini mengatakan hal yang tidak baik tentang orang yang telah meninggal?
"A-apa? Eu ... maafkan saya, Pak Bos. Saya tidak tahu kalau--" Michel menahan ucapannya seraya menunduk merasa menyesal.
"Lupakan, masalah ini tidak usah di bahas," jawab Eden santai, "Lain kali kalau kamu mau masuk ke dalam ruangan saya, kamu harus, wajib, kudu, mengetuk pintu terlebih dahulu, paham?"
"Pa-paham, Pak Bos. Sekali lagi saya mohon maaf atas ucapan saya tadi. Saya tidak bermaksud untuk menjelekan mendiang istri Anda."
'Kalau Pak Bos berkenan, izinkan saya mengisi kekosongan di dalam hati Anda, Pak Bos,' batin Michel penuh harap.
BERSAMBUNG