
Nata berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia mencari cara agar perjodohan ini bisa dibatalkan. Namun, dirinya masih belum siap jika harus mengatakan bahwa pacarnya adalah Daren yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat ayahnya sendiri.
Seperti sudah jatuh tertimpa tangga, ponsel canggih miliknya tiba-tiba saja rusak dan tidak bisa lagi digunakan, membuatnya sama sekali tidak bisa menghubungi Daren kekasih pujaan hatinya. Nata mengigit ujung kuku jempolnya merasa gelisah.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu yang di ketuk seketika membuyarkan lamunan Natalia Agatha. Dia berjalan ke arah pintu lalu membukanya kemudian.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka dan Nata berdiri tepat di belakang pintu. Dia menatap wajah sang ayah yang saat ini masuk ke dalam kamarnya. Senyuman kecil pun mengembang dari kedua sisi bibir ayahnya itu.
"Kenapa kamu masih di sini? Keluar yu, sayang,'' pinta sang ayah.
"Eu ... Dad--" rengek Nata dengan nada suara manja.
"Kenapa, sayang? Apa kamu akan menolak perjodohan ini? Kalau iya, katakan alasannya? Atau, kamu memang sudah punya pacar?"
Nata diam seribu bahasa seraya menundukkan kepalanya tidak tahu harus menjawab apa.
"Bukankah lebih baik kalau kamu kenalan dulu sama putranya teman Daddy itu. Dia tampan lho, baik lagi."
"Tapi, Dad--"
"Sudah, keluar saja dulu kenalan sama dia. Kalau kamu merasa tidak cocok, kamu boleh menolak perjodohan ini. Daddy gak akan pernah memaksa kamu untuk menikahi laki-laki yang tidak kamu cintai."
Nata menganggukkan kepalanya lalu keluar dari dalam kamar bersama sang ayah. Hatinya benar-benar dilanda dilema, bukan karena perjodohan ini, bukan juga karena dia merasa khawatir sang ayah akan merasa kecewa karena dia menolak laki-laki yang dipilihkan olehnya, tapi dia takut Daren sang duda akan salah paham nantinya.
'Maafkan aku Mas sayang. Aku terpaksa menemui laki-laki lain, tapi aku janji akan menolak perjodohan ini. Maaf juga karena aku masih belum bisa mengatakan yang sejujurnya kepada Daddy bahwa pacar aku sebenarnya adalah Mas, Mas Daren ku,' (batin Nata).
* * *
Bukan hanya Nata yang saat ini sedang dilanda dilema. Daren pun merasakan hal yang sama kini. Dirinya berdiri tepat di depan jendela yang dengan sengaja dia buka lebar, berharap Nata pun akan melakukan hal yang sama di sebrang sana.
Pucuk di cinta bulan pun tiba. Nata benar-benar membuka jendela kamarnya juga berdiri tepat di depan jendela sama seperti yang saat ini dia lakukan. Daren sontak melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar.
"Keluar sekarang, tunggu Mas di sebrang," pinta Daren tanpa mengeluarkan suara.
"Hah?" Nata sama sekali tidak mengerti dengan apa diucapkan oleh kekasihnya itu.
'TUNGGU MAS DI PERSIMPANGAN JALAN ... ADA YANG INGIN MAS BICARAKAN'.
Daren segera menuliskan apa yang ingin dia sampaikan lalu mengangkatnya ke udara. Nata pun dapat membaca dengan jelas tulisan tersebut dan segera menganggukkan kepalanya. Gadis itu segera menutup jendela saat itu juga.
"Gadis ini, main langsung tutup-tutup aja tuh jendela. Padahal masih ada yang ini saya katakan sama dia," decak Daren melakukan hal yang sama kini.
Dia pun meraih jaket jeans lalu memakainya dan segera berlari keluar saat itu juga. Tanpa di sangka, hujan pun tiba-tiba saja turun. Daren merasa khawatir sebenarnya, apakah Nata sudah berada di persimpangan jalan, atau tidak? Mengingat hujan yang tiba-tiba saja turun dengan begitu derasnya.
Tanpa berpikir panjang lagi, sang duda pun segera menuju mobil dengan menerobos derasnya air hujan. Mesin mobil pun dinyalakan dan melesat kemudian.
Ckiiit!
Setibanya di tempat yang dijanjikan, Daren segera melipir dan menghentikan laju mobilnya. Tanpa di sangka, gadis itu sudah berada di sana dengan pakaian yang sepenuhnya basah. Tentu saja sang duda segera membuka pintu mobil dan memintanya untuk masuk ke dalamnya.
"Astaga, Nata. Kenapa kamu gak bawa payung? Hujan 'kan? Basah semua lho pakaian kamu," decak Daren segera membuka jaket yang dikenakannya lalu hendak melingkarkan di pundak kekasihnya itu.
"Jangan kayak gini, Mas. Percuma," tolak Nata kemudian.
"Lho, kenapa? Pakaian kamu basah, kamu sakit lho nanti.''
"Buka dulu pakaian basah akunya, baru di pakai. Kalau gak di buka jaketnya yang akan basah nanti."
"Benar juga sih. Tapi sayang, gimana caranya kamu bisa--''
Daren seketika menahan ucapannya, saat melihat gadisnya itu tiba-tiba saja membuka pakaian yang dia kenakan di hadapan dirinya tanpa aba-aba, dan tanpa rasa malu sedikitpun. Dengan begitu beraninya Natalia mulai mel*cuti bagian atas tubuhnya lalu dilemparkan begitu saja. Nata bahkan membuka tali yang melingkar di punggungnya lalu melemparkannya sembarang.
Glegek!
Daren menelan ludahnya kasar. Matanya pun tidak berkedip sedikitpun dengan mulut yang di buka kemudian.
"Astaga, Nata. Apa ya-ng ka-mu la-ku-kan?"
BERSAMBUNG
...****************...