
Satu bulan kemudian.
"Saya terima nikah dan kawinnya Airin binti Wijaya Kusuma dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai.''
"Sah?"
Eden mengucapkan ijab qobul tanpa ada hambatan sedikitpun. Hanya dengan satu kali tarikan napas saja, Airin kini sah menjadi istrinya. Senyum bahagia pun mengembang dari kedua sisi bibirnya kini, begitu pun dengan Airin, wanita yang telah sah menyandang status menantu dari laki-laki bernama Daren.
Daren sendiri tampak menatap hari wajah sang putra. Dia tidak menyangka bahwa hari ini akan segera tiba. Hari dimana putranya itu meminang seorang wanita dan dirinya pun harus melepas putra kesayangannya itu dengan perasaan bahagia dan juga lega tentu saja.
'Daddy doakan kamu jadi suami yang bertanggung jawab, jaga istri dan calon cucu Daddy. Tugas Daddy untuk menjaga, mendidik dan membesarkan kamu sudah selesai sampai di sini, selebihnya kamu harus bisa mengurus diri kamu sendiri. Daddy sayang kamu, Ed,'' (batin Daren).
* * *
6 bulan kemudian.
"Arghhh ... Mas! Perut aku sakit, Mas," Nata tiba-tiba meringis kesakitan.
Daren yang saat ini sedang tertidur lelap pun seketika terbangun. Dia pun segera bangkit dan memeriksa keadaan Istrinya. Panik? Tentu saja Daren merasa panik, tapi di sisi lain dia pun merasa bahagia, karena istrinya itu sepertinya akan segera melahirkan.
"Sayang! Sepertinya kamu mau melahirkan, kita ke Rumah Sakit sekarang juga," ucap Daren.
"Arghhh ... Sakit banget Mas! Hiks hiks hiks!''
"Iya, sayang. Tahan sebentar ya, bayi kita akan segera lahir.''
Daren membantu tubuh istrinya itu untuk turun dari atas ranjang, perlahan dia pun memapah tubuh sang istri untuk berjalan keluar dari dalam kamar.
* * *
Sesampainya di Rumah Sakit.
Daren menghentikan mobilnya tepat di depan Unit Gawat Darurat Rumah Sakit khusus untuk bersalin. Dia pun segera turun dari dalam mobil dan segera memanggil perawat yang bertugas. Beberapa orang perawat nampak segera menghampiri tidak lama kemudian, mereka membantu Nata untuk masuk ke dalam Rumah Sakit.
"Mas, sakiiit Mas. Arghhhhh!" Nata meringis tidak henti, air matanya bahkan bergulir dengan begitu derasnya kini. Menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya hingga terasa meremukkan setiap sendi di dalam tubuhnya kini.
Daren tidak kuasa untuk mengatakan apapun lagi. Melihat sang istri yang terus saja berteriak kesakitan membuatnya merasa ikut terluka. Daren bahkan tidak kuasa menahan air matanya, antara haru dan sedih juga bahagia karena akan segera menyambut kehadiran buah hati tercinta.
"Jangan tinggalkan aku, Mas. Aku ingin kamu menemani aku di sini," lirih Nata, menggenggam erat jemari sang suami saat dirinya sudah berada di dalam ruangan bersalin.
"Tentu saja, sayang. Mas akan selalu menemani kamu di sini," jawab Daren meng*cup punggung tangan istrinya seraya mengusap lembut kepala sang istri.
"Iya, Bu. Sebentar lagi bayinya keluar, sedikit lagi Bu. Tarik napas panjang lalu hembuskan perlahan,'' instruksi sang Dokter yang membantu Nata dalam proses melahirkan.
"Arghhh ... Huuuuuh ... Haaaaah ... Hmmmm ..."
"Ayo sayang, sedikit lagi bayi kita keluar. Kamu pasti bisa.''
"Haaaa ... Sakit, Mas. Huuuu ... Haaaa ... Huuu ..."
"Eak ... Eak ... Eak ..."
Suara tangis bayi pun seketika terdengar nyaring. Suara kecilnya memecah keheningan, Daren tersenyum bahagia disertai dengan buliran air mata bahagia yang membasahi wajah tampannya kini.
Cup! Cup! Cup!
Daren bahkan meng*cup wajah istrinya secara berkali-kali mengucapkan rasa terima kasih dan bersyukur karena tidak membutuhkan waktu lama, bayinya itu lahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Setelah itu dia pun mengalihkan pandangannya kepada bayi merah yang kini sedang di bersihkan dan serahkan kepadanya beberapa saat kemudian.
"Selamat, Tuan. Bayinya perempuan," ucap perawat meletakkan bayi cantik itu ke dalam pangkuan Daren.
"Astaga, bayinya Daddy. Ya Tuhan, kamu cantik sekali, Nak. Sayang! Lihat bayi kita, mirip sekali seperti kamu, sayang.''
Nata menatap wajah sang bayi yang baru saja dia lahirkan dengan perasaan haru, kedua matanya bahkan terlihat berkaca-kaca merasa tidak percaya bahwa dirinya sudah menjadi seorang ibu sekarang.
"Iya, Mas. Dia cantik sekali,'' lirih Nata kemudian.
"Terima kasih karena telah melahirkan putri kita dengan selamat. Mas janji akan menjadi ayah yang baik untuk putri kita. Sekali lagi terima kasih sayang.''
Cup ...
Satu kecu*an kecil pun mendarat kembali di kening Natalia Agatha. Daren benar-benar merasa bahagia. Bahkan sangat-sangat bahagia. Apa yang menjadi tujuan di dalam hidupnya sudah tercapai semua. Istri yang dia cintai, dan seorang putri yang cantik, sungguh rasa syukur tidak henti-hentinya dia ucapkan di dalam hatinya.
Tidak mudah untuk Daren sampai di titik ini. Rasa cinta kepada sang istri membuatnya banyak melewati masa sulit sendirian. Dia menduda selama lebih dari 15 tahun, di tolak oleh calon mertuanya, bahkan dipisahkan oleh jarak dan waktu. Seperti apa yang pernah dia ucapkan waktu.
"JIKA SUDAH WAKTUNYA DIA MENJADI MILIKKU, SEKERAS APAPUN ITU, TAKDIR AKAN TETAP MEMPERTEMUKAN DAN MEMPERSATUKAN KAMI KEMBALI.''
DAREN
...--------TAMAT--------...