
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Eden merasa khawatir.
"Beruntung pasien baik-baik saja, pendarahan yang terjadi sudah sudah bisa diatasi. Hanya saja--" Dokter menahan ucapannya.
"Hanya saja kenapa, Dok?menantu saya baik-baik saja, kan?" tanya Daren.
"Pasien harus berada di ruangan ICU karena keadaannya masih belum benar-benar stabil," jawab Dokter membuat Eden seketika bernapas lega.
Setidaknya, keadaan Airin baik-baik saja tidak seperti apa yang dia bayangkan. Meskipun di katakan kesehatan istrinya itu masih belum setabil, tapi Eden merasa bersyukur karena kematian yang sempat dia bayangkan tidak menghampiri istrinya tercinta.
"Baik, Dok. Saya mohon lakukan yang terbaik untuk istri saya," ucap Eden penuh harap.
"Pasti, Mas. Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk istri Anda. Sebentar lagi pasien akan segera di pindahkan ke ruangan ICU, saya permisi," ujar Dokter sedikit membungkuk hormat lalu masuk kembali ke dalam ruangan operasi.
Bruk!
Tubuh Eden seketika kembali terduduk lemas dia atas kursi. Dia mengusap wajahnya secara berkali-kali seraya mengucap kata syukur tiada henti.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena engkau masih memberi kesempatan kepada istri saya untuk bernapas," lirih Eden dengan nada suara gemetar.
Nata yang juga masih berada di sana seketika mengusap punggung Eden lembut dan penuh kasih sayang seraya menatap wajahnya dengan tatapan mata sayu. Dirinya seolah dapat merasakan apa yang saat ini sedang dirasakan oleh putra sambungnya. Tanpa sadar kedua matanya pun mulai memerah juga berair.
"Selamat, Ed. Airin baik-baik saja, meskipun dia masih harus di rawat ruangan ICU, tapi setidaknya operasi yang baru dilakukan oleh Airin berjalan dengan lancar," lirih Nata dengan nada suara pelan, "Sekarang kamu hanya perlu mendampingi masa pemulihan Airin. Ingat, kamu harus menjadi suami yang siaga. Temani istri kamu, jangan pernah meninggalkan dia sedikit pun, oke?"
"Terima kasih, Mom. Saya lega sekali, saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan saya jika Airin sampai--" Eden tidak kuasa untuk meneruskan ucapannya.
"Sttt! Jangan pernah bicara seperti itu, Ed. Cukup Daddy saja yang pernah merasakan sakitnya ditinggalkan oleh istri tercinta," sela Daren duduk di tepat di samping putranya, "Kamu tidak boleh merasakan apa yang Daddy rasakan saat di tinggalkan oleh Ibu kandung kamu dahulu, Ed. Tidak, jangan sampai. Rasanya sakit, sakit sekali!" lirih Daren tiba-tiba saja memeluk tubuh putra kesayangannya seraya menangis sesenggukan, seolah sedang menumpahkan apa yang sedari tadi dia tahan.
Eden balas memeluk tubuh sang ayah juga menangis di dalam pelukannya, "Iya, Dad. Saya berjanji tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi, doakan istri saya agar dia cepat pulih," jawab Eden dengan nada suara lemah.
"Pasti, sayang. Doa Daddy akan selalu menyertai kamu, Nak," jawab Daren mengusap kepala putranya lembut dan penuh kasih sayang.
Nata yang menyaksikan hal itu tidak kuasa lagi untuk menahan kesedihannya. Buliran air mata jatuh begitu saja tanpa terasa, dia menatap wajah suami juga putra sambungan secara bergantian seraya mengusap punggung sang putra lembut dan penuh kasih sayang.
'Semoga kalian panjang umur dan sehat selalu Mas, Ed. Kalian berdua adalah laki-laki yang saya sayangi setelah Daddy,' batin Natalia Agatha seraya mengusap wajahnya yang benar-benar membanjir.
* * *
3 Hari Kemudian
Keadaan Nata sudah mulai membaik, tapi tidak dengan Airin mantan sekretarisnya yang sekarang sudah menjadi menantunya. Wanita itu masih berada di ruangan ICU. Nata dengan senang hati menjaga putra mereka yang di beri nama Jackie. Dia tidak merasa keberatan sama sekali meskipun harus mengurus 3 bayi sekaligus.
Dengan di temani oleh Merry dan Jude orang tuanya yang membantu dirinya dalam menjaga mereka. Jackie tiba-tiba saja menangis tiada henti. Suaranya terdengar begitu nyaring membuat Nata dan juga ke dua orang tuanya merasa bingung.
"Cup! Cup! Sayang, kamu kenapa, Nak? Kenapa kamu nangis terus kayak gini?" lirih Nata menggendong baby Jackie seraya menimangnya.
"Mungkin dia haus, Nat," imbuh Merry yang saat ini sedang menggendong baby Axelia.
"Aku sudah beri dia susu formula, Mom. Masa masih haus juga," jawab Nata menatap wajah sang baby dengan tatapan mata sayu.
Merry terdiam sejenak seraya menatap wajah Jackie lekat. Sepertinya susu purmula saja tidak cukup untuk mengobati rasa haus bayi berjenis kelamin laki-laki ini.
"Coba kamu beri dia ASI," pinta Merry kemudian.
"Gak apa-apa, sayang. Dia 'kan cucu kamu juga," imbuh Merry tidak ada pilihan lain.
Nata yang semula berdiri pun seketika duduk di atas ranjang lalu benar-benar memberi Jackie ASI miliknya. Benar saja, sang bayi segera meminum ASI tersebut dengan begitu lahapnya. Beruntung, Nata di karuniai ASI yang melimpah membuatnya tidak merasa khawatir meskipun harus mengASI 3 bayi sekaligus.
"Astaga, Nak! Kamu beneran pengen minum ASI rupanya," decak Nata tersenyum kecil seraya menatap wajah Jackie, "Minum yang banyak, Nak. Mommy punya stok ASI yang banyak untuk kalian."
"Mommy?" imbuh Daren yang baru saja masuk ke dalam ruangan, "Jackie 'kan cucu kamu, sayang. Masa Mommy?"
"Terus aku harus di panggil apa, Mas? Nenek?" jawab Nata merasa keberatan dengan panggilan itu, "Aku masih muda lho, masa udah di panggil Nenek aja," decaknya lagi seraya menatap wajah suaminya.
"Hmm! Benar juga, panggilan Nenek sama sekali tidak cocok untuk kamu," sahut Daren setuju dengan apa yang baru saja diucapkan oleh istrinya, "Hmmm! Terus, Jackie harus memanggil kamu dengan sebutan apa? Eyang? Oma? Kalau Tante gak cocok, sayang. Kamu 'kan Neneknya."
"Entahlah, aku juga bingung," jawab Nata seraya menatap wajah Jackie, bayi malang yang harus berpisah dari ibu kandungnya karena kondisi Airin yang masih belum stabil.
"Gak apa-apa, Nata. Mau di panggil, Nenek, Eyang ataupun Oma, semua itu cocok ko untuk kamu," imbuh Merry kemudian, "Kamu 'kan emang Neneknya."
"Iya sih, Mom. Hehehehe!" Nata seketika tersenyum cengengesan.
Tidak menunggu terlalu lama, Jackie pun tertidur dengan begitu lelapnya. Nata segera membaringkan sang bayi di atas tempat tidur bayi.
"Bagaimana keadaan Airin, Mas? Apa dia sudah baikan?" tanya Nata seraya berbaring di atas ranjang.
"Keadaan dia sudah mulai membaik, sayang. Kata Dokter Airin sudah bisa di pindahkan ke ruangan rawat inap," jawab Daren seraya meraih telapak tangan istrinya lalu menggegam erat jemarinya, "Kamu baik-baik saja harus menungurus 3 bayi sekaligus?"
"Apa maksud kamu, Mas? Tentu saja aku baik-baik saja," jawab Nata balas menggegam jemari suaminya erat, "Kalau bukan aku yang jagain Jackie, siapa lagi? Lagian ada Mommy juga yang selalu menemani aku, Mas."
Daren mengecup punggung tangan istrinya lembut juga penuh kasih sayang, "Terima kasih, sayang. Mas benar-benar bersyukur memiliki istri seperti kamu," lirih Daren, rasa cintanya bertambah berkali-kali lipat kepada istrinya ini.
"Sama-sama, Mas sayang. Kita doakan saja semoga keadaam Airin cepat membaik dan bisa segera berkumpul dengan putranya, kasihan Jackie dia pasti sangat merindukan Ibunya."
Daren menganggukkan kepalanya seraya tersenyum menatap wajah istri yang sangat dia cintai.
* * *
Sementara itu di ruangan ICU, Eden menemani istrinya yang saat ini masih berbaring lemah di atas ranjang. Laki-laki itu tidak beranjak sedikit pun dari samping istrinya tercinta.
"Mas," sapa Airin dengan nada suara lemah.
"Iya, sayang. Kamu mau apa? Kamu haus? Atau kamu lapar?" tanya Eden seraya mengusap kepala sang istri lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku titip Jackie, Mas."
"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Eden seketika merasa khawatir, "Saya mohon jangan pernah mengatakan hal seperti itu, sayang."
"Tubuh aku lemas sekali, Mas. Aku takut kalau aku gak akan kuat."
Ke dua mata Eden seketika memerah, dadanya pun terasa sesak mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh istrinya. Eden menggegam erat telapak tangan Airin seraya menatap wajahnya dengan tatapan mata sayu.
"Didik dia dengan baik, Mas. Jadikan dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab seperti kamu," Airin meneruskan ucapannya, "Aku titip dia sama kamu, Mas. Kamu adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan kepadaku."
* * * * *