
Natalia Agatha masih berbaring lemah di atas ranjang usai melahirkan bayi kembar berjenis kelamin perempuan. Sekujur tubuhnya masih terasa lemas karena dirinya melahirkan secara normal. Sedangkan si kembar nampak berbaring secara berdampingan di dalam box bayi.
"Mas Daren kemana sih? Katanya cuma pergi sebentar," gumam Nata seraya menatap sekeliling.
Ceklek!
Pintu ruangan pun di buka. Orang tua Nata masuk ke dalam ruangan membuat Nata seketika tersenyum lebar. Mereka segera terbang ke ibu kota setelah mendapatkan kabar tentang kelahiran cucu mereka.
"Daddy, Mommy," sapa Nata dengan ke dua mata berkaca-kaca, "Kalian kapan datang?"
Jude dan istrinya berjalan menghampiri juga dengan ke dua mata berkaca-kaca merasa haru.
"Kami baru saja tiba di sini, sayang," jawab Merry sang ibu segera berdiri tepat di samping box bayi, "Ya Tuhan, ini cucu-cucu Mommy? Kamu melahirkan bayi kembar?" tanya Merry meraih salah satu bayi lalu menggendongnya kemudian.
"Iya, Mom," jawab Nata buliran air mata tiba-tiba saja bergulir dari pelupuk matanya. Mengingat pengorbanannya dalam melahirkan semalam membuatnya tersadar, menjadi seorang ibu tidaklah mudah, setelah mengandung 9 bulan, menahan berbagai rasa yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata dirinya pun harus berjuang dengan mempertaruhkan nyawa dalam melahirkan.
"Kamu kenapa, sayang? Ko kamu nangis?" tanya Jude sang ayah seketika merasa khawatir, "Suami kamu mana? Si Daren itu gimana sih? Istri baru saja melahirkan ko malah di tinggalin," decak Jude tiba-tiba saja merasa kesal.
"Tidak, aku nangis bukan karena Mas Daren, Dad," jawab Nata dengan nada suara lemah, "Mom, maafkan aku karena selama ini sudah menjadi anak yang pembangkang. Aku benar-benar minta maaf, setelah melahirkan seperti ini aku sadar bahwa menjadi seorang Ibu itu butuh perjuangan, harus mempertaruhkan nyawa agar bisa melahirkan anak kita dengan selamat."
Merry berjalan menghampiri ranjang bersama sang bayi di dalam gendongannya, "Iya, sayang. Mommy sudah memaafkan kamu dari dulu ko, tidak usah di pikirkan, oke? Yang terpenting adalah, kamu sudah melahirkan dengan selamat," jawab Merry ke dua matanya seketika berair, "Ingat, pekerjaan sebagai seorang Ibu itu tidak dikerjakan sehari dua hari, tapi seumur hidup. Seumur hidup itu lama lho, kamu harus siap dan jadilah Ibu yang baik untuk anak-anak kamu ini, paham?"
Nata menganggukkan kepalanya samar. Dia menatap putrinya dengan perasaan haru. Menjadi seorang ibu adalah hal yang tidak pernah dia bayangkan. Hatinya benar-benar merasa bahagia.
"Ayah mertua, Ibu mertua, kapan kalian datang?" tanya Daren yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Ck! Ck! Ck! Suami macam apa kamu, Daren? Istri lagi sakit malah di tinggal sendirian," decak Jude seraya menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Ayah mertua tadi menantu-mu ini hanya keluar sebentar," jawab Daren seraya menyalami Jude dan istrinya secara bergantian, "Kebetulan istrinya Eden juga melahirkan di Rumah Sakit ini, saya baru dari sana. Bayangkan, Jude. Saya menjadi seorang Ayah dan Kakek di waktu bersamaan, hahahaha!" jawab Daren seketika tertawa nyaring.
"Istrinya Eden melahirkan?"
Daren menganggukkan kepalanya dengan wajah ceria terlihat begitu bahagia.
"Selamat-selamat, saya ikut senang mendengarnya. Kamu memang udah cocok menjadi Kakek, kita 'kan emang sudah tua, hahaha!" Jude sontak ikut tertawa nyaring seraya menepuk pundak Daren, menantu sekaligus sahabat karibnya.
"Ish, yang tua itu kamu, Jude. Saya masih muda, orang saya masih punya bayi," decak Daren bercanda.
"Ck! Ck! Ck! Kamu benar-benar gak sopan, ingat aku ini Ayah mertua kamu, Daren," keluh Jude yang juga sedikit bercanda.
"O iya lupa. Maafkan menantumu yang tidak tahu diri ini, Ayah mertua," jawab Daren membungkuk penuh hormat diselingi dengan suara tawa yang terdengar nyaring.
Merry dan Nata hanya bisa tersenyum menetap kebersamaan Jude dan Daren yang merupakan sahabat karib. Mereka tahu lebih dari siapapun seperti apa kedekatan mereka berdua.
"Putri kalian mau di beri nama apa, Daren?" tanya Merry kemudian.
"Kami belum memberi mereka nama, Ibu mertua," jawab Daren seraya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali, "Kami belum menemukan nama yang cocok untuk si kembar."
"Ko gitu? Seharusnya sebelum melahirkan kalian sudah siapkan nama untuk mereka, kasihan 'kan si kembar belum di kasih nama," decak Merry seraya tersenyum menyeringai.
"Ya sudah, biar Daddy saja yang memberi nama untuk anak kalian," imbuh Jude seketika memutar bola matanya seolah sedang mencari nama yang cocok untuk ke dua cucunya.
"Daddy punya nama yang cocok untuk mereka?" tanya Nata seraya tersenyum lebar.
Jude berjalan mondar-mandir tepat di depan ranjang. Otaknya benar-benar berfikir keras, dirinya mencoba untuk memberikan nama yang cocok untuk si kembar. Sementara istrinya hanya diam seraya mengikuti arah langkah suaminya seraya menimang bayi di dalam gendongnya, begitu pun dengan Daren dan juga Natalia yang melakukan hal yang sama.
Sampai akhirnya Jude menghentikan langkah kakinya. Bibir laki-laki itu pun nampak tersenyum lebar ketika dirinya menemukan nama yang cocok untuk si kembar.
"Axela, dan Axelia, cocok bukan?" ujar Jude seraya menjentikkan jarinya.
Daren menoleh dan menatap wajah Nata, hal yang sama pun dilakukan oleh istrinya. Mereka berdua saling menatap satu lama lain seraya tersenyum lebar.
"Ayah mertua benar-benar hebat. Saya suka sekali dengan namanya," sahut Daren merasa senang, "Gimana, sayang. Kamu suka juga dengan nama pemberian Ayah mertua?" Daren mengalihkan pandangan matanya kepada Nata, istrinya tercinta.
"Aku juga setuju, Mas. Axela dan Axelia. Nama yang bagus dan cocok untuk si kembar," jawab Nata seraya tersenyum lebar.
Seiringan dengan itu si kembar tiba-tiba saja menangis secara bersamaan. Bayi yang masih berada di dalam box bayi seolah ingin di gendong sama seperti kembarannya yang saat ini berada di dalam gendongan sang Nenek.
Jude segera meraih sang bayi lalu menimangnya, "Sayangnya Kakek! Kakek sudah menemukan nama yang cocok untuk kamu, Nak," lirih Jude seraya menatap sang cucu dengan tatapan mata sayu, "Tidak kayak Ayah kamu, masa memberi nama anaknya sendiri saja tidak becus."
Daren seketika menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
"Nama kamu Axela, dan saudara kembar kamu Axelia, gimana kamu suka, sayang?" Jude meneruskan ucapannya.
Sang bayi sontak menghentikan suara tangisnya. Bibir mungilnya pun seketika tersenyum terlihat begitu cantik. Hal yang sama pun terjadi kepada bayi yang saat ini gendong oleh Merry cucu mereka.
"Lihat, Mas. Axelia pun tersenyum, sepertinya dia benar-benar suka dengan nama itu," imbuh Merry benar-benar merasa bahagia.
Suasana di dalam ruangan itu pun terasa hangat. Aroma bayi menguar tercium begitu menyegarkan. Raut bahagia pun terpancar dari wajah Daren juga Natalia, begitupun dengan Jude dan istrinya yang benar-benar merasa bahagia atas kelahiran cucu kembar mereka.
Ceklek!
Pintu ruangan tiba-tiba saja di buka tanpa di ketuk, Eden masuk ke dalam ruangan dengan wajah pucat pasi juga napas yang tersengal-sengal. Ke dua mata laki-laki itu pun nampak memerah juga berair.
"Dad! Tolong aku, Dad," ujar Eden membuat Daren seketika merasa terkejut tentu saja.
"Ada apa, Eden? Kenapa kamu panik seperti itu?" tanya Daren segera berjalan menghampiri putranya.
"Airin, Dad."
"Istri kamu kenapa?"
"Kesehatan dia tiba-tiba saja menurun, Dad. Airin tiba-tiba pendarahan hebat."
"Apa?"
BERSMABUNG