
Eden sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap. Keadaannya sudah mulai membaik kini. Wajah pemuda itu pun nampak segar tidak seperti sebelumnya lagi. Nata tidak pernah beranjak sedikit pun dari sana. Dengan begitu sabarnya dia selalu mendampingi juga memberikan apapun yang di butuhkan oleh sahabat sekaligus calon putra sambungnya itu.
Seperti yang sedang dia lakukan saat ini. Nata membujuk Eden untuk membuka mulutnya layaknya anak kecil yang sedang mogok makan. Eden masih saja bersikap ketus bahkan berkali-kali mengusir wanita itu.
"Makan dulu, Ed. Mau sampai kapan kamu mogok makan kayak gini?" Bujuk Nata meletakan sendok berisi makanan tepat di depan mulut Eden kini.
"Berhenti bersikap baik seperti ini. Kamu pikir dengan kamu so baik kayak gini bisa membuat aku berubah pikiran? Tidak akan, kamu tahu lebih dari siapa pun betapa keras kepalanya aku, Nat!" ketus Eden memalingkan wajahnya.
"Nggak aku gak akan pernah pergi berapa kali pun kamu mengusir aku. Ingat Eden, Daddy kamu lagi sibuk. Sekarang makan dulu ya. Buka mulutnya ... Aaaa ..."
Buk ...
Prang ...
Eden tiba-tiba menepis kasar piring juga sendok yang saat ini berada di dalam telapak tangan Nata hingga kedua benda itu terlempar juga dengan isinya yang kini berhamburan di atas lantai. Tindakan Eden itu memang sudah sangat keterlaluan, tapi Nata hanya menghela napas panjang lalu bangkit dan menghampiri piring tersebut.
Dengan hati dan perasaan yang terluka sebenarnya, Nata meraih satu-persatu buliran nasi begitu pun dengan pecahan piring dengan telapak tangannya kini. Apakah dia akan menyerah setelah diperlukan seperti itu?
Tentu saja tidak. Tak ada kata menyerah di dalam kamus seorang Natalia Agatha, seburuk apapun Eden memperlakukan dirinya, dia akan menganggap itu sebagai cobaan yang harus dia hadapi demi sebuah kebahagiaan yang akan dia dapatkan kelak, juga demi cintanya kepada sang duda tampan.
Bles ...
"Argh ..."
Karena terlalu larut dalam lamunan panjangnya. Serpihan piring pun menembus kulitnya kini. Darah segar pun menetes seketika juga.
Ceklek!
Di saat yang bersamaan, Daren masuk ke dalam ruangan tersebut lalu terkejut melihat sang kekasih berjongkok juga dengan jari telunjuknya yang mengeluarkan darah segar .
"Sayang! Kamu kenapa? Jari kamu berdarah, Nat?" tanya Daren berjalan menghampiri lalu berjongkok tepat di depan Nata.
"Gak apa-apa, Mas. Tadi aku kurang hati-hati, makannya piringnya jatuh," Nata beralasan tidak ingin Daren menyalahkan Eden nantinya.
"Masa sih?" Daren seketika menoleh dan menatap wajah Eden yang saat ini terlihat memejamkan kedua mata, lebih tepatnya hanya pura-pura tertidur.
'Setelah apa yang aku lakukan, kamu masih saja mencoba melindungi aku,' (batin Eden).
"Sudah cukup, biar Mas saja yang merapikan ini. Kamu duduk aja di kursi itu," pinta Daren.
"Gak usah Mas, aku masih bisa melakukannya ko. Kasian, Mas pasti capek setelah seharian bekerja di kantor."
"Gak apa-apa, sayang. Mas gak capek sama sekali ko. Dengan hanya melihat wajah cantik kamu saja, capek Mas hilang ko. Beneran ... Lebih baik sekarang kita obati dulu luka kamu ini, oke?''
Daren memapah tubuh Nata untuk duduk kursi, dia pun menatap jari telunjuknya yang sepertinya tertanam serpihan piring yang sebesar ujung kuku orang dewasa.
"Sepertinya ini harus di tangani sama Perawat. Serpihan piringnya tajam banget. Pasti sakit sekali rasanya 'kan? Sebentar Mas panggilkan Perawat dulu ya.'' Daren hendak pergi.
"Gak usah Mas, ini masih bisa di keluarkan dengan mudah ko."
"Tapi, sayang--"
"Coba Mas lepaskan pencapit dasi Mas itu."
"Hah? Maksudnya ini?" Daren menunjuk penjepit dasi yang dia gunakan.
"Iya itu. Gunakan itu untuk mengambil serpihan ini."
Daren melakukan apa yang baru saja di ucapkan oleh Nata. Dia pun menatap benda itu dengan seksama. Setelah itu Daren mencoba untuk melakukan apa yang tadi dimintakan oleh gadisnya tersebut.
"Apa kamu akan baik-baik saja nantinya? Mas takut, Nat."
"Gak usah takut, lakukan aja. Aku gak apa-apa ko. Beneran ...''
"Baiklah, Mas akan melakukannya dengan hati-hati. Tahan sedikit ya, rasanya pasti akan sakit.''
Perlahan Daren mulai mendekatkan benda tersebut. Menatap dengan kedua matanya benda kecil yang menancap menembus kulit jarinya. Sampai akhirnya, dia pun berhasil menariknya keluar. Seketika darah segar pun kembali menetes.
Refleks, Daren memasukan jari lentik tersebut ke dalam mulutnya. Nata seketika membulatkan bola mata merasa terkejut tentunya.
"Jangan seperti itu, Mas. Ini darah lho," pinta Nata hendak menarik jarinya dari dalam sana.
Daren menggelengkan kepalanya. Dia menatap wajah Nata dengan tatapan sayu merasa iba. Dia tahu pasti bahwa ini semua pasti perbuatan Eden sang putra. Namun, Daren sama sekali tidak bisa melakukan apapun lagi selain menghibur kekasihnya tersebut.
"Gimana, apa masih sakit?" tanya Eden sesaat setelah dia mengeluarkan jari Nata lalu meniupnya pelan.
"Udah gak sakit ko, Mas. Makasih ya," jawab Nata tersenyum manis.
Eden yang memang tidak sungguh-sungguh tertidur melihat dan menyaksikan sendiri betapa ayahnya sangat mencintai Nata begitupun sebaliknya. Mereka berdua terlihat seperti sepasang anak muda yang sedang dimabuk asmara.
Rasa menyesal pun terselip di dalam lubuk hati Eden yang paling dalam. Apakah hati Eden akan luluh juga pada akhirnya? Nantikan kelanjutannya besok ya, Reader sayang.
BERSAMBUNG
...****************...