MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Berpisah



Dear. Natalia Agatha


Apa kabar, Nat? Mas harap kamu baik-baik saja, karena Mas juga baik-baik saja. Meskipun sebenarnya hanya mencoba untuk baik-baik saja, Mas yakin perasaan kita sama saat ini. Sama-sama saling merindukan satu sama lain.


Nata, Mas sayang sama kamu, tak perlu lagi di ucapkan seberapa besar rasa sayang Mas itu, karena kamu pasti lebih tahu dari siapa pun seperti apa perasaan Mas ini. Akan tetapi, Nata. Tidak semua apa yang kita inginkan harus selalu kita miliki. Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.


Seperti cinta kita ini. Untuk saat ini mungkin kita di takdirkan untuk tidak saling memiliki, tapi (Ada tapi nya lho) Mas berharap takdir akan mempertemukan kita suatu saat nanti. Jadi, Mas harap kamu tidak terlalu bersedih. Satu lagi, jangan terlalu membenci Jude ayah kamu. Walau bagaimanapun dia tetaplah orang tua kamu.


Serahkan semuanya kepada takdir dan berdoa juga tentunya. Semoga Tuhan membukakan pintu hati Jude untuk bisa menerima Mas. Jangan menangis, jangan terlalu bersedih juga. Yakinlah bahwa semua yang terjadi saat ini adalah bagian dari takdir yang harus kita lalui.


Hmm ... Apa lagi ya? Sebenarnya, ada banyak banget yang ingin Mas katakan sama kamu. Satu lembar kertas ini saja sepertinya tidak akan cukup untuk menuliskan apa yang ingin Mas katakan. Intinya adalah, pasrah dan serahkan semuanya kepada Takdir.


Percayalah, kalau kita memang berjodoh takdir pasti akan mempertemukan kita lagi, tapi kalau ternyata Tuhan berkendak lain Mas berharap kamu bahagia dengan siapapun.


Mas sayang kamu ...


Mas cinta kamu ...


Mas juga rindu kamu, Nata.


Jaga diri baik-baik, jangan lupa makan juga dan jangan terlalu bersedih.


Mas Daren.


_________________________


Seperti itulah isi surat yang Daren titipkan untuk Nata. Kertas berwarna putih itu pun seketika basah dengan buliran air mata yang berjatuhan dengan begitu derasnya. Nata yang saat ini masih dalam perjalanan menuju luar kota pun menyandarkan tubuhnya di jok mobil seraya menatap keluarga jendela dimana jalanan membentang seperti tanpa ujung.


Apakah ini adalah akhir dari perjalanan cintanya bersama sang duda? Apakah ini adalah akhir dari perasaan cintanya untuk duda kesayangannya itu?


'Tentu saja tidak. Aku percaya takdir akan mempertemukan kita kembali suatu saat nanti. Entah itu setahun, dua tahun atau tiga tahun bahkan lebih dari itu, aku akan menunggu saat itu tiba nanti,' (batin Nata).


Dia pun memeluk selebar kertas itu. Mendekapnya erat seolah dia sedang memeluk sang pemilik surat tersebut.


"Kamu baik-baik saja?'' tanya Merry sang ibu menoleh ke arah belakang.


"Aku baik-baik saja, Mom. Aku ngantuk banget, bangunkan aku kalau sudah sampai,'' jawab Nata memejamkan kedua matanya.


* * *


5 tahun kemudian.


Hari berganti dan waktu terlalu. Setiap tahun yang di lalui terasa sekejap mata, dan setiap hari yang Nata jalani penuh dengan kehampaan. Meskipun begitu, dia tetap bisa menyelesaikan kuliahnya dan lulus dengan nilai terbaik.


Kini tiba saatnya untuk Nata menggunakan ilmu yang dia miliki. Dia bekerja di sebuah perusahaan besar di kota dimana dia tinggal sekarang. Sebagai salah satu direktur eksekutif wanita yang dikagumi banyak pria.


Tok! Tok! Tok!


Pintu ruangan dimana Nata bekerja pun di ketuk dan di buka. Airin sang asisten masuk ke dalam ruangan lalu berdiri tepat di depan meja kerjanya. Gadis itu membungkuk hormat lalu meletakan amplop berwarna coklat di atas meja.


"Ini laporan yang Ibu minta," ucap sang asisten ramah dan sopan.


"Oke? Akan saya periksa. O iya, untuk kerja sama kita dengan PT Anggara itu bagaimana? Apa sudah ada jawaban dari pihak mereka?" tanya Nata melepaskan kaca mata yang dia pakai juga menghentikan jarinya yang sedang menari-nari di atas keyboard.


"Sepertinya belum, Bu Nata. Kita masih ada satu meeting penting lagi, tapi sepertinya meeting ini diadakan di luar kota, Bu."


"Luar kota? Hmm ... Sebenarnya saya malas kalau harus pergi ke luar kota. Ya sudah, atur jadwalnya sama kamu.''


"Baik, Bu. Saya permisi.''


Nata menganggukkan kepalanya lalu memijit pelipisnya pelan. Penampilan Nata benar-benar terlihat berbeda. Di usianya yang hampir menginjak 28 tahun itu membuatnya semakin terlihat dewasa dan juga matang tentu saja. Parasnya pun semakin terlihat cantik dan menjadi incaran banyak pria di luaran sana. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang mampu menaklukkan hati seorang Natalia Agatha.


Dret ... Dret ... Dret ...


Ponsel miliknya seketika bergetar, Nata menatap layar ponsel dengan perasaan kesal. Ayahnya selalu saja membuat moodnya semakin berantakan. Meskipun begitu Nata tetap saja mengangkat telepon kemudian.


📞 "Halo, Dad. Ada apa? Aku sibuk," jawab Nata dengan nada suara malas.


📞 "Kamu pulang dari kantor jam berapa? Jangan lupa kalau kita ada acara makan malam sama teman Daddy."


📞 "Hmm ..."


📞 "Ko cuma hmm ..."


📞 "Terus aku harus jawab apa? Aku tahu Daddy pasti mau menjodohkan aku dengan putra teman Daddy itu 'kan? Daddy juga tahu jawaban aku akan seperti apa nantinya. Jadi, jangan buang-buang waktu berharga Daddy dengan mengadakan makan malam segala."


📞 "Astaga, Nata. Usia kamu itu sudah hampir 28 tahun lho. Kamu mau jadi perawan tua? Jangan bilang kalau kamu masih memikirkan si Daren itu?''


📞 "Aku sibuk, Dad. Katakan saja dimana dan jam berapa acara makan malamnya? Aku pasti bakalan datang ko, tapi jangan berharap lebih nantinya. O ya, kirim alamatnya lewat chat aja, aku masih ada meeting penting. Aku tutup dulu.''


Nata seketika langsung menutup sambungan telpon. Dia pun menyadarkan punggung juga kepala di kursi kerjanya lalu seketika memejamkan kedua matanya kini.


"Kamu dimana, Mas? Apakah takdir benar-benar berkehendak lain dan kita sama sekali tidak akan pernah dipertemukan lagi?" gumam Nata kemudian, dirinya pun seketika terlelap.


"Kata siapa takdir tidak akan mempertemukan kita lagi? Mas ada di sini ko," samar-samar terdengar suara Daren, suara yang sangat dia rindukan.


Sontak, Nata pun membuka kedua matanya lalu tersenyum menatap wajah Daren sang duda, dengan tatapan mata berbinar dan senyuman yang mengembang sempurna dari kedua sisi bibirnya kini.


"Mas Daren?" gumam Nata kemudian.


BERSAMBUNG


...****************...