MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Hampir Saja Kebablasan



Ciu*an panas pun seketika tercipta. Sepertinya Daren benar-benar telah di kuasai oleh bi*ahi yang selama ini bersembunyi di dalam jiwanya jiwanya. Ga*rah yang selama ini dia tahan pun perlahan mulai naik kepermukaan.


Nata mencoba untuk mengimbangi permainan sang duda, tapi tetap saja dia merasa kewalahan. Andai saja keduanya sama-sama hilang kendali, mungkin hal yang tidak diinginkan benar-benar terjadi saat itu juga.


"Cukup, Mas," pinta Nata dengan napas yang tersengal-sengal mencoba untuk menghentikan. Dia mengurai jarak di antara mereka.


Sontak, Daren pun segera mengusap wajahnya kasar juga merapikan pakaian Nata yang saat ini tidak beraturan. Paha mulusnya bahkan terekspos sempurna memperlihatkan segitiga yang hampir saja di turunkan oleh sang duda.


"Maafkan, Mas sayang. Hampir saja Mas kebablasan, sekali lagi maafkan Mas.'' Daren segera berlari ke kamar mandi mencoba untuk menenangkan juniornya di bawah sana.


Ceklek!


Blug!


Pintu kamar pun di buka lalu segera di tutup kemudian setelah dia masuk ke dalamnya. Daren berdiri tepat di belakang pintu dengan menyandarkan tubuh juga kepalannya. Dia nampak mengusap sang junior di bawah sana yang masih saja menegang dan meronta-ronta meminta untuk dimanjakan.


"Sabar junior, sabar ... Astaga, tunggu sebentar lagi sampai gadis itu halal buat kamu," gumamnya mencoba untuk menenangkan sang junior yang masih saja tidak bisa tenang.


Duda tampan itu pun memilih untuk berendam dengan air hangat, berharap dengan dia melakukan hal itu gair*hnya akan kembali tenggelam dan bersembunyi di dalam sana.


* * *


Setelah berendam selaman 30 menit, tubuh Daren pun mulai terasa segar. Sesuatu yang semula meronta-ronta meminta untuk dipuaskan pun perlahan mulai tenang. Daren memakai kimono handuk berwarna putih lalu keluar dari dalam kamar mandi.


Ceklek!


Pintu pun di buka lebar. Sang duda keluar dari dalam kamar mandi lalu menatap Nata sang kekasih yang saat ini sudah meringkuk di atas ranjang benar-benar tertidur lelap tanpa selimut tebal. Daren berjalan menghampiri lalu menutup tubuh sang kekasih dengan selimut kemudian.


Dirinya pun berjongkok tepat di samping ranjang. Mengusap rambut panjang Natalia seraya menatap wajah gadis itu dengan tatapan sayu penuh rasa cinta. Senyuman kecil mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.


"Maafkan Mas, sayang. Hampir saja Mas kebablasan, jika saja kamu tidak mengingatkan tadi, mungkin tubuh kamu ini sudah Mas lahap tak bersisa. Mas janji gak akan melakukannya lagi, sayang. Demi malam pertama kita nanti, muach ...'' lirih Daren lalu meng*cup mesra kening Nata penuh kasih sayang.


Daren bangkit lalu berdiri, dia lebih memilih untuk meringkuk di atas kursi tidak ingin berada satu ranjang dengan Natalia Agatha. Dia tidak ingin kalau sampai kejadian seperti tadi terulang lagi.


Keesokan harinya.


Sang duda mulai mengedipkan kedua matanya. Menarik paksa pelupuknya meskipun rasa kantuk itu masih terasa begitu menyiksa. Daren pun merentangkan kedua tangannya lalu bangkit dan duduk di atas kursi.


"Tumben Nata udah bangun duluan.'' Gumam Daren berdiri dan mulai berjalan keluar dari dalam kamar.


Ceklek!


Pintu kamar di buka lebar, Daren keluar dari dalam kamar lalu menatap sekeliling. Dia tersenyum lebar saat melihat Nata sedang berdiri di depan meja makan menyiapkan sarapan untuknya. Dia pun menghampiri lalu memeluk tubuh ramping gadisnya itu dari arah belakang.


"Di sini kamu rupanya? Tumben udah bangun pagi-pagi begini," bisik Daren meletakkan kepalanya di pundak Nata.


"Aku sengaja bangun pagi, kita harus balik ke kota pagi-pagi soalnya. Jam 9 nanti aku ada kuliah penting," jawab Nata menoleh dan menatap wajah Daren lalu melayangkan kec*pan kecil di bibirnya.


Cup!


Lembut dan singkat, seperti itulah hadiah kecil pagi ini membuat pagi Daren terasa begitu menyegarkan.


"Kamu buatkan sarapan untuk Mas?" tanya Daren menatap meja makan dimana roti isi selay sudah tersaji di atas sana.


"Aku cuma buat yang kayak ginian. Di sini cuma ada roti sama slay soalnya.''


"Mas, semalam Mas bilang, Mas datang ke rumahku 'kan?''


"Betul."


"Mas serius datang ke rumah mau bilang sama Daddy masalah hubungan kita?"


"Betul."


"Apa Mas sempat mengatakan sesuatu sama Daddy prihal hubungan kita ini?"


"Betul."


"Maaaas, ko jawabnya itu terus sih dari tadi, gimana sih?" Nata mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa.


"Hah? Hahahaha! Maaf-maaf, Mas lagi menikmati roti buatan kamu ini soalnya. Enak banget, sayang." Daren tertawa ringan dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Dih, cuma roti biasa ko."


"Iya, memang rotinya biasa aja, tapi kalau kamu yang buat rasanya jadi luar biasa, beneran deh. Sebentar ya, Mas habisin ini dulu.''


Nata hanya tersenyum kecil. Hanya di puji seperti itu saja membuat hatinya merasa begitu senang. Dia pun memberi waktu kepada kekasihnya itu untuk menghabiskan sarapan pagi buatannya yang sebenarnya hanya roti isi selay biasa.


Beberapa saat kemudian, makanan yang di makan oleh Daren pun dia habiskan sampai tidak ada sedikitpun yang tersisa. Setelah itu, kopi hangat yang tersaji di atas meja pun dia teguk perlahan sebelum dirinya mulai menjawab semua pertanyaan Natalia Agatha.


"Jadi begini. Mas gak akan menunggu lama lagi, Mas udah gak tahan pengen segera nikahin kamu, sayang. Selain karena Mas gak mau kalau kamu sampai dijodohkan sama laki-laki lain, Mas juga sudah gak sanggup lagi menahannya. Rasanya sangat menyiska jiwa dan raga.''


"Hah? Mas ngaco. Apanya yang menyiksa jiwa dan raga?"


"Dahlah, kamu gak bakalan ngerti. Pokoknya, malam ini Mas akan jujur sama Jude, eh maksudnya ... Sama calon ayah mertua Mas tentang keinginan Mas ini, oke?"


Nata menganggukkan kepalanya seraya tersenyum begitu lebarnya lengkap dengan wajah ceria seperti biasanya. Setelah selesai menyantap sarapan pagi, juga apa yang ingin mereka bicarakan sudah mereka utarakan semuanya. Daren dan Nata pun kembali ke kota tidak lama setelahnya.


Setelah menempuh perjalan selama 60 menit, mobil yang dikendarai Daren pun akhirnya sampai di kediamannya. Mobil pun mulai memasuki halaman lalu berhenti kemudian.


Ceklek!


Blug!


Keduanya keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Daren dan Nata berdiri saling berhadapan tepat di depan mobil tersebut. Wajah keduanya terlihat begitu bahagia.


"Malam ini Mas ke rumah kamu, dandan yang cantik ya," ucap Daren mengusap rambut panjang Nata penuh kasih sayang.


"Baiklah, aku akan dandan secantik mungkin. Aku tunggu Mas nanti malam. Aku pulang dulu ya."


Daren menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lebar.


Nata memutar badan dan hendak melangkah. Namun, dia pun seketika terkejut saat melihat sang ayah berdiri tepat di depan rumahnya kini. Jude mantap kedua orang itu dengan tatapan tajam.


"Da-ddy?" gumam Nata kemudian.


BERSAMBUNG


...****************...