
"Kenapa kalian terkejut seperti itu? Ada yang salah dengan ucapan Daddy?" tanya Daren menatap wajah Eden dan juga Michel secara bergantian, "Kalian itu sudah dewasa lho, untuk apa pacaran lama-lama? Mendingan pacaran setelah menikah, di jamin akan lebih maknyus. Kalian bebas melakukan apapun setelah menikah."
"Tapi, Dad. Kami baru saja resmi berpacaran beberapa menit yang lalu, masa iya langsung nikah gitu aja?" decak Eden raut wajahnya seketika berubah masam, "Beri kesempatan buat kami untuk saling mengenal satu sama lain dulu, bagaimana karakter Michel begitupun sebaliknya."
Eden benar-benar merasa kesal. Ayahnya sangat menyebalkan. Dia pikir dirinya telah terbebas dari perjodohan yang disiapkan oleh sang ayah, tapi masalah besar justru berada di depan matanya sekarang. Mana mungkin dirinya menikahi Michel secepat itu? Dia bahkan tidak ada niat sedikit pun untuk menikahi wanita ini.
"Memangnya selama ini kalian tidak saling mengenal?" tanya Daren menyandarkan punggungnya di sandaran sofa juga bersedekap tangan, "Michel ini sekertaris kamu, Ed. Selama ini kalian sudah saling mengenal, gimana sih?"
"Ya tapi tetap saja, Dad. Jangan meminta kami untuk menikah secepat itu dong," sahut Eden semakin merasa kesal saja.
"Beri kami waktu selama 3 bulan untuk mempersiapkan pernikahan kami, Pak Bos," ujar Michel dengan penuh percaya diri, "Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan hanya akan terjadi sekali seumur hidup saya. Jadi, izinkan saya mempersiapkan dengan baik rencana pernikahan kami."
Daren mengangguk-anggukkan kepalanya seraya menatap wajah Michel. Dia semakin merasa kagum dengan Michel dan bertekad akan menjadikan wanita ini sebagai menantunya apapun yang terjadi.
"Hmm! Baiklah, lakukan apa yang kamu inginkan Michel. Saya akan memberi kalian waktu selama 3 bulan untuk membicarakan dan mempersiapkan rencana pernikahan kalian dengan baik," jawab Daren membuat Eden merasa heran.
Kenapa ayahnya ini menyetujui apa yang Michel katakan? Sedangkan selalu menentang apa yang dia inginkan. Bahkan mereka selalu saja berdebat akan sesuatu yang tidak sepakat dan tidak sepemikiran.
"Ish! Daddy ini, saya putra Daddy lho. Sama saya aja gak mau ngalah, sama dia langsung mengangguk-angguk, iya-iya, nyebelin," decak Eden seraya mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa merasa kesal.
"Hahahaha! Itu karena Michel calon menantu idaman Daddy," jawab Daren seketika tertawa nyaring, "Pokoknya, Daddy gak mau tahu, dalam waktu 3 bulan kalian harus menikah tidak ada alasan, oke?" tegas Daren penuh penekanan, dia pun berdiri lalu hendak keluar dari dalam ruangan. Namun, Daren tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya lalu kembali memutar badan.
"O iya, Michel. Nanti malam saya mengandung kamu ke rumah untuk makan malam, kamu harus berkenalan dengan calon Ibu mertua kamu," sahut Daren kemudian.
"Baik, Pak. Terima kasih atas undangannya, saya pasti datang," jawab Michel ramah dengan sopan.
Daren menganggukkan kepalanya lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.
Sepeninggal sang ayah, Eden nampak mengusap wajahnya kasar seraya memejamkan ke dua matanya. Sedangkan Michel senyum-senyum sendiri terlihat begitu senang. Eden yang menyaksikan hal itu seketika menggelengkan kepalanya seraya menatap wajah wanita berambut pendek itu.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Michel?" tanya Eden seraya mengerutkan kening.
"Bos Daren baik juga ternyata, selama ini dia tegas dan penuh wibawa. Dia benar-benar calon ayah mertua idaman," jawab Michel seraya tersenyum begitu lebarnya.
"Ish! Tadi saja muji-muji saya, sekarang menyanjung-nyanjung Ayah saya, dasar!" gumam Eden seraya tersenyum miring.
"Apa? Mas bilang apa tadi?"
"Mas? Please, Michel. Saya geli mendengar kamu memanggil saya dengan sebutan Mas, panggil saya seperti biasa," protes Eden seraya memasukan jari kelingkingnya ke dalam telinga juga memutarnya pelan.
"Oke-oke, tapi saya akan tetap memanggil Anda dengan sebutan Mas di depan calon Ayah dan Ibu mertua saya," jawab Michel menatap lekat wajah laki-laki itu.
"Ck! Ck! Ck! Percaya diri sekali kamu, Michel. Siapa bilang mereka itu calon Ayah mertua kamu? Memangnya kamu yakin kalau kita benar-benar akan menikah?" tanya Eden tersenyum menyeringai.
Michel tiba-tiba saja berbalik hingga mereka berdiri saling berhadapan, ke dua pergelangan tangannya seketika bergerak naik lalu melingkar di leher Eden membuat laki-laki itu seketika dilanda rasa gugup. Jantungnya kembali berdetak kencang. Eden menatap wajah Michel yang saat ini berada sangat dekat dengannya.
"Pak Bos yakin kalau Bapak tidak akan jatuh cinta dengan saya? Apa Pak Bos tahu, di luaran sana ada banyak laki-laki yang mengantri ingin menjadi pacar saya?" lirih Michel dengan nada suara manja, tatapan matanya tertuju kepada bibir Eden yang saat ini terlihat gemetar dengan wajah yang bekeringat dingin.
Eden seketika menurunkan pergelangan tangan Michel dengan wajah datar, "Sudah cukup, sekarang lanjutkan pekerjaan kamu. Ingat, meskipun saya pacar kamu, tapi kamu tetap sekretaris saya dan saya Bos kamu, paham?" pinta Eden tegas dan penuh penekanan.
"Sayang?" tanya Eden.
"Iya, hehehe! Saya permisi Pak Bos," jawab Michel seraya tersenyum cengengesan lalu keluar dari dalam ruangan.
Sepeninggal Michel, Eden berjalan ke arah kursi lalu duduk seraya melonggarkan dasi berwarna hitam yang melingkar di lehernya. Dia pun membuka laci meja dan mengeluarkan bingkai poto berisi potret Airin istrinya.
"Maafkan saya Airin. Saya terpaksa menjalin hubungan dengan sekretaris saya, tapi saya tidak akan pernah membagi cinta saya dengan wanita manapun," gumam Eden seraya mengusap potret wajah Airin lembut dan penuh kasih sayang.
* * *
Malam hari pukul 19.00 Eden berjalan menuruni satu-persatu anak tangga hendak turun ke lantai dasar untuk makan malam. Dia nampak mengenakan piyama tidur berwarna ungu dengan rambut yang sedikit berantakan.
"Kenapa kamu masih di sini, Ed? Memangnya kamu gak jemput pacar kamu?" tanya Daren yang kebetulan sekali sedang berdiri tepat di ujung tangga.
"Pacar? Pacar siapa?" tanya Eden seketika mengerutkan kening.
"Ya pacar kamulah, siapa lagi?" Daren balik bertanya dengan wajah kesal, "Apa kamu lupa kalau Daddy mengundang Michel untuk makan malam di sini? Seharusnya kamu jemput dia dong, gimana sih?"
"O iya, saya lupa kalau saya sudah punya pacar sekarang," decak Eden seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kamu lupa kalau kamu sudah punya pacar?" Daren membulatkan bola matanya.
Eden hanya tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
"Ini lagi, mau ketemu pacar ko malah pakai piyama kayak gini?" decak Daren menatap tubuh putranya dari ujung kaki hingga ujung rambut seraya menggelengkan kepalanya, "Sekarang kamu ganti baju dan jemput calon istri kamu."
"Nggak usah dijemput segala, Dad. Michel bukan anak kecil yang harus di antar jemput kayak anak TK, sebentar lagi juga dia datang ko," jawab Eden santai.
"Astaga anak ini. Kamu ini pacarnya lho, seharusnya kamu yang menjemput dia untuk datang kemari bukan malah di dibiarkan datang sendiri, dasar laki-laki gak peka," decak Darren merasa tidak habis pikir.
"Aduh! Daddy ini ribet banget sih, sebentar lagi juga dia datang ko."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu seketika terdengar.
"Nah, itu pasti si Michel," sahut Eden lalu berjalan ke arah pintu depan.
Ceklek!
Pintu pun di buka. Michel berdiri tepat di depan pintu, wajahnya terlihat berbeda, penampilannya pun benar-benar sempurna. Dress berwarna merah terang terlihat begitu cocok dia kenakan lengkap dengan tas dengan warna yang sama terlihat melingkar di bahu kirinya.
"Selamat malam, Pak Bos. Ups! Maksud saya Mas Eden," sapa Michel menatap wajah Eden dengan tatapan mata genit.
'Astaga, kenapa Michel cantik sekali?' batin Eden tanpa sadar menatap lekat wajah wanita itu seolah tanpa berkedip sedikitpun.
BERSAMBUNG