
"Eden?" Gumam Nata dan juga Daren secara bersamaan, juga sontak menoleh dan saling menatap satu sama lain.
Ceklek!
Pintu hampir saja terbuka, akan tetapi Daren segera berlari dengan kecepetan kilat dan menahan pintu tersebut hingga seketika kembali tertutup tepat sebelum pintu itu benar-benar terbuka secara sempurna.
Blug!
Ceklek!
Pintu di tutup dan kunci kemudian.
"Dad! Ada apa? kenapa pintunya di tutup?" teriak Eden dari luar sana.
Tok! Tok! Tok!
"Tunggu sebentar, gak sopan banget sih main masuk-masuk aja ke kamar orang?" teriak Daren dan segera meminta Nata untuk berpakaian.
Kedua orang tersebut pun segera meraih satu-persatu pakaian mereka dan memakaikannya seketika itu juga, tanpa rasa sungkan dan juga tanpa rasa malu tentu saja.
"Dad! Daddy sedang apa sebenarnya? Astaga!" Lagi-lagi Eden berteriak kencang dengan tidak sabarannya dia terus mengetuk pintu membuat Daren semakin merasa kesal.
"Astaga anak itu? Ngeselin banget sih, pagi-pagi udah ngerusuh aja, hadeuh!"
Ceklek!
Pintu pun di buka sesaat setelah mereka selesai memakai pakaian lengkap dan tidak ada satupun yang tertinggal. Akan tetapi, wajah mereka berdua tetap saja terlihat pucat pasi juga dengan napas yang tersengal-sengal. Tidak ketinggalan keringat pun membasahi wajah keduanya, tentu saja hal itu membuat Eden merasa heran.
"Sebenarnya Daddy lagi ngapain si?" tanya Eden masuk ke dalam kamar begitu saja, lalu seketika merasa terkejut saat melihat Nata yang juga masih berada di sana.
"Terserah Daddy mau ngapain? Lagian katanya kamu udah pesan kamar sendiri? Kenapa pagi-pagi udah ke sini aja si?"
"Nata? Semalam kamu menginap di sini?" tanya Eden mengabaikan ucapan sang ayah.
"Hehehehe! Semalam aku ketiduran di sini, Ed. Tapi, ini aku udah mau pulang ko, Mas aku pulang dulu ya," jawab Nata merasa gugup juga tersenyum cengengesan.
"Eden! Kamu gak denger apa yang Daddy katakan tadi?"
"Iya denger, Dad. Aku harus segera kembali ke kota hari ini juga, besok harus ngantor pagi-pagi soalnya. Memangnya Daddy gak pulang juga?" tanya Eden membuat Nata yang saat ini hendak pulang pun seketika mengurungkan niatnya.
"Kamu mau pulang juga, Mas? Terus aku gimana? Masa aku di tinggalin lagi? Kita baru saja ketemu lho?" rengek Nata dengan nada suara manja.
"Siapa bilang Mas mau pulang? Nggak ko."
"Noh putramu yang tampan itu yang bilang."
"Kamu pulang duluan, Ed. Daddy akan pulang setelah Daddy menyelesaikan urusan Daddy di sini.'' Daren mengalihkan pandangannya kepada Eden kemudian.
"Baiklah kalau begitu, aku doakan semoga urusan Daddy di sini cepat selesai dan Daddy bawa pulang calon ibu tiri aku yang cantik ini."
"Ish, gak boleh ada yang bilang Nata cantik selain Daddy. Awas ya, jaga mata kamu juga."
"Hah?" Nata dan Eden tentu saja bingung dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Daren.
"Daddy apa-apaan sih kayak anak kecil aja? udah akh, aku mau beres-beres. Kalian lanjutkan apa yang akan kalian lakukan, oke?''
"Siapa yang akan melakukan apa? Orang aku juga mau pulang ko,'' decak Nata kembali melanjutkan langkah kakinya dan keluar dari dalam kamar diikuti oleh Daren kemudian.
"Hati-hati di jalan calon Mommy tiri!" teriak Eden membuat Nata dan juga Daren seketika tersenyum kecil.
Eden menarik napas berat lalu mengembuskan kasar. Dia pun menatap ranjang dimana selimut masih benar-benar berserakan tidak beraturan. Pemuda itu pun meraih selimut tersebut lalu hendak melipatnya.
"Apa itu?" tanya Eden saat dirinya melihat bercak merah di atas sprai. Dia menatap dengan seksama noda merah tersebut lalu seketika mengerutkan kening seraya berfikir keras tentang apa yang sedang dia lihat itu.
Sedetik kemudian ...
"Hahahaha! Daddy benar-benar luar biasa, setelah menahannya selama ini. Pecah telor juga akhirnya, Nata-nata ... Kamu benar-benar sudah dewasa sekarang, hahahaha!" Eden tertawa lepas, bahwa suara tawanya sampai menggelegar memantul di seisi ruangan, kelopak matanya bahkan sampai berair seolah sedang menonton film komedi.
"Aku harap kalian segera menikah. Dengan begitu, aku pun akan mencari gadis cantik yang akan aku nikahi juga nantinya, hahahaha!" gumam Eden masih saja tidak bisa menghentikan suara tawanya.
* * *
Di lobi hotel.
"Mas akan ikut kamu ke rumah, biar Mas bisa menemui Jude sekarang juga," ucap Daren menggenggam mesra jemari Natalia Agatha.
"Jangan sekarang, Mas."
"Lho, kenapa?" Daren menghentikan langkah kakinya, begitupun dengan Nata kemudian.
"Mas Daren, apa Mas mau ke rumah menemui Daddy dengan penampilan seperti ini?"
"Hah?"
"Sayang ... Kalau kamu mau ketemu sama Daddy, mandi dulu, berpakaian yang rapi, kalau perlu bawa oleh-oleh makanan yang Daddy suka. Nah ini, masa baru bangun tidur, belum mandi belum apa, bahkan Mas juga belum sempat cuci muka, apa gak malu Mas ketemu sama Daddy nantinya?"
"O iya Mas sampai lupa. Eu ... Gimana kalau nanti malam Mas ke rumah kamu? Kirimkan saja alamatnya ke nomor Mas, gimana?"
"Oke, nanti aku kirim alamatnya ke nomor Mas."
"Emangnya kamu tahu nomor ponsel Mas?"
"Tahu dong.'' Nata melanjutkan langkah kakinya begitupun pun dengan Daren.
"Kamu tahu darimana nomor ponsel Mas?"
"Dari mana lagi, dari calon anak tiri aku 'lah.''
"Hahahaha! Eden-eden. Anak itu benar-benar luar biasa."
Setelah mengantarkan Nata sampai menaiki mobilnya, juga menyaksikan sendiri mobil gadisnya itu meninggalkan hotel, Daren pun segera masuk kembali ke dalam kamar. Dia nampak heran saat menatap ranjang terlihat sudah rapi tidak seperti sebelumnya. Hal lain lagi yang membuat Daren merasa heran adalah, sprei yang semula berwarna putih bersih kini berubah menjadi warna biru muda dengan motif bunga.
"Kamu yang ganti spreinya?" tanya Daren menatap sang putra yang saat ini sedang memasukkan satu-persatu pakaiannya ke dalam koper berukuran sedang.
"Iya, aku yang ganti,'' jawabnya singkat.
"Hmm ... Kamu benar-benar putra Daddy yang paling baik dan pengertian. Daddy mandi dulu kalau begitu, badan rasanya lengket banget."
Ceklek!
Pintu kamar mandi pun di buka. Daren masuk ke dalam sana lalu seketika menatap sprei yang tergeletak begitu saja di atas lantai kamar mandi. Dia pun meraihnya dan hendak menyimpannya ke dalam keranjang yang tersedia di sana.
"Astaga! Apa ini?" gumam Daren menatap bercak merah yang terdapat di dalam sprei tersebut.
"Darah? Ini darah keperawanan sisa semalam? Ya Tuhan, apa Eden melihat ini? Itu sebabnya dia menggantinya tadi?''
Bruk!
Daren seketika terduduk lemas di atas lantai kamar mandi. Dia pun mengusap wajahnya kasar seraya memejamkan kedua matanya. Sungguh, sang duda benar-benar merasa malu. Kenapa Eden harus melihat noda darah tersebut?
Tok! Tok! Tok!
"Dad? Aku pamit!" teriak Eden dari luar sana.
"I-iya, Ed. Hati-hati di jalan. Daddy lagi pup jadi gak bisa antar kamu sampai ke depan!"
"Oke!"
'Malu, Ed. Malu ... Daddy benar-benar malu buat ketemu sama kamu. Kenapa kamu tidak pura-pura gak tahu aja sih? Pake di gantiin segala lagi spreinya,' (batin Daren).
BERSAMBUNG
...****************...