
"Hahahaha! Kamu bisa aja, Ed. Gombalan kamu itu lho," Budiman seketika tertawa nyaring, "Untung saya laki-laki, andai saja saya ini perempuan, mungkin saya sudah klepek-klepek mendengar kamu bicara seperti itu."
Eden menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal. Bibirnya nampak menyunggingkan senyuman kecil. Menggombali wanita adalah keahliannya semenjak dirinya masih muda. Namun, sudah lama sekali bakat terpendamnya itu dia kubur dalam-dalam. Wanita terakhir yang dia gombali adalah Airin, tapi ternyata wanita itu bukanlah yang terkahir, ada Michel yang akan menjadi target selanjutnya.
"Akh, Om bisa aja. Itu bukan gombalan semata, Om. Saya tulus lho mengatakannya," sahut Eden suasana seketika terasa hangat.
"Lagian, siapa yang mengatakan bahwa cinta itu seperti jelangkung? Menyeramkan sekali," decak Budiman merasa tidak habis pikir.
"Adalah, istilah itu dia buat sendiri."
"Hahahaha! Ada-ada saja." Budiman tidak berhenti tertawa merasa lucu.
"Eu ... ngomong-ngomong, dari tadi saya tidak melihat calon Ibu mertua saya. Tante di mana ya? Saya ingin kenalan juga sama beliau," tanya Eden seraya menatap sekeliling.
"Ibunya Michel tidak ada di sini, Eden. Sama seperti kamu, istrinya Om juga meninggal saat melahirkan Michel," jawab Budiman seketika merubah raut wajahnya.
"Apa? Istrinya Om, Ibunda Michel meninggal saat dia melahirkan Michel?" tanya Eden seraya membulatkan bola matanya.
"Ck! Ck! Ck! Pacar macam apa kamu? Masa hal sepenting itu kamu tidak tahu, gimana sih?" decak Budiman menoleh dan menatap wajah Eden, "Katanya cinta sama Michel, tapi Ibunya sudah tiada kamu tidak tahu."
Eden tersenyum cengengesan, "Iya maaf, Om. Saya belum sempat menanyakan hal itu kepada Michel, maklum kami sibuk dengan urusan pekerjaan." Eden beralasan.
"Alasan! Kamu itu tidak peka, Eden. Tidak peka! Seharusnya kamu nanya dong, nanya! Astaga, gimana sih," ketus Budiman suasana tiba-tiba saja kembali terasa mencekam.
"Iya, Om. Saya minta maaf, saya memang kurang peka," sahut Eden seraya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali, "Daddy saya saja bilang seperti itu, tapi mulai sekarang saya akan lebih peka lagi kepada Michel."
"O iya, kapan kamu akan membawa orang tua kamu ke sini? Om ingin berkenalan dengan Ayah dan Ibu kamu," tanya Budiman membuat Eden seketika tersenyum lebar.
Apa itu artinya Budiman merestui hubungannya dengan Michel? Dengan kata lain, calon ayah mertuanya ini meminta dirinya untuk segera melamar putrinya? Eden larut dalam lamunannya.
"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak ingin memperkenalkan Om dengan orang tua kamu?" tanya Budiman dengan wajah datar.
"Hah? Tidak ko Om. Saya akan segera memperkenalkan ke dua orang tua saya dengan Om," jawab Eden seraya tersenyum lebar, "Apa itu artinya Om merestui hubungan saya dengan Michel?"
"Mau bagaimana lagi, sepertinya Michel sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu," jawab Budiman tersenyum menyeringai, "Ya, meskipun kamu tidak memenuhi standar calon menantu idaman saya."
"Terima kasih, Om. Saya benar-benar berterima kasih, Hahahaha!" ujar Eden seraya menyalami telapak tangan Budiman bahkan mengecup punggung tangannya secara berkali-kali benar-benar merasa senang.
Budiman segera menarik telapak tangannya secara kasar, "Sudah cukup. Lebai banget sih," decaknya seketika merasa kesal, "Ingat, kalau kamu berani menyakiti putri Om, membuat dia menangis sekali saja, Om akan mencincang tubuh kamu dan memberikannya kepada hewan buah di hutan, paham?"
"Pa-paham, Om. Saya berjanji tidak akan pernah menyakiti Michel apalagi membuat dia menangis. Saya janji," jawab Eden penuh penekanan.
"Ish, Ayah apaan sih. Tidak usah di ancam-ancam kayak gitu, memangnya Ayah ini psikopat apa?" decak Michel tiba-tiba berjalan menghampiri.
Rupanya, Michel tidak benar-benar pergi dari ruangan tersebut. Dia bersembunyi di balik tembok karena ingin mendengar apa yang mereka bicarakan. Hatinya tentu saja merasa bahagia setelah mendengar apa yang di tuturkan oleh Eden kekasihnya.
"Kamu! Bukannya kamu lagi istirahat? Ayah 'kan sudah meminta kamu masuk kamar tadi?" tanya Budiman seketika menggelengkan kepalannya.
Michel tersenyum cengengesan, "Iya, Yah. Aku memang sudah istirahat ko," jawab Michel duduk di kursi yang berbeda dengan mereka berdua.
"Apa, menguping? Hahahaha! Untuk apa aku menguping, gak ada kerjaan banget sih," jawab Michel seketika tertawa nyaring.
"Akh, sudahlah. Ayah lelah, Ayah istirahat dulu," sahut Budiman berdiri tegak lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.
Sepeninggal sang ayah, Michel segera berpindah tempat duduk di kursi yang sama dengan kekasihnya. Wajahnya terlihat begitu ceria. Dia menatap wajah sang kekasih dengan tatapan mata berbinar.
"Pak Bos serius dengan semua yang Pak Bos katakan tadi?" tanya Michel menatap wajah Eden dengan tatapan mata genit.
Eden menggelengkan kepalanya samar, "Ck! Ck! Ck! Jadi kamu benar-benar menguping apa yang kami bicarakan?" tanya Eden seraya mencubit gemas hidung kekasihnya.
"Argh! Sakit, Pak Bos," ringis Michel mengusap hidungnya lembut, "Memangnya apa salahnya aku menguping? Aku takut Ayah bakalan ngapa-ngapain kamu tadi. Makannya aku bersembunyi di balik tembok itu," jawab Michel.
"Hmm! Begitu rupanya, Ayah kamu asik juga di ajak ngobrol, saya pikir Om tidak akan menerima saya sebagai calon menantunya."
"Itu karena Pak Bos berhasil meyakinkan dia. Pake bawa-bawa jelangkung segala lagi," decak Michel tersenyum cengengesan.
"Hahahaha! Sekali-kali dah si jelangkung ikut eksis di dunia percintaan." Eden seketika tertawa nyaring.
"Tapi Pak Bos, dari yang aku tahu, Pak Bos tidak memiliki seorang putra, saya mendengar--"
"Tidak, Michel. Saya memiliki seorang putra, Jackie sebenarnya adalah putra saya," sela Eden seketika menunduk sedih.
"Jackie adiknya Pak Bos?"
Eden menganggukkan kepalanya pelan.
"Jadi sebenarnya dia putranya Pak Bos, bukannya adiknya Pak Bos?"
Eden kembali menganggukkan kepalanya.
Michel diam seribu bahasa. Dia mencoba untuk menelaah keadaan yang ada. Mengapa dirinya baru tahu bahwa sebenarnya Eden adalah duda beranak 1? Hal yang dia sesali di sini adalah, kenapa kekasihnya ini menganggap Jackie sebagai adik bukan sebagai putranya. Apa ada hal lain yang belum dia ketahui tentang calon suaminya ini? Pikiran seorang Michel seketika dipenuhi dengan berbagai tanda tanya.
"Kamu pasti bingung kenapa Jackie anak yang selama ini dianggap sebagai adik saya ternyata adalah putra saya?" tanya Eden menoleh lalu menatap wajah Michel.
"Apa ada hal yang tidak saya ketahui tentang Pak Bos?" tanya Michel balas menatap wajah sang kekasih.
"Saya tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal ini dari kamu, saya akan menceritakan semuanya sama kamu, Michel," jawab Eden dengan nada suara lemah.
Laki-laki itu pun mulai menceritakan apa yang terjadi dengan istrinya 5 tahun yang lalu. Dia pun menceritakan secara detail tentang apa yang telah dia lakukan kepada Jackie selama 5 tahun ini, juga penyesalannya karena telah membenci putranya selama ini.
Michel tiba-tiba saja menggeser tubuhnya hingga sedikit menjauh dari Eden. Raut wajahnya pun seketika berubah, dia yang semula merasa senang kini berubah sebaliknya. Mendengar penjelasan Eden membuatnya teringat akan dirinya sendiri. Ya, ibunda Michel meninggal setelah beliau melahirkan dirinya kala itu.
'Aku gak nyangka Pak Bos bisa melakukan hal sekejam itu kepada putranya sendiri?' batin Michel tiba-tiba saja merasa kesal.
BERSAMBUNG