
"Tidak, sayang. Siapa bilang Kaka Eden benci sama kamu?" tanya Daren seraya menepikan mobil yang dia kendarai, "Biar nanti Daddy yang bicara sama Kaka Eden ya."
Daren menghentikan mobil yang dia kendarai tepat di depan pintu gerbang sekolah Taman Kanak-Kanak. Istri dan ke tiga buah hatinya pun berpamitan lalu turun dari dalam mobil.
"Kamu hati-hati di jalan, Mas," ucap Nata seraya menutup pintu mobil.
"Daddy hati-hati di jalan ya, jangan lupa jemput kami lagi nanti," ujar Axelia seraya melambaikan telapak tangannya.
"Kalian baik-baik di sekolah ya, Daddy sayang kalian," jawab Daren yang juga melambaikan telapak tangannya kepada mereka berempat, "Daddy pasti akan menjemput kalian lagi, oke?"
* * *
Di kantor di mana Daren bekerja, dia segera mendatangi ruangan Eden putranya sesaat setelah dia tiba. Dirinya ingin berbicara dari hati ke hati dengan sang putra mengenai Jackie. 5 tahun dia rasa sudah cukup untuk Eden mengobati rasa sakit hatinya setelah ditinggalkan untuk selamanya oleh Airin istrinya.
Ceklek!
Daren membuka pintu begitu saja tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Eden yang saat ini sedang memeriksa berkas-berkas penting pun seketika menoleh ke arah pintu seraya menggelengkan kepalanya.
"Daddy apaan sih? Kalau masuk ke ruangan orang itu ketuk pintu dulu dong," decak Eden merasa kesal.
"Daddy datang ke sini bukan sebagai atasan kamu, Ed," jawab Daren berjalan menghampiri lalu berdiri tepat di depan meja, "Ada yang ingin Daddy bicarakan sama kamu, ini tenang Jackie."
Eden seketika memejamkan ke dua matanya sejenak seraya menghentikan pekerjaannya. Dia menatap wajah sang ayah dengan wajah datar.
"Apa yang ingin Daddy bicarakan? Ada apa dengan anak itu? Bukankah Daddy sama Mommy sudah menganggap dia seperti anak kalian sendiri?" tanya Eden dengan nada suara dingin, "Lanjutkan saja seperti itu, anggap saja kalian punya anak kembar 3."
"Apa kamu tidak kasihan sama dia?" tanya Daren menatap tajam wajah putranya, "Daddy sama Mommy sama sekali tidak merasa keberatan harus menganggap dia sebagai putra kami, tapi apa kamu tidak bisa bersikap baik sama dia? Walau bagaimanapun dia--" Daren terpaksa menahan ucapannya karena Eden tiba-tiba saja menyela.
"Cukup, Dad. Jangan pernah membahas masalah itu lagi," sela Eden penuh penekanan, "Apa Daddy lupa gara-gara melahirkan dia, Airin istri saya sampai kehilangan nyawanya?"
"Apa kamu juga lupa, Ibu kandung kamu juga meninggal karena melahirkan kamu?" tanya Daren tegas dan penuh penekanan, "Apa Daddy membenci kamu? Tidak! Apa Daddy pernah menyalahkan kamu atas meninggalnya istri Daddy waktu itu? Sama sekali tidak, Ed."
Eden seketika memalingkan wajahnya ke arah lain. Ya, apa yang baru saja dikatakan oleh sang ayah memang benar adanya. Namun, kenapa dirinya tidak dapat berbesar hati seperti sang ayah? Kenapa dirinya tidak dapat menghilangkan dan melupakan rasa sakit yang dia rasakan bahkan rasa itu masih membekas di dalam hatinya seolah kejadian itu baru terjadi kemarin?
"Kenapa kamu diam saja, Ed? Apa yang Daddy katakan benar, kan? Kenapa kamu tidak bisa bersikap seperti Daddy?"
Eden masih diam membisu.
Eden masih diam seribu bahasa dengan wajah datar.
"Daddy tidak pernah membenci kamu seperti yang kamu lakukan kepada Jackie, Daddy menyayangi dan membesarkan kamu dengan baik bahkan menggantikan peran mendiang ibu kamu," jelas Daren mencoba untuk meluluhkan hati putranya, "Tidak bisakah kamu bersikap seperti itu kepada Jackie? Tidak masalah jika kamu tidak menganggap dia sebagai putra kamu, tapi setidaknya anggap saja dia sebagai adik kamu sama seperti kamu menganggap si kembar adik kamu, kasihan dia."
Eden masih bungkam. Dia mencoba untuk meresapi setiap ucapan sang ayah yang terasa menusuk relung hatinya. Akankah hati seorang Eden tersentuh dan akan mulai merubah sikapnya kepada Jackie?
"Aku sibuk, Dad. Kita bicara lagi nanti di rumah," ujar Eden kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Daddy mohon renungkan apa yang Daddy katakan ini, Ed." Ucapan terakhir Daren sebelum dia benar-benar keluar dari dari dalam ruangan.
Sepeninggal sang ayah. Eden kembali menghentikan pekerjaannya. Dia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah bingkai poto di mana wajah Airin terpampang di dalamnya. Eden mengusap wajah mendiang istrinya dengan ke dua mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa kamu harus pergi secepat ini, Rin? Kenapa juga sulit sekali untuk saya menerima kehadiran Jackie? karena dia kamu tiada. Karena melahirkan dia kamu kehilangan nyawa. Mana mungkin saya bisa menganggap dia sebagai putra saya sendiri sementara saya telah kehilangan kamu untuk selamanya?" gumam Eden, buliran bening seketika jatuh tepat di atas potret wajah Airin wanita yang sangat dia cintai.
* * *
3 Jam Kemudian
Dret! Dret! Dret!
Ponsel Eden yang dia letakan sembarang di atas meja tiba-tiba saja bergetar. Laki-laki itu pun meraih ponsel tersebut lalu menatap layarnya sejenak sebelum akhirnya mengangkat sambungan telpon.
"Halo, Mom. Ada apa?" tanya Eden meletakan ponsel di telinganya.
"Iya halo, Ed. Apa kamu bisa menjemput Mommy di sekolah adik-adik kamu? Daddy-mu ada meeting penting katanya." Samar-samar tersengal suara Natalia Agatha nan jauh di sana.
"Eu .. Saya--"
Eden tidak meneruskan ucapannya. Tatapan matanya nampak lurus menatap ke depan melayangkan tatapan kosong.
"Halo, Eden. Kenapa kamu diam saja? Kamu bisa jemput kami ke sini, kan?" Kembali terdengar suara Nata membuyarkan lamunan seorang Eden.
BERSAMBUNG