
Ckiiit!
Nata memarkir mobil di garasi rumahnya. Dia pun keluar dari dalam mobil lalu berjalan menuju pintu depan yang sepertinya sedang ada tamu yang berkunjung.
Tok! Tok! Tok!
Dia pun masuk ke dalam rumah dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Natalia Agatha seketika mendengus kesal saat melihat seorang laki-laki duduk bersama sang ayah di ruang tamu. Dirinya pun berjalan begitu saja melewati ruangan tersebut. Namun, Nata terpaksa menghentikan langkah kakinya saat sang ayah memanggilnya ramah.
"Akhirnya kamu pulang juga, sayang? Kenalkan ini putranya teman Daddy,'' ucap sang ayah mengenalkan.
Nata hanya tersenyum dipaksakan lalu hendak kembali melanjutkan langkah kakinya.
"Astaga, Nata. Gak sopan banget sih, sini dong. Kenalan dulu, ngobrol dulu kek.''
Nata terpaksa kembali menghentikan langkah kakinya lalu berbalik dan menghampiri sang ayah, dia berdiri tepat disampingnya kemudian.
"Namanya Yuan, dia putra dari kawan Daddy di kantor.''
"Perkenalkan, nama saya Yuan. Kamu pasti Nata 'kan?" ucap Yuan memperkenalkan diri juga mengulurkan tangannya.
"Nata,'' jawab Nata hanya menempelkan sejenak tangannya lalu menariknya kembali.
"Duduk dulu, sayang. Ngobrol dulu sebentar di sini," pinta sang ayah.
"Aku lelah banget, Dad. Semalaman aku gak tidur sama sekali."
"Memangnya kamu habis ngapain gak tidur semalaman?"
"Eu ... Itu ... Anu, Dad. Semalam aku ada meeting penting sama Klien. Karena kemalaman, terpaksa aku menginap di hotel.''
"Hah?" Jude sang ayah tentu saja mengerutkan kening.
"Eu ... Maksud aku. Klien akunya pulang ko. Aku yang menginap di sana, hehehehe!"
"Oh ... Kirain. Ya udah kamu temani Yuan sebentar. Daddy mau ke kamar mandi dulu." Jude bangkit dan meninggalkan Nata bersama laki-laki bernama Yuan di sana.
"Tapi, Dad?"
Nata merasa kesal tentu saja. Sudah dapat di tebak, Yuan ini pasti adalah laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Dia pun menatap wajah laki-laki itu dengan tatapan sinis mengintimidasi.
"Lebih baik kamu pulang, Yuan." Pinta Nata ketus.
"Kenapa saya harus pulang? Bukankah Om Jude mengatakan bahwa kamu harus menemani saya? Kenapa malah di usir kayak gini?'' tanya Yuan mengerutkan kening.
"Kamu datang ke sini pasti berharap untuk dijodohkan sama aku 'kan? Yuan, buang jauh-jauh pikiran kamu itu, karena aku gak akan pernah mau dijodohkan. Lagian, aku juga udah punya pacar ko.''
"NATALIA AGATHA!" bentak Jude berjalan menghampiri membuat Nata seketika memalingkan wajahnya kini.
"Maaf, Om. Saya permisi," pamit Yuan merasa kesal dengan perlakukan Nata tentu saja.
"Tunggu, Yuan. Maafkan atas sikap kasar putri Om ini," pinta Jude merasa tidak enak, tapi permohonan maafnya itu sama sekali diabaikan oleh pemuda bernama Yuan tersebut. Dia pun keluar begitu saja dari dalam rumah.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Nata. Daddy kecewa sama kamu!" teriak Jude membulatkan bola matanya.
Jude mengusap wajahnya kasar merasa kesal. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk putrinya ini. Ternyata sang putri benar-benar menuruni sifat keras-kepala yang dia miliki. Apakah Natalia masih berharap kepada Daren? Padahal 5 tahun telah berlalu. Sedalam itukah perasaan sang putri kepada sahabat lamanya itu? Lalu dia harus bagaimana? Batin Jude seketika merasa dilema.
"Kenapa Daddy diam saja? Meskipun Daddy menjodohkan aku dengan seorang pangeran sekalipun, aku tidak akan pernah menerima dia. Sekaya apapun, setampan apapun, aku tidak akan pernah menerima laki-laki lain selain--" Nata seketika menghentikan ucapannya.
"Selain Daren? Daren, Daren, Daren. Kapan kamu bisa melupakan dia? 5 tahun lho, Nata. Cintamu sudah kandas 5 tahun yang lalu!''
"Kata siapa cintaku sama Mas Daren sudah kandas? Apa Daddy percaya sama yang namanya takdir? Aku yakin kalau takdir akan mempersatukan kita lagi, kalau pun takdir berkehendak lain, maka aku sendiri yang akan melawan takdir. Lebih baik aku melajang seumur hidup dari pada aku harus menikah dengan laki-laki lain yang tidak aku cintai!''
"Kamu benar-benar keras kepala Nata!"
"Ya, aku memang keras kepala. Bukankah aku mewarisi sifat keras kepalanya Daddy? Sekeras apapun Daddy menentang hubungan kami, maka sekeras itu pula aku akan menentang keinginan Daddy. Ingat itu, Dad!''
"ADA APA INI?" tanya Merry sang ibu berjalan menghampiri.
"Tanya saja sama suami Mommy yang keras kepala ini!" ketus Nata berjalan begitu saja melewati sang ibu dengan wajah masam.
Merry menatap wajah Jude dengan tatapan tajam. Kesal, sebagai seorang ibu dia benar-benar merasa kesal dan sudah cukup dirinya diam selama ini.
"Cukup, Mas! Mau sampai kapan kamu bersikap keras kepada putri kita itu, hah? Biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri. Bukankah yang akan menjalani rumah tangga itu adalah Nata sendiri? Berhenti menjodohkan dia dengan laki-laki yang tidak dia cintai,'' tegas Merry penuh penekanan.
"Jadi maksudmu, Mas harus merestui Nata menikah dengan si Daren itu?''
"Jika dia merasa bahagia dengan si Daren, maka tak masalah aku melakukan hal itu. Mas tidak dengar tadi, putri kita itu mengatakan bahwa dia akan melajang seumur hidup jika dia tidak menikah dengan Daren. Kamu mau dia jadi perawan tua? Terus kita selamanya tidak merasakan yang namanya menggendong cucu? Dasar keras kepala, egois, arogan!"
"A-apa? Kamu mengatakan Mas ini arogan dan egois?"
"Satu lagi, KERAS KEPALA? kenapa? kamu gak terima aku bilang seperti itu?"
Jude seketika diam seraya memalingkan wajahnya. Jika Istrinya sudah murka seperti ini, maka tidak akan ada yang bisa menghentikan ocehannya. Selama ini istrinya itu diam, karena memang dia selalu menghargai dirinya sebagai seorang suami dan selalu taat dan patuh dengan apapun keputusannya.
Sekarang, sang istri benar-benar berontak. Itu berarti apa yang telah dia lakukan sudah sangat keterlaluan. Lalu, apa yang harus dia lakukan sekarang? Sepertinya tidak ada pilihan lain lagi selain hanya diam.
"Kenapa kamu diam, Mas?" bentak Merry lengkap dengan tatapan tatapan tajam juga wajah masam.
"Hah ... Eu ... Anu, sayang!"
"A ... Eu ... A ... Eu ... Apa? Pokoknya, aku gak mau Mas marahin Nata lagi, sebagai ibunya Nata, aku tidak mau melihat kamu membentak putriku lagi. Apalagi sampai menampar dia segala. Satu lagi, biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri. Aku akan menjadi garda terdepan untuk melindungi Nata dari ayahnya yang keras kepala seperti kamu. Mengerti?"
Jude hanya diam seraya menundukkan kepalanya.
"MENGERTI TIDAK?"
"I-iya, sayang Mas mengerti ..." lirih Jude layaknya seekor singa jantan yang telah kehilangan taringnya.
Merry meninggalkan Jude begitu saja dengan perasaan kesal. Matanya bahkan masih saja menatap suaminya itu dengan tatapan tajam setajam busur panah yang siap untuk ditembakkan. Jude benar-benar takluk kepada sang istri yang selama ini hanya diam dan selalu patuh terhadapnya.
"Hadeuh, kalau istriku sudah marah seperti itu, artinya aku sudah sangat keterlaluan. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain menuruti keinginan dia, tapi apa aku akan menikahkan Nata dengan si Daren itu? Astaga, masa sahabat dekatku sendiri menjadi menantuku? Dia harus memanggil aku apa nanti? Daddy mertua gitu? Heuh ... Daren-Daren, pelet apa yang kamu gunakan hingga putriku begitu tergila-gila sama kamu?'' Jude berbicara sendiri.
BERSAMBUNG
...****************...