MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
MHD season 2



"Tidak usah di pikirkan, kamu tidak salah, Michel. Sekarang, silahkan kembali ke tempat kamu," jawab Eden seketika membuyarkan lamunan panjang Michel, gadis berambut pendek berusia 25 tahun.


"Baik, Pak," jawab Michel berbalik dan hendak melangkah, tapi gadis itu seketika menghentikan langkah kakinya lalu kembali memutar badan, "Eu ... maaf, Pak. Apa Anda sudah makan siang? Sudah waktunya jam makan siang," sahut Michel seraya tersenyum cengengesan.


Eden mengerutkan kening seraya mengusap perutnya yang memang terasa lapar, "Benar juga, tapi masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan," jawab Eden menatap map berwarna coklat yang berada di atas meja, "Nanti saja saya makan siangnya, saya selesaikan dulu pekerjaan saya."


"Walau bagaimana pun jangan melupakan makan siang sesibuk apapun Anda, Pak Bos," ujar Michel mencoba untuk mengingatkan, "Apa perlu saya pesankan makan siang untuk Anda, Pak?"


Eden menatap lekat wajah Michel, "Ide bagus, pesankan saya makan siang, biar saya makan di kantor saja," jawab Eden menganggap biasa perhatian yang di berikan oleh sekretarisnya ini.


"Anda mau makan apa, Pak?"


"Apa saja."


"Tapi saya tidak tahu makanan apa yang sedang ingin Anda makan, Pak Bos."


Eden menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia pun membuka map berawan coklat lalu mengeluarkan isinya.


"Pak?" sapa Michel.


"Apa saja, yang penting nasi sama lauk pauknya, saya tidak bisa makan tanpa nasi," jawab Eden tanpa menoleh sedikit pun.


"Baik, Pak. Akan saya pesankan sekarang juga, saya permisi," jawab Michel membungkuk hormat lalu kembali berbalik dan keluar dari dalam ruangan.


Eden memeriksa berkas laporan yang di buat oleh sekretarisnya. Sebagai Direkrut pemasaran dari perusahaan yang bergerak di bidang iklan, dirinya selalu disibukkan dengan pekerjaan yang begitu menyita waktu dan tenaga. Tidak jarang laki-laki ini melupakan bahkan mengabaikan perutnya yang lapar.


20 menit kemudian, pintu pun di ketuk dan di buka. Michel kembali dengan membawa makanan yang di pesan. Kotak nasi lengkap dengan lauk pauknya yang dia pesan secara on line.


"Makananya sudah datang, Pak Bos. Mau di makan sekarang?" tanya Michel meletakan kotak makan di atas meja.


"Simpan saja di situ, nanti saya makan," jawab Eden tanpa menoleh sedikit pun, tatapan matanya fokus dalam menatap layar laptop, "Terima kasih, Michel."


"Lebih baik di makan dulu, Pak Bos. Nanti makanannya keburu dingin tidak enak lho." Michel kembali menunjukkan rasa pedulinya.


"Hmm! Baiklah, sebenarnya saya juga lapar sekali," sahut Eden menyudahi pekerjaannya.


Michel membuka kotak makan yang dia bawa lalu menyajikannya tepat di hadapan Eden. Gadis itu bahkan membukakan air mineral dan meletakkannya di samping kotak makan tersebut. Wajah Eden terlihat datar, dia merasa ada yang aneh dengan sikap sekretarisnya ini. Kenapa dirinya seperti sedang dilayani oleh seorang istri?


"Silahkan di makan, Pak Bos. Saya tidak tahu lauk apa yang Anda sukai, semoga sesuai dengan selera Anda," ucap Michel berdiri tepat di depan meja.


Eden diam seribu bahasa. Sekretaris yang sebelumnya tidak pernah seperhatian ini. Kenapa Michel berbeda dengan mereka yang pernah bekerja dengannya? Jujur, Eden merasa tidak nyaman.


"Terima kasih, Michel. Tapi lain kali kamu tidak perlu sampai seperti ini," jawab Eden dengan nada suara dingin, "Saya bisa mengurus diri saya sendiri, kamu urus saja pekerjaan kamu sebagai sekretaris, oke?"


Sementara Eden hanya menganggukkan kepalanya samar, lalu mulai menyantap makanan yang di sajikan oleh sekretarisnya ini.


'Andai saja kamu masih ada, Rin. Mungkin kamu yang akan selalu menyiapkan makan siang seperti ini untuk saya,' batin Eden menunduk, menatap nasi kotak tersebut.


Selama 5 tahun ini, jiwa Eden seolah terkurung di masa lalu. Dirinya tidak pernah bisa lepas dari bayang-bayang istrinya yang telah tiada. Selama itu pula, laki-laki ini tidak pernah bisa dan tidak berniat untuk membuka hatinya untuk wanita lain. Cintanya hanya untuk Airin istrinya yang sudah tenang di alam sana.


* * *


Sore hari, Daren pulang dari kantor seperti biasa. Kedatangannya di sambut oleh 3 malaikat kecil yang selalu menanti kepulangan ayah mereka. Ya, mereka adalah si kembar dan juga si tampan Jackie. Ketiganya berebut ingin di gendong oleh ayah mereka.


"Daddy gendong aku," rengek Axelia seraya merentangkan ke dua tangannya.


"Aku aja, Dad! Aku juga ingin di gendong." Axela pun melakukan hal yang sama.


"Aku juga ingin di gendong," teriak Jackie, ketiganya berdiri tepat di depan Daren dengan wajah ceria.


"Astaga, putrinya Daddy. Satu-satu dong, tangan Daddy 'kan cuma ada 2," sahut Daren menatap mereka bertiga secara bersamaan.


"Aku dulu, aku 'kan paling kecil di sini," pinta Axelia seraya menatap wajah Axela dan juga Jackie yang berdiri di sampainya, "Kakak-kakak mengalah saja sama yang lebih kecil."


"Tidak bisa, kita 'kan kembar Kak Xelia, gimana sih?" decak Xela menatap tajam wajah kembarannya.


"Astaga, kalian! Kebiasaan banget sih," ujar Eden yang baru saja masuk ke dalam rumah seraya membawa tas kerja miliknya.


Daren dengan sengaja menggendong tubuh Axelia dan Axela secara bersamaan, sedangkan Jackie hanya menyaksikan dengan wajah kesal.


"Yeeeey! Akhirnya kita di gendong sama Daddy!" teriak si kembar bersorak senang.


"Daddy, ko aku gak di gendong?" tanya Jackie seraya mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa, "Daddy gak adil, Daddy pilih kasih!" Jackie bersedekap tangan seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Gimana kalau Jackie di gendong sama Kaka Eden?" tanya Daren mengalihkan pandangan matanya kepada Eden yang sedari tadi hanya berdiri seraya tersenyum cengengesan.


Jackie seketika menoleh dan menatap wajah Eden. Dia pun berjalan menghampiri lalu berdiri tepat di depan laki-laki itu seraya merentangkan ke dua tangannya. Tatapan matanya nampak sayu penuh harap.


"Kaka Eden, aku mau di gendong juga," rengek Jackie dengan nada suara manja.


Eden menghela napas berat juga mengalihkan pandangan matanya ke arah lain. Telapak tangannya bergerak pelan hendak meraih tubuh anak itu, tapi dirinya tiba-tiba saja berjalan melintasi Jackie begitu saja mengabaikan permintaannya.


"Saya capek, minta gendong saja sama Mommy sana," sahut Eden membuat Jackie merasa kecewa.


BERSAMBUNG