MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Di Pertemukan Karena Takdir



"Kenapa diam saja, Nat. Apa kamu gak ingin ketemu sama Daddy?" tanya Eden menatap lekat wajah Natalia Agatha.


"Aku memang ingin ketemu sama dia, tapi--'' jawab Nata lagi-lagi menghentikan ucapannya.


"Tapi apa? Aku yakin kalian masih memiliki perasaan yang sama. Aku juga yakin kalau kalian sampai sekarang masih sendiri karena berharap bahwa kamu dan juga Daddy bisa dipertemukan lagi."


"Aku ingin takdir yang mempertemukan kita, bukan karena kami sengaja di pertemukan begitu saja."


"Lalu ini apa? Bukankah pertemuan kita juga tidak di sengaja? Bukankah aku ada di sini juga karena takdir?"


Nata kembali terdiam lalu tersenyum kecil. Dia pun menundukkan kepalanya mengingat sang ayah yang sepertinya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa laki-laki yang dia inginkan hanyalah Daren seorang. Sebagai buktinya, ayahnya itu bahkan memintanya untuk datang ke acara makan malam bersama teman lamanya nanti malam.


"Apa karena Om Jude?" tanya Eden sepertinya dapat menebak isi hati seorang Nata.


"Hmm ... Begitulah kira-kira."


"Astaga, Nata. Kamu itu sudah dewasa, kalau dulu Om Jude tidak merestui hubungan kalian karena kamu masih terlalu muda, masih kuliah juga. Sementara sekarang, kamu sudah dewasa dan telah menjadi seorang wanita karir yang sukses. Kamu berhak memilih calon pendamping hidup kamu sendiri, Nat. Aku yakin Om juga akan mengerti itu. Ya meskipun dengan bertambahnya usia kamu, itu berarti usia Daddy ku juga semakin tua. Dia bahkan semakin berkeriput sekarang.''


"Hah serius? Mas Daren keriput? Apa rambutnya juga sudah memutih? Apa dia beneran udah kayak kakek-kakek gitu?" Nata mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Eden merasa penasaran.


"Ya nggak sampe kakek-kakek juga kali. Dia masih lumayan tampan 'lah. Meskipun tidak setampan aku, tapi kalau kamu memang merasa penasaran, kenapa tidak bertemu Daddy secara langsung?''


"Apa bisa?"


"Tentu saja bisa, apa yang nggak bisa di dunia ini jika Tuhan sudah berkehendak?''


Nata lagi-lagi diam seraya menatap lurus ke depan, lebih tepatnya melayangkan tatapan kosong.


"Yah malah ngelamun lagi. Jadi gimana? Mau nggak? Kalau kamu gak sibuk, kita ke hotel sekarang juga. Daddy ada di hotel."


"Ke hotel?''


Eden menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


"Nggak akh ... Kalau memang harus ketemu, kenapa bukan Mas Daren yang menemui aku? Memangnya aku wanita apaan datang ke hotel buat ketemu sama laki-laki," celetuk Nata membuat Eden seketika tertawa lepas.


"Hahahaha! Nata ... Nata ... Kamu benar-benar sudah dewasa sekarang. Apa kamu lupa siapa yang dulu ngejar-ngejar Daddy? Kamu bahkan setiap hari datang ke rumah hanya untuk ngintipin Daddy aku itu?''


Wajah Nata seketika memerah. Mengingat masa lalu membuatnya tersipu malu, dulu dia begitu tergila-gila dengan sang duda yang memiliki ketampanan yang luar biasa itu. Betapa bodohnya dia saat itu sampai-sampai mengorbankan harga dirinya sebagai seorang wanita.


"Ya ... Ya ... Itu 'kan dulu. Aku belum dewasa waktu itu. Sekarang beda lagi," elak Nata dengan wajah memerah.


"Oke ... Kalau memang kamu gak mau datang ke sana. Gimana kalau kita janjian aja di suatu tempat? Jam 7 malam ini aku tunggu kamu di Restoran, setuju? O iya, mana ponsel kamu?''


"Ponsel buat apaan?"


"Udah jangan banyak nanya.'' Eden tanpa sungkan meraih ponsel milik Nata yang tergeletak di atas meja. Dia pun memasukan nomor Daren sang duda ke dalam ponsel tersebut.


"Ini nomor Daddy, kalian bahkan tidak pernah menelpon ataupun saling menanyakan kabar masing-masing.'' Eden menyerahkan ponsel tersebut kepada pemiliknya.


Nata menatap layar ponsel dimana nama sang duda tertulis di dalam sana lengkap dengan nomor ponselnya.


"Nata, aku sangat-sangat berharap bahwa kalian akan bertemu dan bersatu lagi. Kasian Daddy, dia benar-benar merindukan kamu, Nat. Aku juga akan merasa sangat senang sekali jika mempunyai ibu tiri yang cantik dan se*si seperti kamu.''


"Ish ... Dasar, kamu bisa aja."


Eden menarik napas berat lalu menghembuskannya secara kasar. Dia pun bangkit lalu berdiri hendak berpamitan. Eden laki-laki manja yang dahulu sering menempeli Nata, kini telah berubah menjadi pemuda gagah dan juga tampan persis seperti ayahnya.


"Aku pergi dulu, ingat jam 7 malam. Jangan sampai lupa, oke?" Pamit Eden hendak pergi.


"Aku yakin kamu pasti datang ke sana. Karena aku tahu pasti kalau kamu pun sangat-sangat merindukan Mas Daren mu itu," celetuk Eden membuat Nata seketika tersenyum lucu.


"Dasar Eden. Aku usahakan datang, tapi--''


"Udah, gak ada tapi-tapian lagi. Aku pulang sekarang." Eden hendak melangkah, tapi dia pun menghentikan langkah kakinya lalu berbalik menatap wajah Nata kemudian.


"Apa lagi, Eden?"


"Titip salam sama asisten kamu itu, dia cantik juga," celetuk Eden tersenyum genit.


"Dih, dasar play boy, hahahaha!" Nata tertawa lepas, kelakukan Eden masih tetap sama ternyata, dia tidak bisa diam saja ketika melihat wanita cantik.


"Aku pergi, sampai jumpa jam 7 malam ini ya," ucapan terakhir Eden sebelum dia membuka pintu lalu keluar dari dalamnya.


Sepeninggal Eden, Nata kembali menatap layar ponsel dimana nomor Daren sang duda masih terpampang jelas di dalamnya. Dia pun menekan tombol dial entah di sengaja atau tidak dia melakukan hal itu.


📞 "Halo, selamat siang. Dengan siapa ini?" samar-samar terdengar suara Daren dari dalam telpon. Suaranya masih tetap sama seperti dulu, tapi Nata sama sekali tidak mengatakan apapun.


📞 "Halo-halo ... Ini siapa? Apa salah sambung ya?" ucap Daren lagi sebelum akhirnya sambungan telpon itu terputus kemudian.


"Mas Daren? Aku kangen banget sama kamu," gumam Nata dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


* * *


Pukul 19.00. Nata sudah bersiap dengan gaun berwarna merah terang. Dia bahkan memoles wajahnya dengan make up natural lengkap dengan lipstik warna merah menyala persis seperti gaun yang dia kenakan. Gadis itu menatap tubuhnya dari pantulan cermin dan memastikan bahwa penampilannya benar-benar sempurna.


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


Pintu kamar pun di ketuk dan di buka. Merry sang ibu masuk ke dalam kamar putrinya. Dia pun tersenyum menatap wajah sang putri yang terlihat cantik sempurna.


"Wah, kamu cantik banget sayang," ucap Merry tersenyum lebar.


"Iya dong. Putri siapa lagi, putri Mommy ..." Nata tersenyum lebar.


"Kamu sudah siap untuk makan malam bersama temannya Daddy itu?"


Nata diam seraya menundukkan kepalanya.


"Kenapa diam saja, sayang?" tanya Merry sang ibu merasa heran.


"Mom, sebenarnya aku--"


''Kenapa, sayang? Kalau kamu tidak mau pergi ke sana, biar Mommy bilang sama Daddy buat batalin acaranya.''


''Aku mau minta tolong sama Mommy, boleh?''


''Apa, sayang? Katakan saja.''


''Sebenarnya aku--''


BERSAMBUNG


...****************...