MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
MHD season 2



"Siapa yang sedang membodohi Daddy? Saya serius lho, Michel ini pacar saya," jawab Eden berjalan menghampiri Michel lalu berdiri tepat di sampingnya.


Daren menatap wajah ke duanya dengan tatapan mata tajam. Dia masih belum percaya dengan pengakuan putranya yang secara tiba-tiba mengatakan bahwa Michel ini adalah kekasihnya. Selama ini, Daren tidak pernah mengendus kedekatan mereka berdua. Bagaimana bisa mereka tiba-tiba saja berpacaran?


"Daddy masih tidak percaya bahwa Michel ini pacar saya? 'kan Daddy sendiri yang meminta saya untuk mencari jodoh saya sendiri," sahut Eden berusaha untuk meyakinkan sang ayah, "Apa perlu saya buktikan kepada Daddy bahwa kami benar-benar berpacaran? Apa perlu saya cium pacar saya ini di depan Daddy?"


Michel seketika membulatkan bola matanya. Mencium? Di depan atasannya sendiri? Michel menggelengkan kepalanya, dia rasa hal itu tidak perlu dilakukan. Dirinya akan di anggap wanita gampangan oleh calon mertuanya ini.


"Tidak perlu sampai seperti itu, Mas Eden," ujar Michel, kali ini Eden yang membulatkan bola matanya seraya menoleh dan menatap wajah Michel.


Mas? Sudah lama sekali dirinya tidak dipanggil dengan sebutan Mas. Panggilan yang hanya pernah di ucapakan oleh Airin istrinya, dan rasanya aneh sekali ketika mendengar wanita bernama Michel ini memanggilnya dengan sebutan itu.


"Saya yakin Bos Daren percaya bahwa kita memang berpacaran," Michel melanjutkan ucapannya, "Walau bagaimana pun, kita harus menjaga batasan, Mas Eden. Kita memang berpacaran, tapi kamu tetap atasan saya di kantor."


"Sejak kapan kalian berpacaran?" tanya Daren penuh selidik.


Eden dan juga Michel seketika saling menatap satu sama lain dengan wajah gugup. Mereka baru sepakat berpacaran beberapa menit yang lalu. Apa mereka harus berkata jujur, atau akan berbohong demi kebaikan mereka berdua?


"Baru saja," jawab Eden dan juga Michel secara bersamaan memutuskan untuk berbicara jujur apa adanya.


"Kamu tidak sedang membohongi Daddy, kan? Bisa saja kamu meminta sekretaris kamu ini untuk menjadi pacar bohongan kamu supaya kamu bisa terlepas dari perjodohan yang Daddy rencanakan?" Daren kembali bertanya, sepertinya laki-laki itu tidak mudah untuk diyakinkan.


"Ti--" Eden menahan ucapannya karena Michel tiba-tiba saja menyela.


"Memang betul, Bos Daren. Mas Eden awalnya hanya meminta saya untuk menjadi pacar bohongan, tapi--" Michel menahan ucapannya, dia kembali menoleh dan menatap wajah Eden seraya tersenyum tipis, "Tapi akhirnya kami memutuskan untuk benar-benar berpacaran," Michel meneruskan ucapannya.


"Michel! Astaga kamu ini! Kenapa harus bicara jujur seperti itu? Berbohong sedikit gak apa-apa dong," decak Eden merasa tidak habis pikir. Wanita bernama Michel ini ternyata benar-benar wanita yang menjunjung tinggi sebuah kejujuran.


"Dasar anak nakal!" Decak Daren seraya menggelengkan kepalanya samar, "Jadi, kamu benar-benar meminta sekretaris kamu ini untuk membohongi Daddy?"


"Maaf, Bos Daren. Saya belum selesai bicara, izinkan saya untuk menjelaskan kepada Anda agar Anda tidak salah paham nantinya," sela Michel bahkan sebelum Eden sempat melakukan pembelaan.


"Coba jelaskan sejelas-jelasnya kepada saya tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian," pinta Daren seraya berjalan ke arah sofa lalu duduk dengan bersilang kaki.


Daren seketika mengerutkan kening. Dia tidak dapat menangkap maksud dari perkataan yang baru saja diucapkan oleh Michel. Sekeras apapun dia mencoba untuk berpikir, Daren masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi di antara mereka.


"Tunggu? Saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan, Michel. Coba jelaskan lebih mendetail lagi," pinta Daren benar-benar menuntut kejelasan.


"Saya menyukai Pak Eden, Pak. Bagi saya, dia adalah laki-laki yang sempura, itu sebabnya saya menolak untuk menjadi kekasih bohongan, tapi saya bersedia ketika diminta untuk menjadi kekasih yang sesungguhnya," jelas Michel panjang lebar.


"Kamu menyukai putra saya?" tanya Daren kemudian.


"Betul sekali, Pak. Saya menyukai putra Bapak. Perasaan ini tumbuh begitu saja di hati saya, bagi saya Mas Eden ini adalah laki-laki sempurna, laki-laki idaman saya."


Wajah Eden seketika merah merona. Sudah lama sekali dirinya tidak di sanjung oleh seorang wanita. Dia bahkan mencoba untuk menahan senyuman di bibirnya sedemikian rupa seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


'Si Michel ini benar-benar ya, bagaimana bisa dia terlalu blak-blakan seperti ini di depan Daddy? Berani sekali dia, astaga!' Batin Eden diam-diam merasa kagum dengan kejujuran wanita ini.


Hal yang sama pun dirasakan oleh Daren. Dia benar-benar menghargai kejujuran Michel yang berani menjelaskan secara detail tentang apa yang terjadi di antara mereka. Sepertinya, Michel akan menjadi menantu yang baik jika mereka benar-benar melenggang ke jenjang pernikahan, dan itu adalah harapan terbesarnya saat ini. Daren berharap putranya ini segera mengakhiri masa dudanya yang telah dia jalan selama 5 tahun.


"Oke, saya percaya sama kamu, Michel. Kamu benar-benar wanita hebat, kamu berani bicara jujur kepada saya," sahut Daren seraya tersenyum lebar, "Dan kamu, Eden. Jangan kamu sia-siakan wanita seperti dia. Ingat, tidak semua orang berani bicara jujur seperti dia."


Eden seketika tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali, "Iya, Dad. Iya, astaga! Jadi, rencana perjodohan yang Daddy rencanakan gagal dong, pasti dong!"


"Hmmm! Tentu saja, untuk apa Daddy menjodohkan kamu dengan wanita lain, di saat kamu sudah punya calon pendamping sebaik dan sejujur Michel?" jawab Daren lagi-lagi tersenyum lebar merasa senang, "Hmm! Jadi kapan?"


"Jadi kapan apa?" tanya Eden seketika mengerutkan kening.


"Jadi kapan kalian akan menikah? Apa perlu Daddy yang mencarikan tanggal yang cocok untuk kalian?" jawab Daren membuat Eden dan juga Michel seketika merasa tercengang, "Awas, jangan pacaran terlalu lama, nanti ada setan lewat, gimana? Ingat kamu itu duda, Ed."


"Hah?"


BERSAMBUNG