MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
MHD season 2



30 Menit Sebelumnya


Dret! Dret! Dret!


Ponsel Daren yang dia letakan sembarang di atas meja kerjanya seketika bergetar. Dia yang sedang memeriksa berkas penting pun seketika menghentikan pekerjaannya lalu meraih ponsel dan mengangkat sambungan telpon.


"Halo," sapa Daren seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Halo, Pak. Eu ... ada masalah besar, Pak!" sahut seorang laki-laki suaranya terdengar samar-samar di dalam sambungan telpon.


"Ini siapa? Masalah apa?" tanya Daren wajahnya terlihat kelelahan usai mengerjakannya pekerjaan yang tiada hentinya.


"Itu, Pak Bos. Pak Eden sama sekretarisnya terjebak di dalam lift, Pak!"


"Apa?" Daren sontak berdiri tegak merasa terkejut, "Terjebak di dalam lift gimana maksudnya? Jelaskan dengan benar."


"Lift mengalami konsleting listrik, Pak. Pihak keamanan sedang memperbaikinya sekarang."


Daren segera menutup sambungan telpon. Dia berlari keluar dari dalam ruangan dengan perasaan cemas. Daren tidak ingin kalau sampai putra serta calon menantunya sampai terluka. Laki-laki paruh baya itu berjalan menuruni satu-persatu anak tangga dari lantai 3 menuju lantai dasar di mana ruangan keamanan berada. Sampai akhirnya dia pun sampai di tempat tersebut dengan napas yang tersengal-sengal juga dada yang terlihat naik turun.


"Gimana, apa liftnya sudah bisa diperbaiki?" tanya Daren masuk begitu saja ke dalam ruangan.


"Iya, Pak. Pihak keamanan sedang memperbaiki listrik yang konsleting, tapi kita masih bisa memantau keadaan korban dari rekaman CCTV, Pak," jawab petugas yang berada di sana.


"Katakan lift berhenti di lantai berapa? Kita harus membuka pintu lift itu secara paksa sebelum terjadi sesuatu yang mengerikan," Daren tegas dan penuh penekanan, "Pokoknya, saya tidak mau kalau sampai putra dan calon menantu saya kenapa-kenapa. Jika mereka sampai terluka, kalian semua akan saya pecat!" bentak Daren dengan rahang yang mengeras juga bola mata memerah.


"Baik, Pak. Kami sedang mengusahakan yang terbaik," jawab petugas keamanan seraya membungkuk penuh hormat.


Daren dan beberapa petugas keamanan tersebut berjalan dengan tergesa-gesa menuju lift di mana Eden dan Michel berada. Beberapa karyawan lainnya pun nampak mengikuti dari arah belakang karena merasa khawatir dengan kondisi atasan mereka. Beberapa petugas lainnya nampak sudah berada di tempat kejadian.


"Gimana, apa liftnya sudah bisa di buka?" tanya Daren berdiri tepat di depan lift bersama karyawan lainnya yang sudah berkumpul di sana.


"Sudah, Pak. Kami sudah memperbaiki kerusakannya, ada sedikit masalah tadi," jawab salah satu petugas.


"Ya udah cepat buka, malah bengong aja lagi," bentak Daren benar-benar merasa kesal.


"Baik, Pak."


Petugas segera menekan tombol lift. Beberapa saat kemudian, pintu lift yang semula tertutup pun kembali terbuka. Eden nampak duduk di lantai seraya memeluk tubuh Michael sekretarisnya. Laki-laki itu segera menoleh ke arah pintu tanpa mengurai pelukan. Daren yang menyaksikan hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya bergumam.


"Ck! Ck! Ck! Ini sih namanya musibah membawa berkah," gumam Daren seraya masuk ke dalam lift menghampiri mereka berdua, "Kalian baik-baik saja? Lift-nya sudah diperbaiki, kalian selamat," tanya Daren berjongkok tepat di depan mereka berdua.


"Syukurlah, saya lega sekali," jawab Eden seraya menarik napas lega, "Saya pikir kami akan tewas di sini."


"Lepaskan dulu pelukan kamu, Eden. Malu dilihatin karyawan lain," pinta Daren membuat Eden akhirnya tersadar dan segera mengurai pelukan.


"Maaf, Pak. Tadi saya ketakutan, makannya Pak Bos memeluk saya," sahut Michel dengan wajah pucat pasi juga keringat yang membasahi wajah cantiknya.


Eden seketika berdiri tegak, begitupun dengan Daren yang semula berjongkok tepat di depan mereka berdua. Namun, Michel yang hendak berdiri, tiba-tiba saja kembali tumbang dan menimpa tubuh Daren. Wanita itu tidak sadarkan diri di dalam dekapan calon ayah mertuanya.


Bruk!


Daren sontak merentangkan ke dua tangannya agar wanita itu tidak tersungkur di atas lantai. Eden seketika panik, sedangkan Daren membulatkan bola matanya seraya memeluk tubuh Michel.


"Astaga, Michel!" decak Eden tidak tahu bahwa kekasihnya itu akan tumbang, "Kamu kenapa, Michel?"


Eden segera meraih tubuh kekasihnya. Jika dia tahu akan seperti ini, dirinya tidak akan pernah melepaskan tubuh Michel. Dia pun merasa kesal kenapa ayahnya harus memeluk tubuh langsing Michel? Padahal, Daren melakukan hal itu agar tubuh calon menantunya tidak mendarat di atas lantai.


"Cepat bawa dia ke Rumah Sakit, sepertinya dia masih syok, Ed," pinta Daren.


"Iya saya tahu, kenapa Daddy harus peluk-peluk dia segala sih, dasar!" ketus Eden seraya menggendong Michel dan membawanya keluar dari dalam lift.


"Hah? Siapa peluk-peluk Michel? Udah untung di tolongin," decak Daren mengikuti putranya dari arah belakang dengan perasaan kesal.


Semua karyawan yang berada di sana hanya menyaksikan kejadian tersebut dengan kening yang dikerutkan. Sikap Eden memperlihatkan bahwa dia benar-benar merasa khawatir dengan keadaan sekretarisnya. Tidak sedikit dari mereka yang mulai menduga-duga bahwa memang ada hubungan terselubung di antara bos dan sekretarisnya itu.


"Sedang apa kalian? Bubar! Lanjutkan pekerjaan kalian!" teriak Daren membuat karyawan yang semula berkerumun mulai kembali ke meja kerjanya masing-masing.


* * *


Di Rumah Sakit


Eden berdiri tepat di tepi ranjang dengan perasaan khawatir. Michel kekasihnya masih belum sadarkan diri usai terjebak bersamanya di dalam lift. Jarum infus nampak menempel sempurna di pergelangan tangan kiri seorang Michel. Ke dua matanya pun masih terpejam sempurna. Jujur, melihat Michel seperti itu mengingatkannya akan masa lalu, ketika dirinya mendampingi Airin di Rumah Sakit 5 tahun yang lalu.


Rasa khawatir yang dia rasakan pun sama persis seperti yang dia rasakan kala itu. Eden menggenggam erat telapak tangan Michel seraya mengusap punggung tangannya lembut. Dia pun menatap wajah wanita itu dengan tatapan mata sayu juga bola mata yang memerah.


"Bangun, Michel. Bangun, sayang. Jangan pernah tinggalkan saya seperti Airin," lirih Eden suaranya terdengar bergetar, "Maaf karena saya selalu bersikap sinis sama kamu, tapi sebenarnya saya suka sekali sama kamu, Michel."


Yang di ajak bicara masih bergeming. Hanya suara helaan napasnya saja yang terdengar samar-samar.


"Saya berjanji tidak akan pernah bersikap ketus lagi sama kamu, saya akan mencoba untuk bersikap lembut sama kamu, Michel," lirih Eden mengusap kepala Michel lembut, "Kamu menang, Michel. Kamu berhasil menaklukan saya. Tanpa mengurangi rasa cinta saya kepada mendiang istri saya, kamu telah berhasil merebut hati saya."


Michel seketika mengedipkan pelupuk matanya. Namun, Eden masih belum menyadari hal itu.


"Seperti apa yang pernah kamu katakan kepada saya. Airin tidaklah nyata, dia hanya ada di dalam hati saya saja, sedangkan kamu benar-benar nyata berada di depan mata." Eden kembali meneruskan ucapannya, "Jujur saya akui, saya tidak dapat menahan perasaan saya, saya tidak dapat menahan hati saya untuk tidak jatuh cinta sama kamu. Jadi, bangunlah Michel, saya akan segera melamar kamu secepatnya."


Michel seketika membuka ke dua matanya. Dia mendengar semua yang baru saja diucapkan oleh laki-laki ini. Bibir seorang Michel pun nampak tersenyum lebar, tapi dengan ke dua mata yang berkaca-kaca.


"Pak Bos," lirih Michel membuat Eden seketika merasa senang, "Pak Bos serius akan segera malamar aku? Pak Bos gak bohong, kan?"


BERSAMBUNG