MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Tidak Akan Pernah Merestui



"Jangan seperti ini, Jude. Kamu tahu betul seperti apa aku, kita juga udah kenal lama. Tega sekali kamu ngomong seperti itu,'' ujar Daren mulai merasa kesal.


"Justru karena aku tahu siapa kamu, dan karena kita sudah kenal lama, aku tahu betul laki-laki seperti apa kamu ini. Putriku jadi anak yang pembangkang. Dia bahkan sudah berani berteriak kepadaku ayahnya. Semuanya gara-gara kamu, Daren. Jadi, jangan pernah berharap aku akan merestui dan menjadikanmu menantu!'' ucapan terakhir Jude sebelum dia masuk ke dalam mobil.


Ceklek!


Blug!


Jude membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya. Dia segera menyalakan mesin mobil lalu memundurkan mobilnya tersebut hendak keluar dari halaman. Daren sama sekali tidak menyerah, dia menggedor kaca jendela mobil dan memintanya untuk berhenti.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Jude! Tunggu, Jude. Kita belum selesai bicara,'' teriak Daren kakinya mengikuti laju mobil.


Akan tetapi, Jude sama sekali tidak menanggapi sama sekali, dia terus saja memundurkan mobilnya tidak peduli meskipun Daren mencoba untuk berjalan beriringan dengan mobil tersebut.


"Jude, aku mohon. Jangan seperti ini.''


Lagi-lagi Daren berteriak seraya menggedor kaca jendela mobil. Namun, usahanya pun sia-sia saja ternyata. Mobil tersebut segera melesat di jalanan beberapa saat setelahnya.


Daren hanya bisa menatap mobil sahabatnya itu dengan hati dan perasaan kecewa tentu saja. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa seburuk itukah citranya di mata Jude selama ini? Ternyata kedekatannya dengan Jude menjadi sebuah bumerang untuk hubungannya dengan Nata kekasihnya saat ini.


Sementara itu, Nata ternyata menyaksikan sendiri apa yang dilakukan oleh Daren. Dia berdiri tepat di depan jendela kamarnya, meskipun pintunya dalam keadaan tertutup rapat, tapi tetap saja dia bisa melihat dengan jelas kekasihnya itu mengejar dan berusaha menghentikan mobil sang ayah.


Sakit, rasanya sangat sakit. Awalnya dia berfikir tidak akan sulit untuk mendapatkan restu dari sang ayah karena mereka notabenenya adalah sahabat dekat, tapi ternyata dugaannya salah. Kedekatan sang ayah dengan kekasihnya itu justru menjadi sebuah tembok yang sangat tinggi dan menjadi penghalang untuk jalinan cinta mereka berdua.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Mas? Apa kita kawin lari saja seperti di sinetron-sinetron itu? Atau, hubungan kita harus terakhir karena terhalang restu dari Daddy? Haaa ... Aku gak mau seperti itu, aku gak mau berpisah dari kamu Mas dudaku sayang, hiks hiks hiks!'' gumam Nata, masih saja tidak bisa menahan air mata yang terus saja mengalir dengan begitu derasnya.


Mas dudanya itu tiba-tiba saja berbalik lalu menatapnya. Dia melambaikan tangan seraya tersenyum lebar. Jelas sekali terlihat bahwa senyuman itu bukanlah senyuman bahagia, melainkan senyuman untuk menutupi kesedihan yang saat ini di rasakan oleh Daren sang duda.


Nata membuka jendela kamarnya, dia pun balas tersenyum dan mencoba untuk melakukan hal yang sama. Akan tetapi, Mas dudanya itu seketika meninggalkan tempat itu lalu masuk ke dalam rumahnya sendiri.


"Mas Daren, hiks hiks hiks!" lirih Nata kemudian. Dia hendak menutup jendela kamarnya.


Akan tetapi, gadis itu seketika mengurungkan niatnya saat melihat jendela kamar sang duda di sebrang sana di buka lebar dan Daren kekasih hatinya berdiri tepat di dalam sana. Sontak, Nata pun tersenyum begitu lebar, menatap wajah Daren dengan tatapan mata sayu penuh kesedihan.


Daren tiba-tiba mengangkat sebuah kertas lebar dengan tulisan yang sangat besar.


'JANGAN BERSEDIH, SAYANG.'


Lembar pertama, di turunkan.


'MAS SAYANG KAMU, NATALIA AGATHA.'


Lembar kedua.


'MAS AKAN MEMPERJUANGKAN CINTA KITA.'


Lembar ke tiga.


'JADI, JANGAN MENANGIS DAN BERSABARLAH MENUNGGU.'


Lembar ke empat.


'SAMPAI KAPAN PUN MAS MU INI TIDAK AKAN PERNAH MENYERAH.'


'I LOVE YOU, NATALIA AGATHA. I LOVE YOU POREFER.'


Lembaran terakhir dan tangan Daren benar-benar kosong kini.


"I love you too, Mas," gumam Nata namun masih dapat di mengerti oleh kekasihnya.


Keduanya pun hanya berdiri tepat di samping jendela masing-masing. Saling menatap satu sama lain dengan tatapan mata sayu. Sepertinya perjalanan cinta mereka kedepannya tidak akan mudah untuk dilewati. Mereka berdua pun sadar akan hal itu.


* * *


Satu minggu kemudian.


Tok! Tok! Tok!


"Nata, ini Daddy. Buka pintunya," pintu Jude mengetuk pintu kamar putrinya.


"Aku gak mau bicara sama Daddy, aku benci Daddy,'' teriak Nata dari dalam sana.


"Ada yang ingin Daddy bicarakan sama kamu, penting!"


Ceklek!


Akhirnya pintu kamar pun di buka. Nata berdiri tepat di depan pintu dengan wajah masam. Dia bahkan merasa enggan hanya untuk menatap wajah Jude ayahnya sendiri.


"Minggu depan kita akan pindah dari rumah ini," ucap Jude masuk ke dalam kamar putrinya.


"Apa maksud Daddy?"


"Apa lagi, Daddy dipindahkan ke cabang lain di luar kota."


"Nggak, Daddy pasti sengaja 'kan minta di pindahkan ke sana agar aku gak bisa ketemu lagi sama Mas Daren?" tegas Nata penuh penekanan.


"Astaga, Nata. Sampai kapan kamu mau manggil si Daren itu dengan sebutan Mas? Om ... Panggil dia Om!"


"Bukan urusan Daddy aku mau manggil dia dengan sebutan apa!"


"Pokoknya, kamu bereskan urusan di kampus dan minta surat pindah supaya kamu bisa kuliah di sana.''


Nata hanya diam tidak menanggapi. Dia menundukkan kepalanya seraya memainkan kuku jari jempol seperti biasanya. Wajahnya pun terlihat pucat pasi, keceriaan yang biasanya di perlihatkan oleh Nata hilang seolah ditelan kesedihan.


"Daddy sayang sama kamu, Nata. Daddy ingin yang terbaik untuk kamu, dan Daren itu bukan pasangan yang cocok untuk kamu. Di luaran sana masih banyak laki-laki yang lebih segalanya dari dia. Jadi, Daddy harap kamu menerima keputusan Daddy ini,'' ucap sang ayah lalu keluar dari dalam kamar begitu saja.


Blug!


Nata segera menutup pintu kamarnya keras dan sedikit di hentakan. Dia pun berdiri tepat di belakang pintu dengan menyandarkan tubuh juga kepalanya. Kedua mata gadis itu pun di pejamkan sempurna menahan rasa rindu kepada sang duda yang kini terasa memenuhi relung hatinya.


"Tidak ada cara lain lagi. Aku harus kabur dari rumah ini," gumamnya seketika kembali membuka kedua matanya.


BERSAMBUNG


...****************...