
"Sebenarnya aku bukan mau ke tempat pertemuan itu, Mom." Nata menundukkan kepalanya.
"Maksud kamu?" sang ibu mengerutkan kening.
"Aku harus pergi ke suatu tempat, pokoknya ini penting banget menyangkut masa depan aku, bahkan hidup dan matiku tergantung pada pertemuan malam ini. Jadi aku mohon dengan sangat, bantu aku lolos dari Daddy, please ...'' Nata memohon.
"Memangnya kamu mau ke mana dengan dandanan seperti ini? Apa jangan-jangan, sebenarnya kamu punya pacar di belakang kami?"
"Hehehehe! Kurang lebih seperti itu. Aku mohon bantu aku sekali ini saja, Mom. Ya ... Ya ...."
"Hmm ... Ya sudah, nanti Mommy bicara sama Daddy, tapi kamu harus janji sama Mommy akan mengenalkan pacar kamu itu sama kami."
"Pasti, Mom. Aku pergi dulu sebelum Daddy liat aku nanti."
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya."
Nata menganggukkan kepalnya lalu berlari keluar dari dalam kamar.
"Jangan lari, Nata. Astaga, kamu pakai high hills lho ..." teriak Merry, tapi diabaikan oleh putrinya tersebut.
* * *
Di tempat yang berbeda.
"Sebenarnya kita mau ke mana, Ed? Kalau cuma makan malam saja, kita masih bisa makan di restoran," tanya Daren duduk di dalam mobil, sedangkan Eden sendiri menyetir mobil miliknya dengan kecepatan sedang.
"Udah Daddy jangan bawel, pokoknya aku mau ngenalin Daddy sama wanita cantik, sangat cantik. Dia itu direktur eksekutif di perusahaan yang tadi aku datangi."
"Ish ... Kamu apa-apaan sih, emangnya Daddy apaan pake di kenalin sama wanita segala? Daddy masih bisa cari wanita sendiri, lagian Daddy cuma mau wanita yang mirip seperti Nata. Kalau bisa mukanya harus sama persis kayak dia."
"Hahahaha! Justru itu, wanita ini mirip banget sama si Nata. Daddy pasti terkejut saat melihat wajah dia nanti," jawab Eden juga menertawakan.
"Hah? Nggak-nggak ... Pokoknya kita putar balik sekarang juga. Daddy cuma bercanda tadi, Eden."
"Gimana kita mau putar balik, orang kita udah sampai ko." Eden mulai menepikan mobilnya lalu berhenti tepat di halaman parkir restoran.
Ckiiit!
Mobil pun berhenti kemudian.
"Sekarang turun," pinta Eden.
"Eden, Eden putra Daddy yang paling tampan. Kita pulang ya, Daddy gak mau menikah dengan siapapun. Apa kamu lupa apa yang Daddy katakan waktu itu, kalau Daddy gak masalah hidup menduda seumur hidup Daddy,'' jawab Daren memohon.
"Daddy Daren yang baik hati dan paling tampan, Daddy bakalan menyesal seumur hidup kalau Daddy tidak menemui wanita ini. Pokoknya Daddy turun aja dulu dan temui wanita ini. Aku mohon, please ...'' Eden balik memohon.
"Astaga, Eden."
Ceklek!
Eden membuka pintu mobil, mau tidak mau Daren pun melakukan hal yang sama kini. Keduanya keluar dari dalam mobil tersebut secara bersamaan. Daren berdiri tepat di samping mobil dengan perasaan malas dan juga wajah yang memelas.
"Meja no 28,'' celetuk Eden lalu kembali masuk ke dalam mobil. Tentu saja hal itu membuat Daren seketika berteriak kencang juga merasa heran.
"Hey! Eden, mau kemana kamu!" teriak Daren berusaha mengejar mobil tersebut, tapi tentu saja usahanya itu sia-sia karena mobil putranya itu melesat begitu saja meninggalkan dirinya di tempat itu.
"Dasar anak kurang ajar. Durhaka kami sama orang tua. Daddy udah tua renta kayak gini di terlantarin begitu saja di depan restoran,'' gumam Daren menatap mobil tersebut hingga hilang di telan kegelapan.
Sampai akhirnya, apa yang dia cari pun terlihat. Meja nomor 28 dimana seorang wanita duduk memunggungi dirinya. Daren pun berjalan menghampiri dengan perasaan malas sebenarnya.
Beberapa saat kemudian, wanita itu pun menoleh ke arah samping hingga sang duda bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas tentu saja. Sontak, Daren pun menghentikan langkah kakinya lalu menatap wajah wanita tersebut dengan seksama.
'Tidak, wanita itu tidak mungkin Nata. Dari samping memang terlihat mirip, tapi mana mungkin dia benar-benar Natalia Agatha?' (batin Daren).
Daren meneruskan langkah kakinya dan akhirnya hampir tiba di meja yang di tuju. Semakin jelas terlihat bahwa wanita itu sepertinya memang benar-benar Natalia Agatha, wanita yang sangat dia rindukan kehadirannya. Untuk lebih memastikannya lagi, dia pun mencoba untuk memanggil namanya.
"Nata!" sapa Daren dengan perasaan ragu sebenarnya.
Yang di panggil pun sontak menoleh dan berdiri seraya menatap wajah sang duda kini.
"Mas Daren," gumam Nata dengan perasaan tidak percaya sebenarnya.
Mas dudanya benar-benar berdiri di hadapannya kini. Wajahnya bahkan masih terlihat sama saat terakhir kali mereka bertemu 5 tahun yang lalu. Kedua mata gadis itu pun seketika berkaca-kaca. Dia yakin betul bahwa apa yang ada di hadapannya itu bukanlah sebuah halusinasi seperti yang selalu dia alami selama ini.
"Kamu beneran Natalia Agatha? Nata-nya Mas Daren?"
Nata menganggukkan kepalanya.
"Astaga! Ya Tuhan, Nata kamu--" Daren tidak kuasa untuk meneruskan ucapannya.
Grep!
Laki-laki itu segera memeluk tubuh ramping gadisnya ini, mendekapnya erat seolah tidak ingin lagi melepaskannya seperti yang dia lakukan 5 tahun yang lalu.
"Kamu apa kabar, Nat? Mas gak nyangka kalau wanita yang dimaksudkan sama Eden itu benar-benar kamu," lirih Daren mulai mengurai pelukan.
"Aku baik-baik saja, Mas. Mas sendiri apa kabar? Kenapa wajah Mas seperti tidak menua sama sekali? Mas masih tampan seperti dulu,'' ucap Nata menatap lekat wajah Daren sang duda.
"Kamu terlihat lebih cantik Nata. Wajah kamu, penampilan kamu, semuanya berubah. Terutama bibir kamu, merah menyala seperti baru saja memakan daging mentah, tapi Mas suka. Kamu lebih dewasa, lebih cantik, pokoknya Mas benar-benar pangling melihat wajah kamu.''
Nata hanya tersenyum kecil. Senyuman kecil yang menyiratkan kebahagiaan yang mendalam. Kebahagiaan yang tidak akan dia dapatkan dari laki-laki manapun.
"Sekarang makan dulu ya. Kamu pasti lapar 'kan?''
Nata menggelengkan kepalanya.
"Lho, kenapa?''
"Bawa aku ke suatu tempat dimana hanya ada kita berdua, Mas. Aku takut--"
"Takut Jude akan melihat kita?"
Nata menganggukkan kepalanya samar.
"Baiklah, Mas akan membawa kamu ke tempat yang hanya ada kita berdua di sana."
Daren mengulurkan tangannya dan segera di sambut dengan senyuman manis dari wajah Natalia. Keduanya pun keluar dari dalam restoran tersebut dengan saling menggenggam tangan masing-masing lengkap dengan senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibir masing-masing.
'Genggam erat jangan Mas, Nata. Mas janji gak akan pernah melepaskan genggaman tangan kamu lagi. Mari kita berjuang bersama untuk mendapatkan restu dari Jude, ayah kamu,' (batin Daren).
BERSAMBUNG
...****************...