MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
MHD season 2



Eden benar-benar merasa gugup. Berada hanya berdua saja dengan wanita bernama Michel membuat dirinya tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Padahal, mereka sudah sering menghabiskan waktu bersama di kantor sebagai atasan dan sekretarisnya. Namun, kenapa rasanya berbeda sekarang?


Eden duduk di samping Michel seraya menggaruk kepalanya, "Sudah malam, sebaiknya kamu pulang, Michel?"


"Kamu mengusir aku?" tanya Michel seketika mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.


"Tidak, bukan begitu, saya hanya--" Eden terpaksa menahan ucapannya karena Michel tiba-tiba saja menopang dagunya sendiri menggunakan kepalan tangan seraya menatap wajahnya lekat.


"Saya hanya, apa? Kenapa tidak di teruskan?" tanya Michel membuat Eden semakin merasa gugup.


"Eu ... saya hanya merasa khawatir kalau kamu harus pulang sendirian, malam semakin larut. Gak baik berkendaraan sendiri," jawab Eden seketika memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Makannya, anterin aku pulang dong, bukankah seperti itu seharusnya?" jawab Michel masih dengan posisi yang sama, "Hal yang wajar jika seorang laki-laki mengantarkan pacarnya pulang? Kayak gak pernah pacaran aja sih."


Michel ingin tahu seberapa kuatnya Eden menahan perasaannya apabila dia tatap seperti itu. Dia akan berusaha untuk bertahan tidak peduli seberapa dinginnya dan cueknya laki-laki ini terhadapnya. Dirinya tidak akan pernah menyerah dalam mendapatkan cinta sang duda yang tidak lain dan tidak bukan adalah atasannya sendiri.


"Kamu 'kan bawa mobil sendiri, Michel. Kalau saya mengantarkan kamu pulang, saya pulangnya gimana nanti?" jawab Eden akhirnya menoleh dan menatap wajah Michel, meskipun dia segera memalingkan wajahnya lagi.


"Ada banyak jalan menuju Roma, Mas Eden," sahut Michel membuat Eden seketika tersenyum lucu.


"Memangnya rumah kamu di Roma?"


"Itu hanya istilah, Bapak Eden yang terhormat. Kalau kamu memang berniat mengantarkan aku pulang, aku bisa tinggalkan mobilku di sini," decak Michel menyudahi tatapan matanya seraya menghembuskan napas kasar.


"Kalau mobil kamu di simpan di sini, terus besok kamu berangkat kerja gimana?"


"Ya jemput lagi sama kamu 'lah, gitu aja ko repot."


"Ish, itu namanya menyusahkan saya. Gimana sih?" decak Eden seraya tersenyum menyeringai.


"Aku mau tanya sama kamu, apa kamu pernah berpacaran?"


"Kata siapa saya tidak pernah berpacaran? Saya ini menjadi rebutan para wanita pada jamannya," jawab Eden merasa tidak terima, "Jaman saya muda dulu, saya bisa gonta-ganti pacar sesuka hati saya lho."


"Nah, seharusnya kamu lebih berpengalaman dari aku dong. Kamu tahu seperti apa seharusnya memperlakukan seorang pacar," sahut Michel seketika tersenyum lebar.


"Mohon maaf, Michel. Saya minta sama kamu jangan terlalu banyak menuntut kepada saya," jawab Eden dengan wajah datar, "Saya memang berpengalaman dalam hal pacaran. Saya juga paham betul pacar yang baik itu seperti apa, tapi kita berpacaran karena terpaksa, dan saya tidak mencintai kamu."


"Benar juga, kamu tidak mencintai aku, bisa dikatakan cintaku bertepuk sebelah tangan, tapi--" Michel menahan ucapannya sejenak seraya menatap wajah Eden dari arah samping, "Tapi aku akan membuat kamu mencintai aku, rasa itu akan aku tanam di dalam lubuk hati kamu hingga menjalar di sekujur tubuhmu, dan kamu tidak akan pernah bisa hidup tanpa aku, Bapak Eden yang terhormat," sahut Michel dengan penuh percaya diri.


Eden seketika menoleh dan menatap wajah Michel, mereka pun saling menatap satu sama lain, "Lakukan apa yang baru saja kamu katakan, Michel, tapi saya tidak yakin usaha kamu itu akan berhasil. Di hati saya hanya Airin, cinta saya hanya untuk dia. Maaf, jika saya harus mengatakan hal yang sangat menyakitkan ini, saya hanya tidak ingin kamu terlalu berharap lebih kepada saya dan akan membuat kamu semakin sakit hati nantinya."


Michel seketika tersenyum menyeringai, "Aku tidak peduli, Airin istri kamu sudah tiada. Raganya sudah terkubur di dalam tanah dan jiwanya sudah tenang di alam sana," imbuh Michel tidak mau menyerah, "Aku tidak merasa keberatan sama sekali jika harus bersaing dengan orang yang sudah meninggal, kita lihat seberapa kuatnya cinta kamu sama Airin dan seberapa tahannya kamu berada di dekatku. Aku ini nyata, sedangkan istri kamu yang sudah tiada hanya di dalam hatimu saja. Kamu bisa menyentuhku, tapi tidak dapat menyentuh mendiang istri kamu."


Eden semakin lekat menatap wajah Michel, setiap kata yang dia ucapkan terdengar meyakinkan.


"Satu lagi, hubungan kalian sudah selesai ketika cinta kalian di pisahkan dengan kematian, cinta mendiang istri kamu pun sudah hilang seperti buih di lautan ketika raganya di masukan ke dalam liang lahat." Airin meneruskan ucapannya, "Ingat, Pak Eden. Seumur hidup itu lama lho, apa kamu mau seumur hidup kamu terjebak dalam perasaan semu dan hidup dalam kesepian selamanya?" Michel mempertegas ucapannya, "Tidak ada yang namanya cinta sehidup semati, yang ada juga Lo mati gue kawin lagi," tegas Michel lalu bangkit dan meninggalkan Eden yang saat ini benar-benar merasa tercengang dengan setiap untaian kalimat yang terasa menusuk relung hatinya yang paling dalam.


"Lo mati gue kawin lagi?" gumam Eden merasa tidak percaya bahwa dia akan mendengar kalimat terakhir yang begitu kasar, "Dasar, dia gak tahu aja gimana rasanya ditinggalkan untuk selamanya oleh pasangannya sendiri," decak Eden seraya menatap punggung wanita itu yang berjalan kian menjauh.


* * *


Keesokan harinya, Eden sudah berada di ruangannya. Dia berdiri di belakang pintu yang sedikit terbuka berkali-kali mengintip keluar di mana Michel berada di meja kerjanya seperti biasa. Setelah merenung semalaman, dia pun tersadar bahwa apa yang dirinya katakan semalam terlalu menyakitkan untuk di dengar.


"Tumben kerjanya serius banget?" gumam Eden seraya menatap wajah Michel di luar sana.


Wanita itu pun seketika berdiri lalu berjalan ke arah pintu membuat Eden merasa gelagapan. Dia segera berjalan dengan tergesa-gesa ke arah kursi lalu duduk dengan napas yang tersengal-sengal.


Tok! Tok!


Ceklek!


Pintu pun di ketuk lalu di buka. Michel masuk ke dalam ruangan dengan membawa berkas untuk di tanda tangani oleh sang atasan. Wajah wanita itu terlihat datar tidak seceria biasanya.


"Permisi, Pak Bos. Tolong tanda tangani berkas yang akan saya berikan kepada Bos Daren ini," pinta Michel seraya meletakan lembaran kertas berwarna putih, "Bapak bisa periksa dulu, apakah isinya sudah sesuai apa belum," pinta Michel, raut wajahnya benar-benar datar, sedatar jalan tol.


Eden memeriksa lembaran kertas tersebut dengan perasaan heran.


'Mana yang katanya mau menanamkan rasa cinta di hati saya? Bulsyit, kalau sikap dia dingin kayak gini, mana mungkin saya bisa jatuh cinta sama dia,' batin Eden hatinya tiba-tiba saja dilanda rasa gelisah.


* * * * *