MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Kabur



Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


Pintu ruangan dimana Daren bekerja saat ini di ketuk dan di buka. Sekertaris sang duda pun masuk ke dalam ruangan tersebut lalu berdiri di depan pintu. wanita itu membungkuk hormat kemudian.


"Permisi, Bos. Di bawah ada tamu yang ingin bertemu dengan Bos," ucap sang sekertaris.


"Tamu? Perasaan saya tidak ada janji buat ketemu sama siapapun?" Daren mengerutkan kening.


"Seorang gadis muda, bos. Mungkin dia keponakan bos.''


"Gadis muda? Astaga, Nata!'' Daren sontak berdiri lalu berlari keluar dari dalam ruangan. Tentu saja hal itu membuat sang sekertaris merasa heran.


Daren berlari menuruni tangga, dia berfikir bahwa dengan menuruni tangga akan lebih cepat untuknya sampai ke lobi dimana Nata saat ini berada. Padahal jika otaknya dapat berfikir dengan jernih, tentu saja akan lebih cepat jika dia turun dengan menggunakan lift. Entahlah, Daren sendiri tidak tahu ada apa dengan otak kecilnya.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, Daren akhirnya sampai di lantai dasar. Dia pun berdiri sejenak mencoba untuk mengatur napasnya. Setelah itu, Daren meneruskan langkah kakinya.


"Nata!" Teriak Daren, saat melihat gadisnya itu duduk di kursi dengan wajah datar menatap lurus ke depan.


Gadis itu pun sontak menoleh dan menatap wajah sang duda dengan kedua mata berkaca-kaca. Betapa dia sangat merindukan duda kesayangannya itu. Rindu berada di dalam dekapan hangatnya juga merindukan gombalan manisnya yang selalu saja membuatnya merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.


"Mas Daren?" gumamnya kemudian.


Daren berlari menghampiri, sementara Nata hanya berdiri mematung di tempatnya. Tubuhnya terasa begitu lemas untuk digerakkan. Kakinya bahkan begitu kaku hanya untuk melangkah ke depan. Tubuh Nata sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Grep!


Daren segera memeluk tubuh Nata erat. Sangat erat membuat dada Nata terasa sesak sebenarnya. Meskipun begitu, dia tetap saja balas memeluk tubuh Daren, merasakan begitu nyamannya berada di dalam dekapan hangat laki-laki yang sangat dia rindukan tersebut.


"Aku kangen banget sama, Mas. Hiks hiks hiks!'' tangis Natalia Agatha seketika pecah di dalam dekapan sang duda.


"Mas juga kangen sama kamu, sayang. Maafkan Mas karena Mas gak bisa melakukan apapun saat ini. Mas benar-benar pengecut.''


Perlahan, Daren mulai mengurai pelukan. Dia menatap wajah Nata dan mengusap kedua sisi pipinya yang saat ini membanjir. Wajah gadisnya itu terlihat pucat pasi. Badannya pun sepertinya sedang dalam keadaan demam.


"Kenapa kamu bisa ada di sini? Apa Jude tahu kamu datang ke sini?"


Nata menggelengkan kepalanya seraya terisak.


"Terus?"


"Bisakah kita bicara di tempat lain? Tubuh aku lemas banget, Mas," rengek Nata.


"Baiklah, kita ke ruangan kerja Mas saja kalau begitu."


Nata kembali menganggukkan kepalanya lalu berjalan dengan di papah oleh Daren sang kekasih.


* * *


Sesampainya di ruangan tersebut.


Ceklek!


Pintu ruangan di buka lebar dan keduanya masuk ke dalam sana. Daren menuntun tubuh gadis itu untuk duduk di kursi di dalam ruangan. Setelah itu, dia pun melakukan hal yang sama.


"Eu ... Tunggu sebentar," pinta Daren kembali berdiri lalu keluar dari dalam ruangan.


"Nita, bikinkan susu hangat sama bawakan beberapa camilan enak," pinta Daren kepada sekretarisnya.


"Baik, bos,'' jawab sang sekertaris.


"Wajah kamu pucat banget, sayang? Apa kamu sakit?" tanya Daren mengusap kedua sisi pipinya.


"Aku gak apa-apa, tubuh aku baik-baik saja, tapi tidak dengan jiwamu, Mas."


"Hah?"


"Jiwaku sakit karena harus menahan rasa rindu sama Mas. Rasanya, seperti akan meledak, hiks hiks hiks!" Nata kembali menangis sesenggukan.


"Astaga, Nata sayang. Mas juga rindu sama kamu sebenarnya, tapi Mas gak bisa melakukan apapun. Jude benar-benar gak ngijinin Mas buat ketemu sama kamu," lirih Daren kembali memeluk tubuh Nata erat.


Ceklek!


Pintu ruangan tiba-tiba saja di buka. Nita sang sekertaris masuk ke dalam ruangan dengan membawa segelas susu hangat lengkap dengan camilan yang dimintakan oleh bosnya. Sontak, Daren pun segera mengurai pelukan.


"Maaf, Bos. Saya tidak bermaksud untuk--" Nita merasa tidak enak karena sepertinya dia telah mengganggu kebersamaan bosnya itu dengan seorang gadis muda.


'Apa dia pacarnya bos? Astaga, dia bahkan lebih muda dariku,' (batin Nita).


"Ini susu hangat yang bos minta. Camilannya juga, Bos,'' ucap Nita meletakan nampan berisi pesanan bosnya di atas meja.


"Baik, terima kasih, Nita."


"Sama-sama, bos. Saya permisi dulu kalau begitu."


Daren menganggukkan kepalanya.


"Susunya di minum dulu, sayang,'' pinta Daren setelah sang sekertaris keluar dari dalam ruangan tersebut, segelas susu pun dia raih dan membantu gadisnya itu untuk meminumnya.


Glegek ... Glegek ... Glegek ...


Gelas berisi susu hangat itu pun seketika kosong hanya dengan sekali tegukan. Daren kembali meletakan gelas tersebut di atas meja kemudian.


"Sekarang ceritakan sama Mas. Kenapa kamu bisa ke sini? Ceritakan pelan-pelan saja, sayang."


Nata menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum dia mulai menceritakan apa yang ingin sekali ungkapkan.


"Sebenarnya, aku kabur dari rumah," rengek Nata menundukkan kepalanya.


"Apa? Kamu apa tadi? Ka-bur?" tanya Daren merasa terkejut tentu saja.


"Iya, Mas. Aku terpaksa melakukannya. Daddy akan pindah ke luar kota. Katanya dia dipindah tugaskan ke salah satu cabang di sana. Aku gak mau, aku gak mau pindah ke manapun. Apalagi pindah ke tempat yang jauh dari Mas.''


Daren mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka jika Jude akan bertindak sampai sejauh ini. Sahabatnya itu bukan hanya tidak merestui hubungan mereka, tapi juga berniat memisahkan dan membawa Nata jauh ke tempat dimana dia tidak bisa lagi menemui gadisnya itu.


Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apa dia akan merelakan Nata pergi? Atau, membawa gadis yang katanya sudah kabur dari rumahnya itu? Tapi, dia harus membawa Nata ke mana? Dirinya juga bukan laki-laki brengsek yang akan membawa kabur putri orang begitu saja.


"Mas? Kenapa Mas diam saja?" tanya Nata seketika membuyarkan lamunan Daren tentu saja.


"Kenapa kamu harus kabur segala? Jude tambah marah sama kamu nantinya, sayang."


"Terus aku harus bagaimana? Apa aku harus diam saja? Mas juga akan diam saja gitu melihat aku pindah keluar kota? Aku gak mau Mas. Aku gak mau pisah dengan Mas. Bawa aku kemanapun, kalau perlu kita kawin lari saja sekalian. Aku gak butuh restu dari Daddy, aku gak perlu. Yang aku butuhkan sekarang hanyalah Mas Daren. Hiks hiks hiks!''


Cinta benar-benar telah membutakan mata hati dan juga pikiran Natalia Agatha. Apakah Daren setuju dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Nata kekasihnya? Di tunggu kelanjutannya ya Reader.


BERSAMBUNG


...****************...