MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Hamil Di Malam Pertama



"Hahahaha! Nata-nata, sayangku, istriku tercinta. Sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu. Kita masih bisa berhubungan meskipun kamu dalam keadaan hamil, tapi tidak semua gaya bisa kita lakukan. Kita juga harus menjaga kandungan kamu lho,'' ucap Daren tertawa lepas.


"Tapi, emangnya beneran kalau aku ini hamil?"


"Untuk lebih memastikannya lagi, Mas harus membeli alat test kehamilan. Kamu gak apa-apa 'kan kalau Mas tinggal sendiri di sini? Atau, kamu mau Mas panggil si Eden buat nemenin kamu?"


"Gak usah, sayang. Aku gak apa-apa ko di tinggal di sini, tapi Mas perginya jangan lama-lama," rengek Nata dengan nada suara manja.


"Iya Mas gak akan lama ko. Sekarang kita masuk dulu, Mas gendong kamu ke dalam ya."


Nata menganggukkan kepalanya.


Perlahan Daren pun menggendong tubuh istrinya lalu membawanya keluar dari dalam kamar mandi. Dia membaringkan tubuh Nata di atas ranjang pelan juga sangat hati-hati. Wajah istrinya itu terlihat pucat pasi, Daren yakin betul bahwa istri yang baru saja di nikahinya itu sedang mengandung buah hatinya kini.


"Mas pergi dulu, sayang. Eu ... Apa kamu mau makan sesuatu buat ngilangin rasa mual kamu itu? Biar Mas belikan sekalian."


"Hmm ... Aku pengen yang seger-seger, Mas. Rujak mangga muda kayaknya segeeeer banget. Beliin aku itu ya."


"Hah? Rujak mangga muda? Kemana Mas harus cari rujak tengah malam kayak gini?"


"Kemana aja, aku lagi pengen makan itu soalnya."


Daren menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar. Kemana dirinya harus mencari makanan yang diinginkan oleh istrinya yang sepertinya sedang ngidam tersebut.


"Baiklah, Mas akan mencari apa yang kamu inginkan, tapi kalau Mas gak dapat kita masih bisa beli besok pagi, oke?''


Nata mengamggukan kepalanya.


Daren pun mulai berjalan keluar dari dalam kamar. Dia melambaikan tangannya sebelum dirinya mulai membuka pintu kamar. Nata tersenyum menatap kepergian suaminya.


"Hati-hati sayang," ucap Nata kemudian dan hanya di jawab dengan anggukam kecil oleh suaminya tersebut.


Ceklek!


Blug!


Pintu kamar hotel pun di buka dan di tutup setelah Daren benar-benar keluar dari dalam kamar. Tidak lama kemudian, pintu kamar pun kembali di buka membuat Nata merasa heran tentu saja. Suaminya itu baru saja keluar, tapi sudah kembali beberapa saat kemudian.


"Ko cepet banget Mas--" tanya Nata tidak meneruskan ucapannya.


"Daddy meminta aku buat jagain kamu, Nat. Eh ... Maksudnya, Mommy. Hadeuh, aku harus membiasakan diri memanggil kamu dengan sebutan Mommy, rasanya canggung banget tau," celetuk Eden berjalan masuk ke dalam kamar.


"Ish ... Mau tidak mau kamu harus membiasakan diri memanggil aku dengan panggilan itu mulai sekarang. Sekarang aku ibu kamu, jadi anak yang baik ya Eden sayang," jawab Nata sedikit bercanda.


"Iya-iya, Mommy Nata. Aku janji akan menjadi anak yang baik dan penurut. Tapi ngomong-ngomong, kenapa Daddy keluar di malam-malam begini? Bukankah seharusnya kalian menikmati malam pertama kalian ini ya? Ko Mommy malah di tinggalin kayak gini?''


"Mas Daren lagi beli alat test kehamilan," celetuk Nata merasa keceplosan.


"Hah? Beli apa tadi? Alat test kehamilan? Kalian baru menikah tadi siang, tapi Daddy udah beli alat test kehamilan? Hahahaha!''


'Sial, kenapa aku pake keceplosan segala sih? Jadi malu 'kan?' (batin Nata).


Natalia Agatha seketika menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Bahkan dia juga menutup kepalanya menggukan selimut tersebut merasa malu tentu saja. Eden yang menyaksikan hal itu bisa merasakan hal tersebut tentunya, rasa tidak enak hati pun dia rasakan kini.


"Akhirnya aku bakalan punya seorang adik di usiaku yang sudah sebesar ini. Rasanya seperti mimpi, tapi aku juga gak nyangka kalau akan datang secepat ini. Makasih, Nata. Eh ... Jadi salah lagi 'kan. Maksudku, makasih, Mom karena Mommy sudah memberikan kebahagiaan kepada keluarga kami. Sekarang aku merasa memiliki keluarga yang lengkap,'' lirih Eden terdengar tulus membuat Nata seketika membuka selimut yang menutupi wajahnya.


"Apa kamu senang?" tanya Nata menatap wajah Eden sahabat yang kini telah resmi menjadi putra sambungnya.


"Tentu saja senang. Apa Mommy tau selama ini aku hidup kesepian? Meridukan mendiang Mommy kandungku setiap malam, apa lagi melihat Daddy hidup sendiri tanpa seorang pendamping. Semua itu membuat aku merasa sedih sebenarnya.''


"Ya memang, kalau di depan Mommy aku selalu terlihat ceria. Tapi tidak saat aku sedang sendirian di rumah."


"Hmm ... Semoga aku bisa menjadi ibu yang baik untuk kamu, Ed."


"Tak perlu, Mommy gak perlu jadi ibu yang baik buat aku. Mommy cukup jadi istri yang buat Daddy dan menjadi ibu yang baik juga buat calon adik aku kelak. Lagi pula, sebentar lagi aku juga akan segera menikah dan meninggalkan kalian berdua nantinya."


"Eden ... Kamu udah dewasa juga ternyata," lirih Nata penuh rasa haru.


Ceklek!


Pintu kamar hotel pun di buka. Daren masuk ke dalam kamar kemudian. Eden dan juga Nata pun mengakhiri percakapan mereka.


"Karena Daddy udah kembali, aku balik ke kamar ya. Selamat menikmati malam pertama kalian," pamit Eden dengan wajah ramahnya keluar dari dalam kamar.


"Makasih, Ed,'' ucap Nata dan hanya di jawab dengan lambaiaan tangan oleh pemuda itu.


Ceklek!


Blug!


Pintu hotel pun di buka dan di tutup kembali setelah Eden benar-benar keluar dari dalam kamar tersebut.


"Gimana Mas. Mana rujak pesanan aku?" tanya Nata kemudian.


"Ko malah nanyain rujak? Bukannya nanyain alat test kehamilan?" Daren berjalan menghampiri.


"Rujaknya dulu mana? Aku lagi pengen makan itu soalnya.''


"Sayang, makan rujaknya besok aja ya. Mas udah muter-muter cari apa yang kamu pesan itu, tapi gak ada. Sekarang cepat kamu gunakan alat test ini biar kita bisa lebih memastikan kamu beneran hamil apa nggak."


"Ikh, nanti aja di testnya."


"Sekarang aja, sayang. Mas penasaran banget soalnya."


"Tapi gendong," rengek Nata dengan nada suara manja seperti biasanya.


"Hmm ... Pasti dong, Mas bakalan temenin kamu di kamar mandi, kita lihat sama-sama hasil testnya nanti, oke?"


Nata menganggukan kepalanya.


Pelan tapi pasti, Daren mulai menggendong tubuh Nata istri tercinta dan membawanya ke dalam kamar mandi. Perlahan, dia pun mulai menurunkan tubuh sang istri sesaat setelah mereka berdua sampai di dalam sana.


"Sekarang kamu buang air kecil dulu, sayang. Tampung di wadah kecil ini," pinta Daren memberikan wadah kecil tersebut.


"Mas keluar dulu dong.''


"Gak usah, Mas gak bakalan ngintip ko.''


"Tapi, Mas. Aku malu dong.''


"Gak usah malu, sayang. Lakukan aja, Mas suami kamu lho.'' Daren perlahan mulai berbalik. Dia pun seketika menahan senyumannya saat mendengar suara percikan air yang terdengar nyaring tepat dibelakangnya.


BERSAMBUNG


...****************...