
Daren dan juga Nata seketika merasa panik tentu saja. Eden benar-benar berada di luar sana membuat keduanya bangkit lalu berlarian ke sana ke mari mencari tempat untuk bersembunyi. Nata bahkan meletakan sembarang roti miliknya yang belum sempat dia cicipi sama sekali.
"Bagaimana ini, Mas? Gimana Eden bisa tahu kita ada di sini?" bisik Nata membulatkan bola matanya, lalu berjongkok dan masuk ke dalam kolong meja makan.
"Mas juga gak tahu! Astaga, sayang. Mau apa kamu di sana?" Daren menarik pergelangan tangan Nata kemudian.
"Ya sembunyi 'lah, apa lagi. Aku gak mau kalau sampai kita tertangkap basah di sini," jawab Nata tubuhnya digerakan sedemikian rupa merasa gugup tentu saja.
"Jangan sembunyi di sana dong. Ikut Mas sekarang juga."
Sang Duda pun menarik pergelangan tangan Nata lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
Ceklek!
Pintu lemari pakaian pun di buka lebar, Daren memintanya masuk ke dalamnya kemudian. Nata terpaksa mengikuti keinginan kekasihnya itu karena dia benar-benar kehabisan akal sekarang. Tubuh kecilnya pun berjongkok di antara beberapa buah pakaian yang di gantung rapi di dalam lemari.
"Kamu tunggu sebentar di sini, Mas janji gak akan lama. Mas akan mengusir putra Mas yang menyebalkan itu. Gangguin aja Daddy-nya lagi pacaran, dasar anak gak sopan,'' gerutu Daren merasa kesal.
Blug!
Pintu lemari pun kembali di tutup kemudian dengan Nata meringkuk di dalamnya.
Tok! Tok! Tok!
"Dad? Kenapa lama sekali?" teriak Eden lagi membuat Daren semakin merasa kesal.
Ceklek!
Pintu utama di buka lebar. Daren berdiri tepat di belakang pintu menatap wajah sang putra seraya tersenyum cengengesan. Dia bahkan berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya sekarang.
"Ada apa si, Ed? Pagi-pagi udah bikin keributan aja si," tanya Daren.
Eden sama sekali tidak menanggapi pertanyaan sang ayah. Dia masuk begitu saja ke dalam Vila seraya menatap sekeliling mencari keberadaan wanita yang semalam masuk ke dalam mobil ayahnya. Dia pun membuka satu-persatu kamar yang berada di sana lalu kembali menutupnya setelah memastikan bahwa kamar itu dalam keadaan kosong.
"Mana wanita itu?"
"Wanita yang mana maksud kamu? Daddy hanya sendirian di sini!"
"Bohong, Daddy pasti bohong 'kan? Jelas-jelas aku melihat dengan mata kepalaku sendiri seorang wanita masuk ke dalam mobil Daddy semalam, kalian bahkan menginap berdua di sini? Wah! Daddy benar-benar luar biasa. Dimana wanita murahan itu?!" teriak Eden membulatkan bola matanya.
"Memangnya kenapa kalau Daddy bersama seorang wanita? Apa hak kamu melarang-larang Daddy kayak gini? Jangan ikut campur lagi dengan urusan pribadi Daddy, sudah cukup kamu mengekang kehidupan Daddy selama ini. Memangnya kamu ini orang tua Daddy apa?" Daren balas berteriak, teriakan mereka bahkan sampai terdengar oleh Nata di dalam sana.
"Apa yang terjadi dengan mereka? Apa ayah dan anak itu lagi bertengkar? Aku bahkan gak pernah melihat mereka seperti itu," gumam Nata menggigit bibir bawahnya keras.
Dia berfikir bahwa Daren dan Eden bertengkar karena dirinya. Apa yang akan terjadi dengan hubungannya kedepan jika Eden terus bersikap keras seperti ini? Apakah hubungan dirinya dengan sang duda akan berakhir juga pada akhirnya? Nata menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, meratapi nasib cintanya yang akan berakhir tragis, pikirnya.
Sementara itu. Eden masih bersikeras bahwa ayahnya itu memang menyembunyikan seorang wanita di dalam Vila. Sebenarnya, dia sama sekali tidak masalah jika ayahnya itu memang sedang bersama wanita. Akan tetapi, hal yang membuat dirinya merasa curiga adalah, kenapa ayahnya itu harus bersikeras menyembunyikan wanita tersebut?
Siapa wanita itu sebenarnya? Apa dia wanita yang dia kenal? Atau, wanita itu adalah wanita muda yang umurnya sebaya dengan dirinya? Pertanyaan-pertanyaan itu mengusik hati seorang Eden.
"Lebih baik kamu pulang sekarang juga sebelum Daddy benar-benar marah kepada kamu, Ed. Apa kamu mau Daddy mencabut semua pasilitas yang selama ini Daddy berikan? Bahkan uang saku kamu pun akan Daddy stop jika kamu terus bersikap seperti ini?"
"Hahahaha! Daddy udah berani mengancam aku sekarang? Siapa sebenarnya wanita itu? sampai-sampai Daddy bersikap seperti ini sama putra Daddy sendiri?"
"Daddy sudah bilang, Daddy tidak menyembunyikan wanita manapun di sini? Astaga, kamu itu keras kepala, Eden!"
"Baiklah, aku akan mencoba untuk percaya. Tapi tunggu ..."
Eden tiba-tiba saja berjalan ke arah dapur dan berdiri tepat di pinggir meja makan. Pemuda itu menatap dua piring berisi roti sandwich di atasnya. Dua gelas susu putih pun berada tepat di samping piring masing-masing. Tentu saja hal itu membuat Eden semakin merasa curiga.
"Ini apa, Dad? Kenapa ada dua piring dan dua gelas di sini?"
BERSAMBUNG
...****************...