
Eden mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dirinya terpaksa memenuhi permintaan Natalia Agatha Ibu sambungnya untuk menjemput mereka di sekolah Taman Kanak-Kanak. Sebenarnya Eden malas melakukan hal itu, bukan karena dia malas bertemu dengan Nata, tapi karena dirinya enggan untuk bertemu dengan Jackie, putra kandungnya sendiri.
Ckiiit!
Mobil yang dia kendarai pun berhenti tepat di depan pintu pagar sekolah. Eden keluar dari dalam mobil lalu menatap sekeliling. Tidak lama kemudian, Nata keluar dari dalam gerbang bersama si kembar juga Jackie.
"Akhirnya kamu datang juga, Ed. Terima kasih lho, udah bersedia menjemput ke sini," sahut Nata seraya tersenyum lebar.
"Apa sih yang nggak buat Ibu tiri saya yang cantik ini?" jawab Eden seraya tersenyum cengengesan, "Kita pulang sekarang, saya masih ada meeting soalnya."
Nata tiba-tiba saja berjongkok tepat di depan Jackie, "Jackie sayang, kamu gak apa-apa 'kan pulang sama Kaka Eden? Katanya kamu malas ikut Mommy sama si kembar ke salon," tanya Nata membuat Eden seketika merasa terkejut.
"Tunggu, yang pulang cuma Jackie aja? Kalian gimana?" tanya Eden mendadak merasa malas.
"Kami mau ke salon dulu, Ed. Si kembar pengen creambath katanya, mau potong rambut juga," jawab Nata kembali berdiri tegak, "Kamu gak apa-apa 'kan antar Jackie pulang? Tau sendiri 'lah kalau kami ke salon itu gak cukup 1 jam atau 2 jam."
"Iya, Om. Kepala aku gatal-gatal, pengen creambath, keramas, pokoknya aku sama Axela dan Mommy mau perawatan di salon. Masa Kaka Jackie ikut? Dia 'kan laki-laki," celoteh Axelia dengan begitu polosnya.
Eden tersenyum lebar seraya meraih tubuh adik kesayangannya lalu menggendongnya kemudian, "Aduh, adiknya Kaka Eden. Kamu lucu sekali si, Nak? Masih kecil udah tahu perawatan segala? Siapa yang ngajarin sih?" tanya Eden seraya menatap wajah sang adik yang terlihat begitu menggemaskan, "Pasti Mommy kamu yang ngajarin? Kamu persis seperti Mommy kamu waktu kecil, ganjen," celetuk Eden membuat Nata refleks menepuk pundak pemuda itu seraya tersenyum kecil.
"Ish, apaan sih, Ed. Emangnya kamu masih ingat seperti apa Mommy kamu ini waktu masih kecil?" tanya Nata kemudian.
"Tentu saja, mana mungkin saya lupa Ibu tiri yang baik hati dan tidak sombong? Kamu tahu, si kembar mirip sekali dengan kamu saat masih kecil," jawab Eden lalu kembali menurunkan tubuh si cantik Axelia.
Nata hanya bisa tersenyum lebar. Kenangan masa lalu tiba-tiba saja singgah di otaknya. Dirinya pun kembali mengingat masa kecil di mana dia selalu menghabiskan waktu bersama sahabat yang telah menjadi anak sambungnya ini.
Ekspresi berbeda di tunjukan oleh Jackie. Dia menatap wajah Eden dengan tatapan mata sayu juga raut wajah yang terlihat sedih. Melihat bagaimana Eden memperlakukan si kembar dengan begitu hangat, membuat anak itu semakin merasa heran. Kenapa laki-laki itu tidak memperlakukan hal yang sama kepada dirinya? Padahal, dia ingin sekali di sayangi dan diperhatikan seperti si kembar.
Nata yang menyadari tatapan mata Jackie segera berjongkok tepat di depan anak itu, "Jackie sayang, Mommy janji bakalan bawain kamu oleh-oleh, katakan kamu ingin dibelikan apa?" tanya Nata seraya merapikan seragam yang dikenakan oleh Jackie.
"Tidak usah, Mom. Aku gak apa-apa ko, aku ingin segera pulang," jawab Jackie seraya menunduk sedih.
Nata memeluk tubuh Jackie seolah dapat merasakan apa yang sedang di rasakan oleh anak itu. Dia bahkan mengusap punggungnya lembut dan penuh kasih sayang.
'Sabar ya, Nak. Mommy tahu apa yang sedang kamu rasakan. Mommy juga yakin suatu saat nanti, Ayah kamu akan menyadari betapa berharganya kamu dan dia akan menyayangi kamu selayaknya seorang Ayah yang menyayangi Anak kandungnya,' batin Nata seraya memejamkan ke dua matanya sejenak sebelum akhirnya kembali mengurai pelukan.
"Kamu pulang dulu gih, sampai rumah istirahat dan minta Bibi untuk menyiapkan makan siang untuk kamu," lirih Nata mengusap kepala Jackie lembut.
"Kalian ke salon sama siapa? Biar saya antar dulu ke sana ya, setelah itu baru saya antar Jackie pulang," ujar Eden menatap wajah Nata dan si kembar secara bergantian.
"Tidak usah, Mommy sama si kembar sudah memesan taksi ko," jawab Nata.
"Hmm! Baiklah, saya pulang sekarang ya," sahut Eden lalu berjalan ke arah mobil dan masuk ke dalamnya.
Sedangkan Jackie masih berdiri di tempat yang sama. Dia benar-benar diabaikan, Eden bahkan tidak meliriknya sama sekali. Nata segera memapah Jackie berjalan ke arah mobil dan membukakan pintu untuknya.
"Baik, Mom. Aku pulang dulu ya," jawab Jackie tersenyum hambar.
"Hati-hati di jalan, Ed. Ingat, antar dia dengan selamat, oke?" pesan Nata, mengalihkan pandangan matanya kepada Eden yang sudah siap untuk menyetir.
"Siap Ibu tiri," jawab Eden sebelum akhirnya mulai menyalakan mesin mobil.
Blug!
Nata kembali menutup pintu mobil dan menatap kepergian mobil berwarna putih tersebut. Dia benar-benar berharap bahwa Eden akan membuka pintu hatinya dan menerima kehadiran Jackie anak kandungnya sendiri.
'Mommy selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, Ed, Jackie,' batin Nata menatap mobil tersebut sampai benar-benar menghilang di antara padatnya pengendara yang memenuhi jalanan.
* * *
Di Perjalanan
Suasana di dalam mobil benar-benar terasa hening. Baik Eden maupun Jackie tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Eden benar-benar fokus dalam menyetir, ekspresi wajahnya terlihat datar. Dia seperti tidak menganggap kehadiran Jackie yang saat ini duduk di sampingnya.
Sedangkan Jackie merasa canggung, bahkan sangat canggung. Dia menoleh dan menatap wajah Eden dari arah samping.
"Jangan liatin saya seperti itu," pinta Eden dengan nada suara dingin, "Saya tidak suka ya kamu liatin saya kayak gitu?"
Jackie mengabaikan peringatan laki-laki bernama Eden itu. Dia semakin lekat dalam menatap wajahnya dengan tatapan mata sayu. Anak berusia 5 tahun itu seolah dapat merasakan ikatan batin dengan ayah kandungnya ini. Sebuah ikatan yang tidak dapat dirasakan oleh Eden karena hatinya telah di tutupi oleh rasa dendam.
"Kalau kamu masih ngeliatin saya seperti itu, maka saya akan menurunkan kamu di sini, mau?" ketus Eden merasa kesal.
"Kenapa Kaka Eden begitu membenci aku?" tanya Jackie secara tiba-tiba membuat Eden merasa terkejut tentu saja.
"Jangan panggil saya dengan sebutan Kaka, saya bukan Kaka kamu," ketus Eden tanpa menoleh sedikit pun.
"Kalau Kaka Eden bukan Kaka aku, terus siapa?" Jackie kembali bertanya dengan wajah datar, "Tidak mungkin 'kan kalau Kaka adalah Ayah aku?"
Ckiiit!
Mobil yang dikendarai oleh Eden tiba-tiba saja melipir dan berhenti tepat di tepi jalan raya.
"Kamu mau saya turunkan di sini?" tanya Eden dengan rahang mengeras, tapi masih enggan untuk menatap wajah anak itu.
"Tidak, Kak. Maaf, aku janji tidak akan mengatakan sepatah katapun lagi," jawab Jackie seketika menunduk sedih, hati yang sudah terluka semakin merasa kecewa.
"Kalau kamu berani bersuara lagi, maka saya akan benar-benar menurunkan kamu di jalanan, paham?" bentak Eden penuh penekanan, "Dasar anak pembawa sial!"
* * * * *