
Budiman seketika mengerutkan kening. Ayah mertua? Apa dirinya tidak salah dengar? Laki-laki ini memanggilnya dengan sebutan ayah mertua? Budiman tersenyum menyeringai seraya menatap wajah Eden dengan tatapan mata tajam.
"Ayah mertua?" ejeknya lalu memalingkan wajahnya ke arah lain, "Siapa kamu berani memanggil saya dengan sebutan Ayah mertua?"
"Perkenalkan, Yah. Dia Bos aku, sekaligus pacar aku, hehehe!" sahut Michel seraya tersenyum cengengesan.
"Laki-laki ini Bos kamu sekaligus pacar kamu?" tanya Budiman mengalihkan pandangan matanya kepada Michel, "Jangan bercanda Michel, masa laki-laki lemah kayak dia calon menantu Ayah?"
Budiman menatap wajah Eden dari ujung kaki hingga ujung rambut seraya menaikan ujung bibirnya. Dari penampilannya saja Eden terlihat seperti laki-laki lemah. Dia ingin seorang menantu yang memiliki perawakan tinggi, gagah dan memiliki wajah berwibawa.
Sedangkan Eden, jauh dari kriteria yang dia inginkan. Laki-laki ini memiliki postur tubuh yang kurang kekar juga tidak terlalu tinggi. Jangankan berwibawa, raut wajahnya pun terlihat seperti seorang pelawak menurut Budiman.
"Perkenalkan, Om. Saya Eden calon menantunya, Om," ucap Eden memperkenalkan diri seraya mengulurkan telapak tangannya.
Budiman mengabaikan uluran tangan Eden. Dia kembali mengalihkan pandangan matanya kepada Michel putrinya dengan wajah datar. Hal tersebut membuat Eden merasa kecewa tentu saja, ternyata tidak mudah menaklukkan hati ayah mertuanya.
"Kita pulang sekarang, Michel. Kamu sudah terlihat baik-baik saja," ujar Budiman.
"Saya akan mengantarkan Michel pulang, Om," sahut Eden seraya tersenyum ramah.
"Tidak usah, saya bawa mobil sendiri," jawab Budiman dengan nada suara dingin.
"Aku mau pulang sama pacar aku, Yah," rengek Michel dengan nada suara manja.
"Tapi Ayah udah jauh-jauh datang ke sini untuk menjemput kamu, Michel. Ayah juga khawatir dengan keadaan kamu," jawab Budiman menatap sayu wajah sang putri.
"Tapi aku maunya pulang sama pacar aku." Michel kembali merengek manja layaknya seorang anak kecil yang sedang merajuk.
Budiman menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, "Hmm! Baiklah kalau kamu maunya seperti itu," sahutnya lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Eden, "Kamu, antarkan putri saya sampai rumah dengan selamat. Ingat, kalau tubuhnya ada yang lecet sedikit saja," Budiman menahan ucapannya sejenak, "Saya akan cincang tubuh kamu ini."
Glegek!
Eden kembali menelan ludahnya kasar. Apa calon mertuanya ini seorang psikopat hingga berniat untuk mencincang tubuhnya bak daging ayam? Eden mulai merasa ketakutan.
"Ayah! Ayah selalu seperti ini!" teriak Michel seketika merasa kesal, "Kalau Ayah kayak gini terus, gak bakalan ada laki-laki yang mau sama aku. Ayah mau aku jadi perawan tua selamanya?"
Michel mulai merasa kesal. Sikap sang ayah benar-benar sudah keterlaluan. Ayahnya itu memang selektif dalam hal memilik calon menantu, tapi apa yang baru saja diucapkan oleh ayahnya sudah di luar akal logika.
"Hahahaha! Ayah cuma bercanda, sayang. Jangan ngambek gitu dong." Budiman seketika tertawa nyaring, "Lagian kamu ini. Kayak gak ada laki-laki lain aja, masa Bos kamu yang letoy ini mau jadi menantu Ayah?"
"Ayah!" Michel kembali merengek.
"Iya-iya, sayang. Astaga! Ayah pulang sekarang, Ayah tunggu kamu di rumah, oke?"
Michel hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah kesal. Sementara Budiman segera keluar dari dalam ruangan setelah melirik sekilas wajah Eden dengan wajah datar.
"Maafkan sikap Ayah, Pak Bos. Beliau memang seperti itu," lirih Michel merasa tidak enak.
Eden mengeluarkan sapu tangan dari saku celana yang dia kenakan lalu menyela keringat yang memenuhi wajahnya, "Gak apa-apa, saya baik-baik saja, sayang, tapi kenapa kamu gak bilang kalau Ayah kamu ternyata seorang Tentara?" Jawab Eden seraya tersenyum hambar.
"Aku baru mau cerita sama Pak Bos. Lagian, kemarin-kemarin mana ada waktu untuk aku menceritakan tentang hal ini, orang Pak Bos selalu menghindari aku terus," jawab Michel.
"Hmm! Benar juga," sahut Eden seraya menggenggam telapak tangan Michel erat, "Ini tantangan untuk saya. Saya harus bisa menaklukan Ayah kamu apapun yang terjadi."
"Tidak akan mudah menaklukkan Ayah, Pak Bos. Entah sudah berapa banyak laki-laki yang menyerah berhadapan dengan calon Ayah mertua seperti beliau," imbuh Michel seketika memasang wajah muram.
"Kamu tidak usah khawatir, saya tidak akan pernah menyerah. Percayalah dengan cinta saya, Michel. Cinta yang saya miliki untuk kamu tidak akan mudah goyah meskipun di hantam badai, tidak akan pernah runtuh meskipun di terkam angin ****** beliung."
"Ish, Pak Bos bisa aja," decak Michel seraya menahan senyuman di bibirnya.
* * *
Setelah keadaan Michel benar-benar membaik, Dokter memperbolehkan wanita itu pulang dengan catatan harus banyak beristirahat. Seperti apa yang sudah dijanjikan oleh Eden, dia mengantarkan Michel pulang dengan selamat dan tanpa ada yang kurang satu apapun.
Dengan perasaan berdebar, mobil yang dikendarai oleh Eden pun mulai memasuki halaman luas kediaman Budiman hingga akhirnya berhenti tepat di depan teras. Michel segera keluar dari dalam mobil di susul oleh Eden dengan perasaan ragu-ragu. Jujur, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa ketakutan untuk bertemu dengan calon ayah mertuanya itu.
Ceklek!
Pintu utama pun di buka. Michel masuk ke dalam rumah sedangkan Eden hanya berdiri tepat di depan pintu seraya menatap sekeliling mencari keberadaan Budiman sang calon ayah mertua.
Michel seketika menghentikan langkah kakinya lalu menoleh dan menatap wajah Eden, "Kenapa Pak Bos diam di situ? Masuk," pinta Michel seraya tersenyum kecil, "Ayah masih di kantor. Dia biasa pulang sore hari."
Eden seketika menarik napas lega. Dia pun masuk ke dalam rumah dengan senyuman yang mengembang dari ke dua sisi bibirnya. Akhirnya, dia tidak perlu bertemu dengan laki-laki menyeramkan itu.
'Selamat-selamat, Ayah mertua belum pulang. Saya bisa bebas berduaan dengan Michel,' batin Eden, seraya duduk di kursi ruang tamu.
"Sebentar, Pak Bos. Saya mau meminta Bibi membuatkan minuman untuk kamu," pinta Michel melanjutkan langkah kakinya.
Eden mengedarkan pandangan matanya menatap sekeliling. Entah mengapa rumah Michel terasa begitu menyeramkan. Sepertinya, calon ayah mertuanya itu memiliki hobi berburu karena hiasan dinding berupa kepala kijang berukuran besar nampak bertengger di tembok. Belum lagi, beberapa hiasan lain yang identik dengan hewan buruan nampak di tempel di beberapa sudut ruangan.
"Pak Bos pasti lega karena Ayah tidak ada di rumah," tanya Michel seraya berjalan menghampiri lalu duduk tepat di samping Eden.
"Hah? Siapa bilang, saya justru ingin berbincang dengan Ayah kamu. Sepertinya dia orangnya asik untuk di ajak ngobrol," jawab Eden tentu saja dia berbohong.
"Benarkah? Kamu ingin ngobrol banyak sama Om?" tiba-tiba saja terdengar suara Budiman berdiri tepat di depan pintu.
'Astaga, kapan dia datang? Tau-tau udah ada di situ aja. Mampus gue,' batin Eden wajahnya seketika pucat pasi.
BERSAMBUNG