
"Bawa aku pergi dari sini, Mas. Kita kawin lari saja, aku mohon. Daddy jahat. Hiks hiks hiks ..." rengek Nata tidak berhenti menangis, dia benar-benar telah dibutakan oleh cinta.
"Sayang, Nata-nya Mas. Cinta-nya Mas. Mas bukannya tidak ingin menikahi kamu. Mas ingin sekali menikah dengan kamu, kalau perlu hari ini juga kita ke KUA, tapi atas izin dan restu Jude ayah kamu. Mas bukan laki-laki pengecut, Mas bukan laki-laki brengsek yang akan membawa kabur anak gadis orang," jawab Daren membuat Nata merasa kecewa tentu saja.
"Mas jahat.''
"Mas bukannya jahat, sayang. Mas hanya--"
"Cukup, Mas. Aku gak mau mendengarkan penjelasan Mas lagi. Mas sama saja dengan Daddy. Mas juga gak ngehargai usaha aku yang udah jauh-jauh datang ke sini, tapi Mas malah menolak permintaan aku. Aku benci sama Mas!''
"Sayang, jangan seperti ini. Maafkan Mas, Mas janji akan menikahi kamu jika Jude udah merestui kita. Mas juga tidak ingin berpisah dengan kamu, tapi Mas gak mau gara-gara Mas hubungan kamu dengan orang tua kamu memburuk bahkan sampai bermusuhan.''
"Dengarkan Mas sayang. Walau bagaimana pun mereka itu adalah orang tua kamu, orang yang sangat berjasa di dalam hidup kamu. Kamu sudah menghabiskan waktu selama lebih dari 20 tahun bersama mereka. Sementara dengan Mas, hubungan kita saja baru seumur jagung. Masa iya kamu mau mengorbankan mereka demi Mas?'' Daren berusaha memberi penjelasan.
"Tapi kapan Daddy bakalan merestui hubungan kita? Kapan Mas? Sampai tahun baru monyet pun Daddy gak akan pernah memberikan restunya untuk kita. Apa Mas menyerah dengan hubungan kita? Apa Mas ingin kita putus dan aku pergi jauh, begitu?!'' Nata menaikan suaranya.
"Tidak, sayang. Bukan seperti itu, Mas gak mau putus dari kamu. Mas cinta sama kamu, Natalia Agatha. Namun, jika kamu memilih untuk kabur dan kita kawin lari seperti yang kamu katakan tadi, itu adalah jalan yang salah. Sangat salah. Jude bukan hanya tidak akan memberikan restunya, tapi dia juga akan semakin membenci Mas karena telah membawa kabur anak gadisnya. Putri satu-satunya yang dia punya, putri yang paling dia sayangi. Reputasi Mas di mata ayah kamu itu akan semakin jelek, sayang. Kamu mau Mas di cap sebagai laki-laki jahat di mata orang tua kamu?''
Nata menggelengkan kepalanya lalu menunduk sedih.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, Mas? Aku gak mau pisah dari kamu."
Daren memeluk tubuh Nata kemudian. Dia pun mengusap punggung gadis itu lembut dan penuh kasih sayang. Betapa dirinya sangat mencintai gadis itu lebih dari apapun bahkan melebihi cintanya kepada mendiang istrinya.
"Mas juga tidak ingin berpisah dari kamu, sayang. Kamu lebih tahu dari siapapun betapa Mas sangat mencintai kamu."
"Lalu? Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Nata mengulangi pertanyaannya.
Daren diam seribu bahasa. Dia pun bingung harus berbuat apa. Di satu sisi dia tidak ingin berpisah dengan Nata, tapi di sisi lain dia pun tidak ingin membuat gadisnya itu menjadi anak yang durhaka.
'Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar bingung harus berbuat apa,' (batin Daren merasa dilema).
"Kamu pulang saja dulu. Kabur dari rumah hanya akan memperburuk keadaan. Ingat, seburuk-buruk mereka, mereka tetaplah orang tua kamu. Mas janji akan memikirkan cara agar bisa bicara empat mata dengan ayahmu, Mas janji."
"Janji Mas akan bicara sama Daddy?''
"Iya, sayang. Mas janji.''
Cup!
Satu kec*pan pun mendarat di kening Nata. Kec*pan penuh rasa cinta, kec*pan yang menandakan bahwa gadis itu adalah gadis yang sangat berharga. Meskipun hati Daren berada di ambang dilema. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Mas akan meminta supir untuk mengantarkan kamu pulang, Nat. Maaf karena Mas gak bisa mengantarkan kamu, karena Jude akan semakin marah sama kamu nantinya.''
"Mas antar kamu sampai ke bawah?"
Nata kembali menganggukkan kepalanya samar.
Keduanya pun bangkit dan hendak melangkah secara bersamaan, tapi tiba-tiba saja tubuh Nata ambruk tepat setelah dia berdiri tegak.
Bruk!
Gadis itu benar-benar ambruk tidak sadarkan diri. Jika saja tubuhnya tidak di tahan oleh Daren, mungkin tubuh rampingnya itu benar-benar mendarat di atas lantai. Daren tentu saja merasa panik, dia segera menggendong Nata dan membaringkannya di atas kursi.
''Nata, bangun sayang. Kamu kenapa? Astaga ..." Daren mencoba untuk membangunkan kekasihnya, tapi Nata masih bergeming. Tidak ada pilihan lain lagi, Daren segera menggendong tubuh gadis itu dan akan membawanya ke Rumah Sakit.
* * *
Di Rumah Sakit.
Jude segera mendatangi Rumah Sakit setelah mendengar kabar dari Daren bahwa bahwa putrinya harus di larikan ke sana karena tiba-tiba saja pingsan. Daren terpaksa melakukan hal itu karena menghargai Jude sebagai sahabatnya sekaligus tidak ingin memperburuk hubungan antara putri dan juga ayahnya, meskipun hubungannya dengan Nata yang menjadi taruhannya di sini.
"Gimana keadaan putriku? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia bisa berada di kantormu, Daren? Astaga!" tanya Jude sesaat setelah dirinya sampai di depan ruangan Unit Gawat Darurat.
"Putrimu ada di dalam, masih di periksa. Maafkan aku, Jude. Semua ini gara-gara aku," Daren menunduk merasa bersalah.
"Tentu saja semuanya gara-gara kamu, Daren. Andai saja kamu tidak mendekati putriku mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Putri yang baik itu tidak akan jadi anak yang pembangkang.''
"Iya-iya, semuanya gara-gara aku. Putrimu jadi seorang pembangkang gara-gara aku, aku yang mendekati dia, salah aku juga yang terlalu mencintai Nata. Aku juga salah karena terlalu berharap lebih dan berpikir bahwa kamu akan merestui hubungan kami. Tapi pikiran aku semuanya salah."
"Semua yang aku lakukan dan semua yang aku pikirkan salah, Jude. Jadi, berhenti memarahi putrimu dan jangan terlalu keras kepadanya. Kasian Nata, apalagi kalau kamu sampai menampar dia segala. Salahkan saja aku di sini, putrimu sama sekali tidak salah," tegas Daren penuh penekanan.
"Menampar? Apa maksud kamu?"
"Kamu pikir pertengkaran hebat kamu dengan Nata itu tidak sampai terdengar ke rumahku?''
Jude hanya diam tidak mengatakan apapun lagi.
"Jika kamu bersikeras seperti ini. Jika memang seburuk itu citraku di mata kamu, bawa Nata pergi jauh ke tempat dimana aku tidak bisa melihat dia lagi, tapi kamu harus ingat satu hal, jika sudah waktunya dia menjadi milikku, serumit apapun itu Tuhan akan tetap bukakan jalan untuk kami bertemu dan bersatu lagi, camkan itu." Tegas Daren penuh penekanan.
'Maafkan Mas, Nata. Mas terpaksa melakukan ini. Yakinlah kepada takdir, kalau kita memang berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi. Kamu boleh membenci Mas, karena Mas hanyalah seorang pengecut,' (batin Daren)
BERSAMBUNG
...****************...