MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Restu



"Apa kamu yakin berpacaran dengan Daren? Dia itu duda lho, kalian berdua terpaut umur yang sangat jauh juga. Malahan, Daren seumuran sama Daddy kamu," tanya Merry sang ibu, lebih bijak dari Jude ayahnya.?


"Tentu saja, Mom. Aku cinta sama Mas Daren, hanya dia laki-laki yang aku inginkan untuk menjadi suamiku, hiks hiks hiks ...!" jawab Nata masih saja tidak bisa menghentikan tangisannya.


"Sabar sayang. Apa kamu tahu apa arti cinta yang sebenarnya? Apa kamu juga tahu kalau yang namanya pernikahan itu tidak sesimpel yang di bayangkan? Rumah tangga juga tidak seindah yang kamu bayangkan, sayang.''


"Tapi aku beneran cinta sama Mas duda, Mom. Aku mau menikah dengan dia secepatnya. Sungguh, hiks hiks hiks!"


"Sayang ... Coba kamu tanya lubuk hati kamu yang paling dalam. Apakah kamu siap untuk menikah muda? Menikah itu artinya kamu harus mengakhiri kebebasan kamu lho, kamu gak bisa bebas main ke sana ke mari. Pernikahan juga bukan sesuatu yang hanya akan dijalani sehari dua hari, tapi seumur hidup. Kamu akan hamil nantinya, punya anak juga. Tubuh kamu akan melar, wajah kamu juga akan melebar kalau sudah lahiran nanti.''


"Yang paling penting lagi, apa kanu yakin akan menikah dengan Daren? Dia ayah dari sahabat kamu sendiri lho. Nata, bagi Mommy tidak masalah kamu menikah dengan siapapun asalkan kamu bahagia, tapi berbeda dengan Daddy kamu, Daren itu teman Daddy. Masa iya tiba-tiba menjadi menantu kami?'' sang ibu menjelaskan panjang lebar.


"Makannya, Mommy bilangan sama Daddy. Kalau aku gak mau menikah kalau bukan sama Mas Daren. Dia itu suami idaman aku, Mom. Aku minta tolong sama Mommy. Hanya Mommy satu-satunya harapan aku."


Merry menarik napas berat, sepertinya sang putri benar-benar telah terjerat cinta sang duda. Akan sulit untuknya membukakan mata hati orang yang telah jatuh cinta. Sekeras apapun dirinya mencoba memberikan pengertian maka sekeras itu pula putrinya akan mempertahankan perasaanya.


"Mom? Kenapa diam saja? Mommy mau 'kan bantu aku?" rengek Nata dengan nada suara manja.


"Mommy akan mencoba bicara sama Daddy kamu, tapi Mommy tidak bisa menjanjikan apapun. Semua keputusan ada di tangan Daddy, dan kamu ... Mommy yakin kamu adalah putri Mommy yang penurut, apapun keputusan kami nanti kamu harus menerima keputusan itu. Oke?"


Nata hanya menganggukkan kepalanya samar. Suara isakan pun masih saja sedikit terdengar. Gadis itu hanya bisa berharap bahwa ayahnya akan memberikan restu untuk hubungnnya dengan sang duda.


"Lebih baik kamu siap-siap untuk berangkat ke kampus sekarang. Sudah siang lho ini."


"Baik, Mom. Aku mau mandi dulu kalau begitu," jawab Nata hendak bangkit.


"Daddy akan mengantarkan kamu ke kampus.'' Jude sang ayah tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar.


"Dad! Emangnya aku anak kecil apa di anterin segala? Nggak, aku gak mau. Aku bisa berangkat sendiri," rengek Nata tidak terima.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau diantarkan, kamu gak usah ke kampus sekalian. Gara-gara Daddy terlalu ngebebasin, kamu jadi gadis liar bahkan bebas menginap dimanapun dengan siapapun. Pokoknya mulai sekarang kalau kamu mau ke kampus, Daddy bakalan anterin kamu. Mengerti?'' teriak Jude sang ayah.


"Aku bukan gadis liar. Aku menginap di luar juga tidak melakukan hal yang tidak pantas. Tega sekali Daddy menuduh putri Daddy sendiri seperti itu?" Nata balas berteriak.


Teriakan Nata bahkan sampai terdengar ke seberang sana dimana kamar Daren berada. Dia yang memang sedang memperhatikan kamar tersebut dan berharap bahwa Nata akan membuka jendela malah mendengar pertengkaran gadisnya itu dengan ayahnya sendiri.


Daren menajamkan pendengarannya, dia mencoba untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Sungguh hatinya diliputi berbagai penyesalan. Karena dirinya ayah dan putrinya kini bersitegang.


"Tampar aku, Dad. Tampar, aku sudah terlanjur kecewa sama Daddy! Daddy sudah tidak percaya lagi sama putri Daddy sendiri, bahkan Daddy menuduh aku yang bukan-bukan, aku kecewa sama Daddy!''


Plak!


Daren semakin merasa terkejut tentu saja. Apakah Jude benar-benar menampar putrinya sendiri? Dia tidak bisa diam lagi setelah mendengar semua itu sekarang. Daren pun beranjak lalu keluar dari dalam kamar.


"Daddy mau kemana?'' tanya Eden saat sang ayah melintas tepat di depannya.


Daren hanya diam tidak menanggapi. Dia akan mendatangi kediaman Jude dan menjelaskan bahwa sebenarnya dia sama sekali tidak melakukan apa yang dituduhkan oleh Jude kepadanya dan juga Nata. Selain itu, dia pun akan mengatakan tentang keseriusan dirinya dalam menjalin hubungan dengan Natalia Agatha.


Tok! Tok! Tok!


Daren segera mengetuk pintu sesaat setelah dia sampai di kediaman kekasihnya. Ketukan di pintu pun dilakukan secara berkali-kali, tapi Daren sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun. Tidak ingin menyerah begitu saja, dirinya akan tetap berada di sana sampai Jude keluar dan mau mendengarkan penjelasan darinya.


Ceklek!


Tidak lama kemudian. Pintu pun benar-benar di buka. Jude keluar dari dalam siap untuk berangkat ke kantor.


"Jude, ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, semua yang terjadi antara aku dan putrimu,'' ucap Daren dengan nada suara sedikit memohon.


"Tidak ada yang harus dibicarakan, sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan kamu mendekati putriku, Daren,'' ketus Jude, berjalan melintasi Daren begitu saja.


"Tapi, Jude. Aku mencintai putrimu. Kamu ingat gadis yang aku bicarakan waktu itu? Dia adalah Nata, gadis yang sangat aku cintai." Daren mengejar.


"Dengarkan aku, Daren. Seharusnya kamu sadar umur. Carilah wanita yang sebaya atau setidaknya yang umurnya tidak terlalu jauh dengan kamu, jangan putriku masa depan dia masih panjang!"


"Cinta tidak memandang umur, Jude. Aku mohon kali ini saja restui hubungan kami dan terima aku jadi menantu kamu!"


Jude seketika menghentikan langkah kakinya. Dia memutar badan menatap wajah Daren dengan tatapan tajam. Jude yang selama ini menjadi sahabat terbaik Daren, kini menatapnya dengan tatapan berbeda layaknya seorang yang menyimpan dendam yang begitu mendalam.


"Kamu apakan putriku sehingga dia menjadi anak yang pembangkang? Selama ini Nata tidak pernah sekalipun melawan aku, dia adalah putri yang penurut dan patuh. Apa jangan-jangan kamu telah mencuri otaknya sehingga dia menjadi anak yang durhaka kepada orang tuanya? Kamu benar-benar keterlaluan Daren, dan aku gak akan pernah merestui hubungan kalian sampai kapan pun. Paham?!''


BERSAMBUNG


...****************...