
"Kamu pasti kecewa setelah tahu semua ini, Michel," tanya Eden menyadari bahwa Michel mulai mengurai jarak di antara mereka.
Raut wajah Michel pun berubah muram. Dia yang semula merasa terharu setelah mendengar percakapan Eden dengan ayahnya seketika merasakan sebaliknya. Michel sama sekali tidak menyangka bahwa Eden akan melakukan hal sekejam itu terhadap putranya sendiri.
"Maaf, Pak Bos. Aku tidak menyangka kalau Pak Bos bisa bersikap seperti itu sama putra Pak Bos sendiri," ujar Michel berbicara jujur seperti biasa, "Ibuku meninggal setelah beliau melahirkan aku, tapi Ayah tidak pernah memperlakukanku dengan buruk, dia malah menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk aku, dan sampai detik ini Ayah masih sendiri."
"Iya, saya sudah mendengarnya dari Ayah kamu tadi. Saya turut prihatin atas apa yang menimpa Ibu kamu, Michel."
"Aku tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Jackie jika dia sampai tahu bahwa ternyata Kakaknya adalah Ayah kandungnya sendiri," lirih Michel seolah membayangkan betapa sakitnya tidak di anggap oleh ayahnya sendiri.
"Saya akan membayar semua yang telah saya lakukan kepada anak itu, walau bagaimana pun saya akhirnya sadar bahwa kematian Airin bukanlah salah Jackie," lirih Eden seketika menunduk sedih, "Saya tahu saya salah, dan saya menyesal, Michel. Saya benar-benar menyesal telah membenci putra kandung saya selama ini."
Buliran air mata tiba-tiba saja jatuh tanpa terasa. Eden benar-benar terisak menyesali apa yang telah dia lakukan kepada putra kandungnya selama ini. Membenci Jackie atas apa yang menimpa Airin adalah kesalahan terbesar di dalam hidup seorang Eden. Dia pun sadar, bahwa Jackie begitu berharga, kelahirannya adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan untuk dirinya.
"Apa Pak Bos akan jujur kepada anak itu bahwa ternyata Pak Bos adalah Ayah kandungnya, bukan seorang Kaka seperti yang selama ini dia sangka?" tanya Michel menatap wajah kekasihnya dengan tatapan mata sayu.
"Saya tidak yakin Jackie akan mempercayainya, Michel. Selama ini dia menyangka bahwa Daddy dan Mommy Nata adalah orang tuanya," lirih Eden dengan nada suara lemah, "Saya juga tidak yakin kalau dia akan memaafkan saya. Kesalahan yang telah saya perbuat sangat patal."
Michel seketika meraih telapak tangan Eden lalu menggenggam erat jemarinya, "Aku tahu bagaimana perasaan Jackie karena aku pun berada di posisi sama persis seperti dia, tapi ..." Michel menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya meneruskan apa yang ingin dia ucapakan, "Akan lebih baik jika dia tahu kebenarannya, Pak Bos. Jujur, aku tidak suka dengan yang namanya kebohongan sekecil apapun itu."
Eden membalas genggaman tangan Michel, "Tapi saya takut Michel, saya takut kalau dia sampai tahu kebenarannya, saya takut dia akan sangat terluka, sakit hati," ucap Eden dengan nada suara lemah, "Saya takut dia akan membenci saya seperti saya membenci dia selama 5 tahun ini, saya benar-benar takut!"
"Itu adalah resiko yang harus Pak Bos terima. Ingat, setiap perbuatan pasti ada resikonya, setiap kesalahan pasti ada hukumannya," jelas Michel memperingatkan, "Tapi, aku yakin hati Jackie akan luluh juga pada akhirnya jika Pak Bos benar-benar menunjukkan kepada dia bahwa Pak menyesali semua yang telah Pak Bos lakukan."
"Apa kamu akan menerima Jackie sebagai putra kamu jika kita menikah nanti?" tanya Eden menoleh dan menatap wajah Michel dengan tatapan mata sayu.
"Apa maksud Pak Bos? Tentu saja aku akan menerima dia. Aku akan menyayangi dia selayaknya anakku sendiri," jawab Michel penuh keyakinan.
"Terima kasih, Michel. Saya sangat berterima kasih, saya juga berharap kamu dapat memaafkan saya karena saya--"
"Kenapa Pak Bos meminta maaf kepadaku? Minta maaflah sama Jackie, Pak Bos tidak punya kesalahan apapun kepadaku."
Eden tersenyum getir. Dia kembali menunduk seraya mengusap ke dua matanya yang benar-benar membanjir. Ternyata Michel bukan hanya seseorang yang menjunjung tinggi sebuah kejujuran, tapi juga wanita yang sangat mulia. Dia pun yakin bahwa wanita ini akan menjadi ibu sambung yang baik untuk buah hatinya.
"Aku akan selalu berada di sisi Pak Bos apapun yang terjadi, awalnya aku merasa kecewa karena Pak Bos sudah bersikap kejam kepada darah daging Pak Bos sendiri," lembut Michel mengusap punggung tangan Eden lembut dan penuh kasih sayang, "Tapi, aku bisa merasakan bahwa Pak Bos benar-benar sudah menyesali perbuatan Pak Bos itu. PR Pak Bos sekarang adalah, bagaimana acaranya Pak Bos menjelaskan kepada Jackie bahwa Pak Bos adalah Ayah kandungnya, dengan segala resiko yang harus Pak Bos tanggung nantinya."
Eden menganggukkan kepalanya. Apa yang baru saja di ucapkan oleh kekasihnya semuanya benar. Menjelaskan dengan jujur kepada Jackie adalah sesuatu yang harus dia lakukan mengingat bahwa, sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai, baunya pasti akan tercium juga.
Ponsel Eden tiba-tiba saja bergetar. Laki-laki itu seketika merogoh saku jas berwarna hitam yang dia kenakan lalu meraih ponsel dari dalam sana. Nama sang ayah terpampang nyata di layar ponsel. Eden segera mengangkat sambungan telpon.
"Halo, Dad. Ada apa?" tanya Eden.
"Di mana sekarang kamu, Ed? Jackie harus dilarikan ke Rumah Sakit, dia tiba-tiba saja demam tinggi," samar-samar terdengar suara Daren di dalam sambungan telpon.
"Apa? Jackie di larikan ke Rumah Sakit?" Eden sontak berdiri tegak merasa terkejut.
"Iya, Ed. Kamu cepat ke sini sekarang. Daddy tunggu."
Ucapan terakhir Daren sebelum dia mengakhiri sambungan telpon.
"Ada apa, Pak Bos?" tanya Michel seketika merasa khawatir.
"Jackie, Michel. Dia dilarikan ke Rumah Sakit," jawab Eden kembali duduk, tubuhnya tiba-tiba saja melemas seolah tidak bertenaga.
"Astaga! Kita ke Rumah Sakit sekarang juga."
"Kamu istirahat saja, kamu juga baru pulang dari Rumah Sakit, sayang."
"Tidak, Pak Bos. Aku juga khawatir dengan keadaan Jackie. Lagian, aku udah gak apa-apa ko, aku baik-baik saja." Michel bersikukuh.
"Tapi Ayah kamu gimana, beliau pasti tidak akan mengizinkan kamu keluar."
"Pergilah, temani calon suami kamu ke Rumah Sakit, Michel," imbuh Budiman tiba-tiba saja berjalan menghampiri.
"Terima kasih, Ayah. Aku sayang Ayah," sahut Michel seketika memeluk ayahnya dengan ke dua mata yang berkaca-kaca.
"Sudah, cepat berangkat, kasihan putra kamu, Ed," pinta Budiman segera mengurai pelukan.
"Baik, Om. Saya senang sekali bisa mengobrol banyak dengan Om. Saya permisi dulu," jawab Eden segera berdiri lalu berjalan keluar dari dalam rumah bersama Michel tentu saja.
'Tunggu Daddy, Jackie. Daddy akan segera ke sana. Daddy benar-benar minta maaf,' batin Eden diliputi rasa khawatir.
BERSAMBUNG