MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
MHD season 2



Jackie seketika menunduk sedih ketika Eden menolak permintaanya dan berjalan melintasinya begitu saja. Lagi dan lagi Eden mengabaikan dan bersikap sinis kepadanya. Hati seorang Jackie kembali merasa terluka. Luka yang mencuatkan berbagai pertanyaan di dalam lubuk hati anak berusia 5 tahun itu.


Ada apa dan kenapa sang Kaka bersikap seolah membenci dirinya? Kenapa juga Eden selalu bersikap manis kepada si kembar, tapi melakukan hal yang sebaliknya terhadapnya? Semua pertanyaan itu memenuhi relung hati seorang Jackie, pertanyaan tanpa jawaban yang pasti.


"Jackie, sini sayang di gendong sama Mommy," sahut Nata berjalan menghampiri sang cucu, "Mungkin Kaka Eden cape baru pulang kerja. Jangan sedih ya, sayang. Kan masih ada Mommy sama Daddy."


Nata meraih tubuh Jackie lalu menggendongnya seraya mengecup pipinya lembut dan penuh kasih sayang. Beruntung, Jackie masih memiliki Kakek dan Nenek yang mampu menggantikan kasih sayang yang tidak dia dapatkan dari ayah kandungnya sendiri. Wajah Jackie kembali ceria, dia menatap wajah si kembar yang saat ini di gendong oleh ayah mereka.


"Aku di gendong sama Mommy, weee!" sahut Jackie seraya menyandarkan kepalanya di pundak Natalia Agatha.


"Gak apa-apa, kita di gendong sama Daddy, weee!" ledek Axelia seraya menjulurkan lidahnya.


"Aduh, sayang. Tangan Daddy pegal, turun ya," pinta Daren mulai merasa pegal di ke dua tangannya.


"Iya, sayang. Kasihan, Daddy baru saja pulang. Biarkan Daddy kalian istirahat dulu ya," sahut Nata menatap wajah si kembar secara bergantian.


"Ya udah iya, Daddy istirahat dulu," jawab Xelia seraya mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa, "Tapi nanti main sama kami ya."


"Iya, sayang. Pasti, sekarang Daddy mandi dulu ya. Kalian main sama Kaka Jackie dulu," jawab Daren mulai menurunkan tubuh si kembar hingga mereka berdua berdiri tegak di atas lantai.


Hal yang sama pun di lakukan oleh Nata. Jackie berdiri tegak lalu menghampiri si kembar.


"Kita main yu, kita main kuda-kudaan, gimana?" tanya Jackie seraya tersenyum lebar.


"Gak mau akh, kita main mobil-mobilan aja," sahut Xela dengan wajah ceria.


"Ya udah iya, aku 'kan punya banyak mobil-mobilan. Kita main di kamar aku yu."


Si kembar menganggukkan kepala secara bersamaan. Mereka bertiga berlarian menuju kamar untuk bermain bersama. Suara canda tawa pun terdengar nyaring. Suara yang membuat rumah itu terasa hangat semenjak kehadiran mereka bertiga.


"Jangan lari, sayang. Nanti jatuh lho," sahut Nata seraya menggelengkan kepalanya menatap mereka bertiga.


"Kasihan, Jackie. Padahal tadi Mas melihat Eden menggendong Jackie waktu di kantor," ucap Daren semakin mendekati istrinya, "Mas pikir hati Eden sudah melunak, ternyata masih tetap sama. Mau sampai kapan anak itu akan bersikap seperti ini kepada anak kandungnya sendiri?"


"Serius? Mas melihat Jackie di gendong sama Eden di kantor?" tanya Nata menoleh dan menatap wajah suaminya dengan tatapan mata berbinar, "Jujur, aku senang sekali mendengarnya."


"Kita bicara di kamar, ga enak nanti kalau dia sampai dengar," sahut Daren seraya merangkul pinggang istrinya mesra, "Mas punya rencana besar untuk putra kita yang keras kepala itu."


Daren berjalan bersama Nata menuju kamar mereka. Dia telah menyiapkan rencana besar untuk putranya. Semoga saja rencana yang dia rencanakan berhasil.


Ceklek!


Pintu kamar pun di buka. Daren dan istrinya masuk ke dalam kamar lalu kembali menutup pintu. Nata berdiri tepat di depan suaminya lalu membantunya berganti pakaian.


"Katakan apa rencana kamu, Mas?" tanya Nata seraya membuka jas berwarna hitam yang dikenakan oleh Daren.


"Mas akan menjodohkan dia dengan seorang wanita," jawab Daren seraya tersenyum menyeringai.


Nata meletakan jas suaminya di pergelangan tangannya sendiri, "Mas yakin Eden bakalan mau di jodohkan? Selama ini aku tidak pernah melihat Eden menunjukkan rasa tertariknya kepada seorang wanita," sahut Nata duduk di tepi ranjang, "Aku malah berpikir Eden udah gak normal lagi."


"Ish, mana mungkin dia gak normal, Mas yakin dia masih normal ko," imbuh Daren duduk tepat di samping istrinya, "Pokoknya, dia harus keluar dari bayang-bayang masa lalu. Hanya itu satu-satunya cara agar dia bisa melupakan rasa sakit yang pernah dia rasakan dan mulai menerima kahadiran Jackie."


Akan tetapi, anak itu tetap membutuhkan kasih sayang dari ayah kandungnya sendiri. Ini adalah masalah besar yang sudah selama 5 tahun ini tidak terpecahkan. Sudah saatnya Daren dan Nata membantu putranya melupakan masa lalu yang menyakitkan itu.


"Memangnya Mas sudah menemukan wanita yang cocok yang akan kamu jodohkan dengan dia?" tanya Nata seraya menyandarkan kepala di pundak suaminya, "Jujur, aku sedih melihat Jackie sepert ini."


"Apa lagi Mas-mu ini, sayang. Hati Mas seperti di iris pisau tajam saat melihat Jackie merengek minta di gendong tapi di cuekin sama si Eden."


"Berdarah dong?" celetuk Nata merusak suasa haru yang ada, "Sakit gak? Mau aku obati?"


Daren seketika menoleh dan menatap wajah istrinya seraya tersenyum cengengesan, "Sakit dong sayang, sakit banget. Obati sekarang ya," canda Daren seraya mengedipkan satu matanya, "Kebetulan Mas gerah sekali ini, gimana kalau obatinya sambil mandi bareng?"


"Dih? Apa hubungannya?" tanya Nata seketika mengangkat kepala juga menahan senyuman di bibirnya.


"Ada dong, kamu tahu obat mujarab yang bisa menyembuhkan luka apapun di hati Mas-mu ini?"


Nata menggelengkan kepalanya dengan wajah polos. Sedangkan Daren seketika mendekatkan wajahnya di telinga istrinya.


"Ber-cin-ta," bisik Daren membuat bulu kuduk di sekujur tubuh Nata seketika berdiri tegak.


"Ikh, apaan sih? Sore-sore gini ngomongin yang kayak gitu," decak Nata seraya menepuk pundak suaminya.


"Ya apa salahnya. Udah lama lho kita gak mandi bareng."


Nata memalingkan wajahnya ke arah lain seraya tersenyum cengengesan.


"Kenapa diam saja? Kita berendam air hangat berdua, sambil ehem-ehem," celetuk Daren seraya tersenyum lebar, "Di jamin, rasa sakit di hati Mas pasti akan hilang. Tadi katanya mau ngobati luka di hati Mas-mu ini, gimana sih?"


"Kalau ada anak-anak gimana?"


"Gak bakalan, mereka lagi anteng."


"Kalau mereka manggil, gimana?"


"Kan ada si Mbak."


"Tapi, Mas--"


Belum sempat Nata menyelesaikan ucapannya, Daren tiba-tiba saja meraih tubuh istrinya dan menggendongnya mesra membuat wanita itu seketika merasa terkejut.


"Kamu apa-apaan Mas, turunin gak?" tanya Nata dengan ke dua mata yang membulat sempurna.


"Sebentar aja, gak akan lama ko," jawab Daren mulai berjalan ke arah kamar mandi lalu hendak membuka pintu.


Ceklek!


Pintu pun di buka, tapi bukan pintu kamar mandi melainkan pintu kamar mereka yang tiba-tiba saja di buka oleh si kembar.


"Mommy sama Daddy lagi ngapain?" tanya Axelia menatap wajah sang ayah yang saat ini sedang menggendong tubuh Nata ibu mereka.


BERSAMBUNG