
Daren seketika mengusap wajahnya kasar. Apa yang baru saja diucapkan oleh putranya itu benar-benar seperti sebuah bumerang untuk hubungan yang baru saja dia jalin dengan Nata. Apakah dia akan mengakhiri hubungannya demi sang putra seperti yang sering dia lakukan sebelumnya?
'Untuk kali ini Daddy gak akan menyerah. Sudah cukup Daddy melakukan hal itu selama ini, Daddy selalu mengakhiri hubungan Daddy dengan wanita yang tidak sesuai dengan kriteria kamu. Untuk sekarang, Daddy ingin kamu yang menyerah dan menerima Nata sebagai ibu sambung kamu,' (batin Daren.)
"Dad? Daddy ngerti 'kan apa yang aku katakan?" tanya Eden kemudian.
"Terserah Daddy mau menikah sama siapapun, kamu jangan ikut campur lagi dengan urusan hidup Daddy. Sudah cukup Daddy mengalah selama ini, Ed. Sekarang Daddy minta dengan sangat, kamu menyerah dan mendukung dengan siapapun Daddy menikah nanti, oke?'' tegas sang ayah penuh penekanan lalu pergi begitu saja dari hadapan putra semata wayangnya itu.
"Dih! Dad? Apa maksud ucapan Daddy itu? Apa Daddy benar-benar udah punya pacar lagi? Katanya baru putus sama tante-tante yang tadi itu?!" teriak Eden. Namun, ayahnya itu sama sekali tidak menanggapi ucapannya sama sekali.
* * *
Ceklek!
Blug!
Daren membuka pintu kamar lalu masuk ke dalamnya dengan perasaan kesal. Dia tidak menyangka bahwa putranya itu akan mengatakan hal yang sangat menyebalkan seperti ini. Dia pun membuka jendela kamarnya lebar-lebar lalu menatap ke arah luar.
"Maafkan Daddy, Ed. Untuk kali ini Daddy gak akan mengalah. Kalaupun ada yang harus mengalah, orang itu adalah kamu,'' gumam Daren berbicara sendiri seraya menatap rumah yang berada tepat di sampingnya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah rumah Nata, kekasih kecilnya.
Hal yang tidak terduga pun terjadi. Jendela rumah tersebut pun tiba-tiba saja terbuka, jendela berjarak sekitar 5 meter dari jendela miliknya yang sama-sama berada di lantai dua.
Nata berdiri tepat di sebrang sana. Menatap ke arah luar, sama seperti yang sedang Daren lakukan saat ini. Tentu saja, dia pun tersenyum lebar saat menyadari duda kesayangannya sedang melakukan hal yang sama kini. Nata melambaikan tangannya kemudian.
Daren memberikan isyarat kepada kekasih kecilnya itu untuk melakukan sambungan telpon. Nata pun mengangguk tanda mengerti lalu meraih ponsel miliknya itu dan menelpon Daren saat itu juga.
"Ish, dasar gak sabaran. Seharunya 'kan aku yang nelpon dia duluan," gumam Daren dengan hati yang berbunga-bunga menatap layar ponsel lalu mengangkat telpon.
📞 "Halo, sayang. Kamu belum tidur?'' tanya Daren, berbicara di dalam telpon sementara kedua matanya menatap wajah Nata di seberang sana.
📞 "Mas nyebelin banget si? Masa aku dijatuhkan gitu aja tadi? Pinggang aku sakit tau," rengek Nata dengan nada suara manja.
📞 "Mas minta maaf, sayang. Mas kaget tadi, si Eden itu masuk gak ketuk pintu dulu soalnya. Mau Mas pijitin?"
📞 "Pijitin gimana caranya?"
📞 "Iya juga sih, andai saja Mas bisa terbang ke sana sekarang. Hmm ... Sayangnya Mas bukan Superman ataupun Spiderman, Mas hanya manusia biasa," celetuk Daren menatap lekat wajah Nata dan hal yang sama pun dilakukan oleh gadis itu sekarang.
📞 "Memangnya bisa?"
📞 "Kenapa nggak?"
📞 "Orang tua kamu gimana?"
📞 "Mas tenang aja, Mas tunggu aku di persimpangan depan. Aku ke sana sekarang juga. Oke?''
📞 "Tunggu, Nata. Kamu serius mau kita ketemu malam-malam begini?"
📞 "Kalau Mas gak mau juga gak apa-apa, aku gak akan maksa ko."
📞 "Siapa bilang Mas gak mau? Tentu saja Mas mau. Mas ke sana sekarang juga,'' ucap Daren lalu menutup sambungan telpon.
Daren benar-benar merasa senang. Hatinya pun terasa berbunga-bunga tentu saja. Dia pun berganti pakaian lalu memakai wewangian. Daren terlihat seperti anak muda yang sedang jatuh cinta. Jiwa mudanya benar-benar telah kembali.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka, Daren hendak keluar dari dalam kamar, tapi dia seketika menghentikan langkah kakinya saat mendapati Eden sang putra semata waynagnya sedang berdiri tepat di depan pintu dan menatap dirinya dengan tatapan tajam mengintimidasi.
"Daddy mau kemana?" tanya Eden penuh selidik.
"Daddy mau keluar sebentar," jawab Daren hendak pergi.
"Daddy wangi banget? Rapi lagi?"
"Terus? Memangnya kenapa kalau Daddy wangi dan rapi? Masalah buat kamu, hah?" jawab Daren tidak mau kalah.
"Dih, dasar duda ganjen. Bisa kalah keren aku nanti sama Daddy, ngomong-ngomong Daddy sebenarnya mau ketemu siapa sih? Mencurigakan banget. Apa aku ikuti saja ya?'' gumam Eden berfikir sejenak sebelum akhirnya mengikuti sang ayah.
BERSAMBUNG
...*******...