MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Positif



Setelah selesai menampung urin miliknya di dalam wadah kecil, Nata segera memasukan alat test kehamilan dan menariknya beberapa saat kemudian.


"Sudah belum, sayang?" tanya Daren masih dalam keadaan berbalik.


"Sudah," jawab Nata singkit, menatap dengan seksama permukaan alat tersebut.


"O ya? Coba masukkan alatnya." Daren berbalik.


"Sudah dong."


Keduanya pun menatap permukaan alat tersebut secara persamaan. Perlahan, garis merah pun terlihat samar, hingga membentuk warna merah sempurna. Tidak lama kemudian warna merah lainnya menunjukkan warnanya hingga membentuk dua garis merah yang artinya adalah positif tentu saja.


"Positif, sayang! Hahahaha! Kamu beneran hamil, ya Tuhan terima kasih ... Terima kasih atas anugerah yang engkau berikan. Saya akhirnya akan memiliki seorang putra lagi," sorak Daren terlihat senang, dia segera memeluk tubuh istrinya erat.


"Aku beneran hamil? Hahahaha! Baru nikah satu hari sudah hamil? Astaga, aku bakalan jadi seorang ibu. Apakah ini mimpi, Mas?" ujar Nata perasaannya campur aduk sulit untuk diungkapkan.


"Iya, sayang. Kamu hamil, ada buah hati kita di dalam perut kamu ini. Mas akan jadi seorang ayah, hahahaha!"


"Mas lebih pantas di panggil kakek," celetuk Nata tersenyum kecil.


"Hahahaha! Benar juga, tak masalah. Di panggil kakek, eyang ataupun oppa, tidak masalah buat Mas. Yang penting Mas seneng banget akhirnya kita gak perlu menunggu lama untuk memiliki momongan. Mas seneng banget.''


"Akh ... Engap Mas," ringis Nata membuat Daren seketika langsung mengurai pelukan.


"Oh ... Maaf, sayang. Maaf banget, Mas terlalu senang soalnya." Daren mengusap perut istrinya yang masih terlihat datar. Namun, bersemayam buah cintanya bersama Nata sang istri di dalam sana.


Daren pun kembali menggendong tubuh Nata keluar dari dalam kamar. Perlahan dia mulai membaringkan tubuh rampingnya di atas ranjang. Pelan tapi pasti sampai sang istri benar-benar berbaring terlentang.


Terpaksa, dia harus menunda malam pertama mereka. Begitu pun dengan keinginan istrinya yang ingin mempraktekan berbagai gaya dalam hal bercinta. Malam yang seharusnya di balut dengan peluh dan keringat juga diiringin dengan suara des*han dan leng*han yang biasanya terdengar dari kamar sepasang pengantin baru, kini berakhir dengan tidur biasa tanpa melakukan apapun.


Meskipun tidak masalah sebenarnya mereka melakukan hal itu karena berhubungan suami-istri sama sekali tidak akan berpengaruh kepada kehamilan seorang wanita. Namun tetap saja, Daren ingin istrinya itu beristirahat mengingat usia kandungan yang tergolong masih sangat muda.


Keesokan harinya.


Daren seketika menggeliat di dalam tidurnya saat sesuatu di bawah sana terasa menegang juga dimainkan sedemiakan rupa oleh jemari lembut, membuatnya yang saat ini sedang tertidur lelap pun seketika terbangun. Dia pun menoleh dan menatap wajah Nata sang istri yang terlihat memejamkan kedua matanya dengan tangan yang berada di bawah sana.


"Sayang? Kamu lagi apa?" tanya Daren mencoba menahan ha*rat di dalam jiwanya yang seketika mulai naik ke permukaan.


"Hah? Mas sudah bangun rupanya. Hehehehe!" Nata tersenyum cengengesan, sementara tangannya masih saja asik bermain di bawah sana.


"Akhhh! Sayangku, tangan kamu!"


"Bentaran doang, biarkan aku bermain sebentar saja. Entah mengapa aku ngidam pengen main sama si junior."


"Astaga, sayang. Jangankan sebentar, kamu mau main seharian pun Mas siap ko.''


Daren menyibakkan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh keduanya. Tanpa basa-basi lagi, dia pun segera memanjakan istrinya di atas ranjang yang sepertinya sudah mulai tergila-gila dengan kenikmatan surga dunia yang pernah dia suguhkan. Sesuatu yang sudah mereka tahan semalaman pun seketika di muntahkan saat ini juga, akan tetapi dengan gaya yang aman untuk wanita yang sedang dalam keadaan hamil muda tentu saja.


* * *


Tiga hari kemudian.


"Iya, Mom. Hehehehe!'' Nata tersenyum cengengesan merasa malu sebenarnya, tapi dia juga tidak mungkin menyembunyikan kehamilannya dari kedua orang tuanya.


"Maaf kalau Mommy ceplas-ceplos, tapi apa kalian sudah menabung benih dari sebelum kalian menikah?"


Nata tidak menjawab pertanyaan sang ibu. Dia hanya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali. Malu, dirinya benar-benar merasa malu.


"Hmm ... Anak muda jaman sekarang. Astaga ... Tapi terlepas dari semua itu. Mommy seneng banget karena akhirnya Mommy bakalan punya cucu juga. Kamu jaga kesehatan, jangan terlalu capek mulai sekarang, jaga baik-baik calon cucu Mommy ini," lembut sang ibu mengusap perut sang putri di mana bersemayam calon cucunya di dalam sana.


"Pasti, Mom. Aku pasti akan melakukan apa yang Mommy pesankan. Ya meskipun aku gak bisa menikmati kebersamaan kami sebagai pengantin baru."


"Hah? Hahahaha! Itu adalah resiko yang harus kalian ambil. Siapa suruh menanam benih dulu sebelum kalian menikah?"


Nata hanya tersenyum kecil.


"Tapi, sayang. Terlepas dari semua itu, seorang anak adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Mungkin Tuhan menyegerakan kalian memiliki momongan karena usia Daren yang sudah semakin berumur. Coba kamu bayangkan, kalau kalian harus menunggu selama 3 atau 4 tahun lagi untuk hamil? Usia suami kamu akan semakin tua nanti."


"Anak kalian mau memanggil ayahnya dengan sebutan apa nantinya? Masa kakek? 'Kan gak lucu. Jadi, jangan terlalu memikirkan hal itu. Kalian masih bisa melewati hari-hari kalian layaknya pengatin baru ko. Bermesraan, saling mencurahkan kasih sayang, semua itu masih bisa kalian lakukan setiap harinya," jelas Merry panjang lebar.


"Huaaa ... Mommy, makasih atas penjelasannya. Sekarang aku ngerasa tenang banget, aku pikir karena aku langsung hamil, aku jadi gak bisa nikmati waktu kami sebagai pengantin baru. Sekarang aku justru bersyukur karena Tuhan langsung mempercayakan kami momongan,'' lirih Nata segera memeluk tubuh sang ibu erat.


"Ingat, jaga kandungan kamu. Besok kita ke Dokter kandungan, Mommy akan antar kamu ke sana. Satu lagi, eu ... Maaf kalau Mommy lancang, tapi karena kamu sedang dalam keadaan hamil muda, jangan melakukan gaya-gaya yang ekstrem dalam bercinta, oke?"


"Hah! Hehehehe!" Nata menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal setelah sang ibu mengatakan hal tersebut, dia pun mulai mengurai pelukan juga tersenyum cengengesan.


'Astaga, semalam aku sampai hilang kendali. Aku bahkan lupa diri dan bermain dengan begitu lincahnya. Sabar ya bayiku, sayang. Mommy harap kamu kuat di dalam sana. Mommy janji akan melakukan yang wajar-wajar saja mulai sekarang,' (batin Natalia Agatha).


''Sayang? Malah melamun lagi. Kamu lagi mikirin apa sebenarnya?'' tanya sang ibu membuyarkan lamuanan panjang seorang Natalia.


''Hah? Nggak ko, Mom. Eu ... Mom, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama Mommy,'' jawab Nata.


''Apa, sayang? Katakan saja.''


''Tapi Mommy janji gak bakalan marah.''


"Hah? Kenapa Mommy harus marah segala? Sebenarnya ada apa, sayang?''


''Mom, karena aku sedang dalam keadaan hamil muda. Aku berencana untuk resign dari pekerjaan aku, terus--'' Nata menahan ucapannya.


''Terus apa?''


''Aku ingin ikut suamiku ke luar kota. Kasian kalau dia harus bolak-balik keluar kota. Lagian, aku juga gak mau jauh-jauh dari suamiku itu. Mommy tahu sendiri wanita yang lagi hamil itu gimana, pengennya deketan terus sama suaminya, boleh ya Mom,'' tengek Nata membuat sang ibu tertegun tentu saja.


Apa dia sanggup berpisan dengan putri satu-satunya yang paling dia sayangi? Meskipun dia sendiri sadar betul hal ini akan terjadi suatu saat nanti.


BERSAMBUNG


...****************...