MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
MHD season 2



Michel mengerutkan kening seraya menatap wajah Eden yaang hanya diam membisu seraya menatap wajahnya tanpa mempersilahkan wanita ini untuk masuk ke dalam rumah. Eden benar-benar terpesona dengan kecantikan yang terpancar dari wajah Michel yang terlihat begitu sempurna.


'Astaga, kenapa Michel cantik sekali?' batin Eden sedikit membuka mulutnya dengan ke dua mata yang membulat sempurna.


"Pak Bos?" sapa Michel seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Eden.


Eden seketika terperanjat, "Hah! Maaf, saya melamun tadi," jawabnya seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Melamun, atau terpesona dengan kecantikanku?" celetuk Michel seraya tersenyum cengengesan.


"Si-siapa bilang saya terpesona? Saya bertemu dengan kamu setiap hari di kantor, mana mungkin saya terpesona dengan kecantikan wanita yang selalu saya temui setiap hari?" jawab Eden sedikit gelagapan.


"Ish, gak bisa apa nyenengin hati pacarnya sekali aja? Nyenengin hati seseorang juga ibadah lho, dapat pahala," imbuh Michel menaikan ujung bibirnya merasa kesal.


"Masuk, Daddy sudah nungguin kamu dari tadi."


"Padahal aku ingin sekali di jemput sama kamu, ini malah datang sendiri. Dasar pacar gak peka," ketus Michel seraya berjalan melintasi Eden begitu saja.


Eden hanya terdiam seraya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal. Dia pun berbalik lalu mengikuti wanita itu dari arah belakang dengan wajah datar. Daren yang memang sedang menunggu kedatangan calon menantunya segera menyambut kehadiran Michel dengan perasaan senang.


"Akhirnya calon menantunya Om datang juga," ucap Daren seraya tersenyum lebar.


Sedangkan Michel seketika merasa canggung. Dia biasa memanggil Daren dengan sebutan Bapak atau Bos ketika mereka sedang berada di kantor. Panggilan Om masih terasa asing di telinganya, sikap santai Daren yang merupakan atasannya di kantor pun membuat wanita itu seketika merasa salah tingkah.


"Eu ... iya, Pak. Maaf, saya datang terlambat," jawab Michel seraya menyalami laki-laki paruh baya itu ramah dan sopan.


"Ish, jangan panggil saya dengan sebutan Pak dong? Kita 'kan sedang tidak di kantor," pinta Daren seraya tersenyum lebar, "Meskipun kamu salah satu pegawai saya di kantor, tapi kamu 'kan calon menantu saya."


Michel semakin salah tingkah saja. Ternyata seperti ini rasanya berkenalan dengan calon mertua yang sebenarnya. Dia benar-benar merasa gugup, wajahnya bahkan merah merona.


"I-iya, Om. Saya masih belum terbiasa memanggil Anda dengan sebutan Om," sahut Michel tersenyum cengengesan.


"Nanti lama-lama juga terbiasa. O iya, apa kamu datang sendiri? Maafkan Eden, dia memang cuek orangnya, tapi aslinya baik ko penyayang lagi," imbuh Daren seraya mengalihkan pandangan matanya kepada Eden sang putra, "Lihat, masa mau ketemu sama pacar pakai piyama tidur kayak gitu? CK! CK! CK!"


"Daddy apaan sih, norak tau," decak Eden merasa tidak terima, "Mau pake baju apapun kalau yang make udah cakep, ya tetap saja cakep. Iya, 'kan sayang?" tanya Eden seketika melingkarkan pergelangan tangannya di pinggang Michel mersa.


"Iya-iya, terserah kamu saja, Ed. Malam ini Daddy sedang tidak ingin berdebat dengan kamu," jawab Daren dengan wajah datar, "O iya, kenalan juga dengan calon ibu mertua kamu, istrinya Om ada di dapur. Biasalah lagi nyiapin makan untuk kita."


Michel menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah. Mereka bertiga pun berjalan menuju ruang makan di mana Nata sedang menata makanan di atas meja. Si kembar berikut Jackie pun sudah berada di sana, mereka bertiga terdengar riuh seperti biasanya.


"Dia siapa, Dad?" tanya Axelia menatap wajah Michel yang baru saja memasuki ruang makan.


"Perkenalkan, Tante ini adalah calon Kakak ipar kalian, namanya Kaka Michel," jawab Daren memperkenalkan, "Michel, bocil-bocil ini adalah adik Eden. Si kembar Axelia,Axela, dan Jackie. Kalau yang paling cantik itu adalah istrinya Om, namanya Natalia," sahut Daren seraya menunjuk mereka semua yang berada di sana.


Nata segera menghampiri calon menantunya, "Jadi ini calon istrinya Eden? Hmm! Cantik juga," ucap Nata seraya mengulurkan telapak tangannya untuk bersalaman dengan calon menantunya.


"Tante Ibunya Eden?" tanya Michel seketika merasa heran, "Eu ... maaf, Tan. Tante seperti Kakaknya Eden, masih cantik, kalian kayak seumuran," ucap Michel terlalu berbicara jujur seperti biasa.


"Hah?" Michel seketika mengerutkan kening, dia menatap wajah Eden, Daren dan Nata secara bergantian.


"Jadi begini, Michel. Istrinya Om ini Ibu sambungnya Eden sekaligus sahabatnya Eden," jelas Daren padat dan singkat.


"Maksudnya Om, Tante Nata ini sahabatnya Eden terus menikah dengan Om, begitu?" tanya Michel merasa tidak percaya, "Semacam, menjadi Ibu sambung sahabatku?"


"Benar sekali, jadi istrinya Om ini ngejar-ngejar Om terus waktu Om menduda dulu, iya 'kan sayang?" tanya Daren seraya mengedipkan satu matanya juga menatap wajah istrinya dengan tatapan mata genit.


"Apaan si, Mas. Gak usah membahas masa lalu gitu dong," decak Nata, wajahnya seketika memerah menahan rasa malu.


"Hahahaha! Iya-iya, sayang. I love you," sahut Daren menatap wajah sang istri dengan tatapan mata penuh rasa cinta.


"Daddy, Mommy. Kapan kita makan? Aku sudah lapar tau," celetuk Xelia menatap wajah ke dua orang tuanya.


"Iya, sayang. Kita makan sekarang ya," jawab Nata berjalan menuju kursi lalu duduk di kursi yang berada tepat di samping si kembar, "Silahkan duduk Michel, semoga kamu suka dengan makanannya. Semua makanan ini spesial Tante masak sendiri lho."


"Baik, Tante. Terima kasih atas sambutannya yang hangat ini, saya benar-benar senang," jawab Michel merasa di terima dengan baik oleh keluarga Daren, meskipun dirinya belum benar-benar di terima di hati Eden putra mereka.


* * *


Selesai menyantap makan malam. Michel nampak mengobrol santai bersama Nata calon ibu mertuanya. Mereka berdua terlihat akrab, karena Michel memang tipikal wanita yang mudah dekat dengan orang lain. Selain itu, Natalia Agatha juga wanita yang sangat ramah membuat mereka merasa tidak sungkan berbincang santai. Mereka berdua nampak duduk di kursi yang berada di halaman belakang, lebih tepatnya di samping kolam renang.


"Tante hebat lho, dari sahabat bisa jadi Ibu sambung untuk Eden," ujar Michel seraya tersenyum ringan.


"Entahlah, semuanya mengalir begitu saja, Michel. Tante sama Eden sudah berteman sejak kecil, Tante juga tidak menyangka jika Tante akan benar-benar menjadi Ibu sambungnya dia," jawab Nata pikirannya seketika melayang ke masa lalu.


"O ya? Waaah! Benar-benar luar biasa, Tante sama Eden bukan sekedar sahabat biasa rupanya," sahut Michel semakin merasa kagum dengan kehidupan keluarga Daren, "O iya, Tante. Eden itu orangnya seperti apa? Sebenarnya, kami baru resmi berpacaran tadi siang. Jadi, saya belum terlalu paham Pak Bos itu orangnya seperti apa. Eh ... maksud saya Mas Eden, hehehe!" sahut Michel tersenyum cengengesan.


"Hmm! Eden itu seperti apa ya--" belum sempat Nata menyelesaikan ucapannya, Eden tiba-tiba saja datang menyela.


"Michel, saya tidur dulu ya. Kalau kamu mau pulang, pulang aja. Tidak usah berpamitan dengan saya," ujar Eden membuat Nata seketika menggelengkan kepalanya merasa kesal.


"Astaga, Eden! Kamu ini gimana sih? Masa ada pacar kamu di sini, kamu malah tidur? Gak sopan tau," decak Nata seketika merasa kesal, "Pokonya, Mommy mau kamu antarkan dia pulang."


Sebagai seorang wanita, Nata tentu saja dapat merasakan bagaimana perasaan Michel ketika diperlakukan secuek ini oleh kekasihnya sendiri. Sikap Eden benar-benar sudah keterlaluan menurutnya.


"Michel bawa mobil sendiri, Mom. Tidak perlu saya antar pulang segala," jawab Eden santai.


Nata seketika memejamkan ke dua matanya sejenak lalu kembali menatap wajah putranya, "Kamu ini jadi laki-laki gimana sih? Cuek bener sama pacar sendiri. Hati-hati hukum karma lho, nanti di saat kamu sudah bucin tingkat dewa, Michel yang bakalan cuekin kamu," sahut Nata seraya menatap tajam wajah sang putra, "Mommy sudah selesai ngobrol sama calon menantu Mommy ini. Sekarang kamu temani dia sini, setelah itu kamu harus, kudu, wajib mengantarkan dia pulang, paham?" ketus Nata seketika berdiri lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.


'Aduh, Mommy reseh banget sih. Malah di tinggal berdua lagi,' batin Eden menatap kepergian sang Ibu dengan perasaan kesal.


BERSAMBUNG