MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Terikat Dengan Masa Lalu



"Mas Daren?!" gumam Nata menatap wajah Mas duda yang parasnya masih terlihat sama meskipun 5 tahun telah berlalu.


Nata tersenyum manis begitu pun dengan sang duda. Tatapan mata mereka seketika bertemu dan semakin intens dalam menatap satu sama lain. Senyuman Nata semakin mengembang lebar dari kedua sisi bibirnya kini, sampai akhirnya dia tersadar bahwa apa yang dia lihat tidaklah nyata dan ini bukan kali pertama dirinya mengalami hal itu.


"Ya Tuhan, apa karena aku terlalu merindukan Mas Daren? Otakku menajdi semakin tidak waras setiap harinya," gumam Nata mengusap wajahnya kasar lalu kembali duduk tegak.


Kring! Kring! Kring!


Suara telpon di atas meja semakin membuat Nata tersadar dari halusinasinya, dia mengulurkan tangan lalu meraih telpon tersebut dan mengangkatnya kemudian.


📞 "Halo, Airin. Ada apa?" Nata mengangkat telpon.


📞 "Iya, hallo Bu. Sepertinya kita tidak perlu ke luar kota, perwakilan dari sana yang datang ke sini. Sekarang orangnya ada di luar, Bu."


📞 "O ya? Syukurlah kalau begitu, suruh dia masuk. Kirimkan juga fail yang di butuhkan di email saya sekarang juga ya."


📞 "Baik, Bu."


Telpon pun di tutup setelahnya.


Natalia Agatha bangkit lalu berdiri, dia berdiri tepat di jendela lalu meraih kaca kecil dan menatap wajah dari pantulan cermin. Dia pun merapikan riasan tipis di wajahnya dan menambahkan lipstik berwarna merah terang di bibir tipisnya agar wajahnya tidak terlihat pucat mengingat bahwa dirinya baru saja terlelap sejenak.


Tok! Tok!


Ceklek!


Pintu pun di ketuk dan di buka kemudian. Nata masih dalam posisi yang sama yaitu berdiri dengan tubuh yang menghadap jendela. Sampai akhirnya, dia pun menutup cermin kecil dan hendak berbalik kemudian.


"Permisi, Bu. Perwakilan dari PT Anggara ada di sini," ucap sang asisten masuk ke dalam ruangan.


Nata berbalik dan menatap wajah orang tersebut. Gadis itu seketika berdiri mematung. Tubuhnya pun terasa kaku begitu pun dengan bibirnya kini. Kedua matanya nampak menatap lekat wajah laki-laki gagah yang memakai stelan jas berwarna hitam, laki-laki yang sangat dia kenal tentu saja.


"Na-ta? Kamu Nata 'kan?" ucap sang laki-laki dengan perasaan tidak percaya.


"Ed-eden? Astaga? Ini beneran kamu?" Nata dengan perasaan tidak percaya tentu saja. Dia pun menghampiri Eden kemudian.


"Hahahaha! Natalia Agatha, ini beneran kamu, ya Tuhan ....''


Grep!


Keduanya pun seketika saling berpelukan. Nata sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan dipertemukan kembali dengan sahabat lamanya, sahabat yang sangat dia rindukan, sahabat yang sudah dia anggap seperti saudara, sahabat yang sempat akan menjadi anak tirinya dahulu.


"Kamu apa kabar Eden? Aku kangen banget sama kamu," gumam Nata mendekap erat tubuh kekar pemuda itu tanpa rasa sungkan membuat Airin yang juga berada di sana merasa heran.


"Kabarku baik-baik saja, malahan aku semakin tampan," jawab Eden. Keduanya pun mulai mengurai pelukan.


"Ish, dasar. Bukannya dari dulu juga kamu memang sudah tampan?"


"Hahahaha! Betul sekali, mata kamu masih normal ternyata."


Nata mengalihkan pandangannya kepada Airin yang sedari tadi menatap keduanya dengan tatapan heran. Dia mengenalkan Eden sebagai sahabat lamanya kepada asistennya tersebut. Airin pun tersenyum menatap wajah Eden yang memang terlihat tampan, bahkan sangat tampan di mata gadis itu.


"O iya, kenalkan Airin dia ini sahabat saya. Namanya Eden," ucap Nata mengenalkan.


"Oh begitu, pantas sekali kalian terlihat akrab, saya pikir dia pacarnya ibu,'' jawab Airin tersenyum cengengesan.


"Pacar? Hahahaha! Kenalkan saya Eden. Saya bukan pacarnya ibu Nata, tapi anak tirinya.''


Keduanya pun bersalaman juga menyebutkan nama masing-masing.


"Hah?" Airin semakin merasa bingung.


Plak!


"Arghhh ... Sakit tahu,'' ringis Eden mengusap bahunya.


"Lagian kamu ini."


"Hahahaha! Kamu semakin cantik saja, Nat. Wajah kamu dewasa, penampilan kamu juga terlihat seperti wanita karir yang sukses, tapi, Nat. Kamu belum menikah 'kan?"


Plak!


"Argh ... Sakit, Natalia!" Eden kembali meringis kesakitan saat satu pukulan kembali mendarat di bahu yang sama.


"Kamu ke datang sini mau membicarakan pekerjaan 'kan? Urusan pribadi nanti saja kita bicarakan, sekarang silahkan duduk dan kita mulai meeting dadakannya, oke?'' jawab Nata kemudian.


"Oke-oke, wah ... Ibu Nata benar-benar profesional. Mari kita mulai meeting-nya."


Mereka bertiga pun mulai membicarakan apa yang memang menjadi tujuan utama Eden datang ke perusahaan itu. 60 menit berlalu tanpa terasa dan perusahaan mereka pun sepakat akan menjalin kerja sama. Eden dan juga Nata saling berjabat tangan tanda sepakat dan menandatangani surat kontrak kerja sama.


"Akhirnya, aku gak usah jauh-jauh datang ke kota untuk menemui kamu, Ed. Terima kasih lho udah datang ke sini," ucap Nata tersenyum lebar, lalu menyerahkan berkas yang sudah ditanda tangani kepada Airin dan memintanya untuk keluar.


"Apa kamu sama sekali, tidak kangen sama Daddy?" celetuk Eden menatap wajah Nata dengan tatapan mata serius.


Sontak Nata merapatkan bibirnya juga merubah raut wajahnya kini. Dia pun menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Mana mungkin dia tidak merindukan Daren di saat laki-laki itu selalu saja memenuhi otak kecilnya?


"Mas Daren apa kabar? Apa dia sudah menikah?" tanya Nata dengan nada suara lemah.


"Tentu saja belum. Dia selalu menghabiskan waktunya dengan bekerja. Daddy bahkan tidak pernah berkencan dengan siapapun lagi. Wanita yang dia inginkan hanyalah kamu, Nat."


Nata tersenyum kecil lalu menundukkan kepalanya.


"Kamu sendiri? Apa kamu sudah menikah? Dengan kecantikan kamu yang seperti ini, aku yakin ada banyak laki-laki yang mengantri ingin menjadi suami kamu?"


"Hmmm ... Kalau yang mengantri si iya, tidak dapat di pungkiri dengan kecantikan aku yang memukau ini banyak laki-laki yang mengejar-ngejar aku, tapi--'' Nata menahan ucapannya.


"Tapi apa, Nat?"


"Bagaimana aku bisa menikah di saat hati aku masih terikat dengan masa lalu? 5 tahun bahkan belum cukup untuk melupakan Daddy kamu, Ed.''


"Apa kamu mau bertemu dengan dia?"


"Hah? Hahahaha!" Nata tertawa ringan.


"Ko malah ketawa, aku serius nanya. Apa kamu ingin bertemu dengan Daddy?"


"Entahlah."


"Ko entahlah sih? Apa kamu tahu, Daddy ada di kota ini juga, kebetulan aku bekerja di perusahaan yang sama dengan Daddy, sialnya dia itu atasan aku sendiri. Bayangkan gimana bawelnya Daddy yang menjadi bos aku sendiri, aku bahkan--"


"Kamu serius dia ada di kota ini juga sekarang?" tanya Nata menyela ucapan Eden.


"Iya, dia ada di kota ini. Apa kamu ingin ketemu dengan dia?"


Nata terdiam dengan jantung yang berdetak kencang. Perasaannya bahkan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dia tidak pernah berpikir bahwa dirinya akan benar-benar bertemu kembali dengan sang duda setelah sekian lama.


BERSAMBUNG


...****************...