
"Hah? Sugar Daddy? Hahahaha! Saya itu bukan sugar Daddy-nya Nata, tapi saya adalah calon suaminya? Apa itu sugar Daddy? Sembarangan aja si kalau ngomong," ucap Daren menertawakan.
"Calon suami? Wah, kamu hebat Nata. Calon suami kamu tampan banget, mapan lagi. Mobilnya aja mewah gini. Tapi beneran 'kan Om bukan sugar Daddy-nya Nata?'' tanya wanita tersebut yang sepertinya masih merasa penasaran.
"Tentu saja bukan anak-anak, saya ini duren alias duda keren. Mengerti?" tegas Daren seraya tersenyum kecil.
"Mengerti, Om. Oke deh kalau begitu. Selamat ya, Nata. Akhirnya kamu punya pacar juga setelah menjomblo sekian lama, pecah telor deh akhirnya, hehehehe!"
"Hah? Pecah telor? Apaan tuh?" jawab Nata mengerutkan kening.
"Kami pergi dulu, papay Nata ..." Kedua wanita itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sugar Daddy? Pecah telor? Astaga, mereka ada-ada aja," decak Nata memutar bola mata kesal.
"Hahahaha! Teman-teman kamu lucu juga ternyata. Masa Mas di bilang sugar Daddy-nya kamu sih? Dasar ngaco."
"Entahlah, mereka emang aneh."
"O iya? Tapi emang beneran ya kalau kamu belum pernah pacaran sebelumnya?"
Nata hanya mengangkat kedua bahunya lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya di ikuti oleh Daren kemudian. Laki-laki itu merasa penasaran sebenarnya. Apa benar dirinya adalah laki-laki pertama yang menjadi kekasih Natalia Agatha?
"Jawab dulu pertanyaan Mas mu ini, apa benar kamu belum pernah berpacaran?" tanya Daren hanya ingin lebih memastikan lagi.
"Apa hal itu penting?''
"Penting banget, sayang. Sangat-sangat penting, jawab dulu pertanyaan Mas tadi."
"Hmm ... Apa Mas pernah lihat ada laki-laki yang datang ke rumah aku?''
Daren menggelengkan kepalanya.
"Apa Mas pernah lihat aku jalan sama cowok selain sama Eden?"
Daren pun kembali menggelengkan kepalanya.
"Terus, apa artinya itu?''
"Kamu gak pernah berpacaran sama siapapun."
"Nah ... Pinter.'' Nata menjentikkan jarinya.
"Jadi benar? Kamu sungguh masih orisinil? Dari ujung rambut sampai ujung kaki kamu ini semuanya belum pernah ada yang menyentuh? Semua ini milik Mas?''
Nata menganggukkan kepalanya seraya tersenyum cengengesan.
"Waaah! Mas benar-benar beruntung, hahahaha! Makin gak sabar pengen cepet-cepet belah duren!''
"Dih! Dasar me*um. Bikin merinding aja sih,'' decak Nata mengusap tengkuknya yang seketika terasa merinding disko.
"Kenapa harus merinding segala? Belah duren itu nikmat tahu, kalau kamu udah ngerasain sekali di jamin kamu bakalan ketagihan. Percaya deh sama Mas.''
"Stoooop!" Nata seketika menutup kedua telinga dengan telapak tangannya.
Otak Nata mulai tercemar. Pikirannya pun seketika trapeling memikirkan seperti apa rasanya belah duren. Sejujurnya tubuhnya pun terasa merinding. Gadis itu mengusap wajahnya kasar, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran kotor yang saat ini memenuhi otak jernihnya.
"Hahaha! Jangan di bayangin. Cukup di praktekan saja," ujar Daren seraya menyalakan mesin mobil lalu mulai melaju meninggalkan kampus dimana Nata mengenyam pendidikan.
* * *
Sesampainya di rumah. Mobil Eden nampak sudah terparkir di halaman rumah, Daren berhenti tepat di samping mobil sang putra. Nata dan juga Daren pun keluar dari dalamnya secara bersamaan. Keduanya berjalan lalu berdiri tepat di depan mobil kini.
"Mas langsung ke kantor lagi ya. Masih ada pekerjaan yang belum Mas selesaikan," ucap Daren kemudian.
"Ya udah, hati-hati ya Mas sayang."
"Iya, sayang. Jangan lupa makan, jangan lupa istirahat, oke?"
Nata menganggukkan kepalanya lalu menatap kepergian Daren sang kekasih pujaan hati. Sepeninggal Daren, Nata mulai masuk ke dalam rumah. Namun, bukan rumah dirinya melainkan rumah sang duda yang sudah dia anggap seperti rumah sendiri. Nata merasa khawatir karena seharian ini, dirinya sama sekali tidak melihat Eden.
Ceklek!
Pintu rumah di buka lebar. Nata masuk kedalamnya kemudian. Dia pun berteriak memanggil nama Eden seraya menatap sekeliling.
"Eden! Kamu dimana?" teriak Nata.
Dia sama sekali tidak peduli jika nantinya akan di usir oleh sahabatnya itu. Nata hanya ingin memastikan bahwa sahabat juga calon anak sambungnya itu dalam keadaan baik-baik saja. Gadis itu pun berjalan ke arah kamar lalu mengetuk pintunya pelan.
Tok! Tok! Tok!
"Ed ... Eden, kamu di dalam?" tanya Nata diiringi dengan ketukan di pintu secara berkali-kali.
Akan tetapi, dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun. Mau tidak mau, gadis itu pun membuka pintu kamar tidak peduli jika Eden akan marah nantinya karena hubungan persahabatan mereka memang sedang tidak baik-baik saja.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka lalu Nata masuk ke dalamnya.
"Ed, ini aku. Kamu ada di dalam? Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Nata berjalan ke arah ranjang dimana Eden sedang berbaring di atas sana.
"Mau apa kamu ke sini?" Lemah Eden tanpa menoleh, seluruh tubuhnya di tutup selimut tebal hanya menyisakan kepalanya saja.
"Kamu sakit?"
"Bukan urusan kamu, sebaikanya kamu pulang. Apa kamu lupa kalau aku sedang tidak ingin bicara sama kamu, ataupun ketemu sama kamu?"
"Iya aku tahu, tapi aku khawatir lho. Apa kamu tidak ke kampus? Ko tumben aku gak lihat kamu tadi?" tanya Nata duduk di tepi ranjang.
"Hmmm ...''
Eden hanya menjawab dengan gumaman. Hal itu tentu saja membuat Nata merasa heran. Dia menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Eden lalu meletakan telapak tangannya di kening pemuda itu kemudian.
"Astaga, Ed. Badan kamu panas banget, tubuh kamu? Kenapa tubuh kamu banyak bintik-bintik merah kayak gini? Apa kamu terserang penyakit demam berdarah?" tanya Nata membulatkan bola matanya merasa terkejut dan juga merasa khawatir tentu saja.
BERSAMBUNG
...****************...