
Rizal tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan di mana Michel berbaring dengan di temani Eden dan juga Daren seketika merusak suasana yang ada.
"Michel! Kamu baik-baik saja? Kamu tidak terluka, kan?" ujar Rizal seraya meletakan ke dua telapak tangannya di ke dua sisi wajah Michel, "Saya khawatir sekali dengan keadaan kamu. Saya segera datang ke mari setelah mendengar kamu dilarikan ke Rumah Sakit ini."
Eden seketika membulatkan bola matanya. Sedangkan Daren hanya tersenyum kecil seraya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali. Kedatangan Rizal yang secara tiba-tiba membuat rasa cemburu di dalam hati seorang Eden kembali berkobar dan terasa panas membara.
"Eh! Apaan kamu maen pegang-pegang calon istri orang!" tegas Eden seraya menepis kasar ke dua tangan Rizal, "Mau saya pecat kamu, hah?" bentaknya lagi membuat Rizal seketika merasa heran.
"Hah? Calon istri?" tanya Rizal merasa tidak mengerti, "Maksud Anda, Michel calon istri Anda?" Rizal kembali bertanya dengan kening yang dikerutkan.
"Iya, dia adalah calon istri saya. Gak sopan banget sih, pegang-pegang calon istri orang. Heuh! Andai bukan sedang di Rumah Sakit, sudah saya hajar kamu!" bentak Eden seraya mengepalkan tinjunya.
"Sabar, Ed. Astaga!" decak Daren seraya mengusap wajahnya kasar, "Dia gak tahu kalau Michel ini pacar kamu. Berlebihan banget sih!"
Rizal segera memundurkan langkah kakinya seraya menatap wajah Daren dan juga Eden secara bergantian. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Michel yang dia ketahui tidak memiliki pasangan ternyata adalah calon menantu atasannya sendiri. Wajah Rizal seketika memerah merasa malu, sepertinya dia harus mengubur perasaanya dalam-dalam karena saingannya bukanlah orang sembarangan.
Ya, Rizal memang menaruh hati kepada wanita berambut pendek itu. Wanita berparas cantik dengan sejuta pesona. Laki-laki mana yang tidak akan tertarik dengan kecantikan wanita bernama Michel ini. Eden baru menyadari hal itu, calon istrinya ini menjadi rebutan laki-laki membuatnya harus ekstra dalam menjaga wanita ini agar tidak berpindah hati.
"Sedang apa kamu di sini? Cepat kembali ke kantor, kalau tidak saya akan memecat kamu, mau?" bentak Eden dengan ke mata yang membulat sempurna.
"Maafkan saya, Pak Eden, Pak Daren. Saya tidak tahu kalau Michel ternyata sudah ada yang punya," sahut Rizal sedikit membungkukkan tubuhnya, "Sekali lagi saya mohon maaf, permisi," ucapnya lagi lalu berbalik dan keluar dari dalam ruangan.
"Ck! Ck! Ck! Kamu benar-benar posesif, Pak Bos," decak Michel seraya menggelengkan kepalanya.
"Iya, Ed. Jangan kayak gitu dong Ed. Norak tahu," sahut Daren merasa tidak habis pikir.
Eden seketika mengerucutkan bibirnya merasa kesal, "Daddy sendiri sedang apa di sini? Bukannya Daddy ada meeting penting ya?" tanya Eden kemudian.
"Ish! Anak ini! Iya-iya, Daddy balik ke kantor sekarang. Dasar posesif," ledek Daren seketika berbalik lalu keluar dari dalam ruangan.
Sepeninggal Daren, tinggallah Eden bersama Michel. Eden nampak merapikan selimut tebal yang menutupi separuh tubuh kekasihnya.
"Kata Dokter kamu bisa pulang hari ini juga Michel," ucap Eden dengan nada suara lembut, "Saya akan menemani kamu, saya juga akan mengantarkan kamu pulang, sayang."
Michel seketika tersenyum senang. Mendengar Eden memanggilnya dengan sebutan sayang membuat dirinya benar-benar merasa senang. Hatinya terasa berbunga-bunga, benar kata pepatah yang mengatakan bahwa orang yang sedang jatuh cinta itu, dunia terasa milik berdua. Seperti itulah yang sedang dirasakan oleh Michel.
"Kenapa kamu malah senyum-senyum kayak gitu, Michel?" tanya Eden seraya tersenyum cengengesan.
"Maaf, Pak Bos. Eu ... aku senang aja karena Pak Bos memanggil saya dengan sebutan sayang," jawab Michel menatap wajah Eden dengan tatapan mata berbinar, "Rasanya gimana gitu, aku masih belum terbiasa aja."
"Hmmm! Begitu rupanya, mulai sekarang kamu akan terbiasa mendengar saya memanggil kamu dengan sebutan, sayang, cinta, dan saya akan menghujani kamu dengan limpahan kasih sayang yang tidak pernah kamu terima dari laki-laki manapun," jelas Eden panjang lebar, "Saya juga akan memberikan apa yang belum pernah kamu dapatkan dari laki-laki lain."
Michel seketika menahan senyuman di bibirnya dengan wajah merah bersemu, "Ish, Pak Bos pandai menggombal juga ternyata. Sudah berapa banyak wanita yang Pak Bos gombalin kayak gini?"
"Hahahaha! Baru 1 sayang. Hanya kamu seorang." Eden tertawa nyaring, "Ups! 2 bukan satu, Airin istri saya yang sudah tiada dan kamu."
"O iya, saya juga akan memperkenalkan diri secara resmi kepada ke dua orang tua kamu, sayang."
"Ayahku galak Pak Bos."
"Tidak masalah, saya bisa menaklukan singa garang sekalipun."
"Beliau juga selektif dalam memilih calon menantu lho."
"Saya tidak merasa khawatir sama sekali, saya yakin Ayah kamu langsung menerima saya sebagai menantunya. Mana mungkin beliau menolak laki-laki sempurna seperti saya."
"Yakin kamu gak takut berhadapan dengan Ayahku?"
"Kenapa saya harus takut, Ayah kamu juga manusia. Untuk apa saya takut sama beliau?"
"Hmm! Baiklah, aku lega sekali mendengarnya."
"Ehem!"
Tiba-tiba saja terdengar seorang laki-laki berdehem keras seraya masuk ke dalam ruangan tersebut. Michel sontak menoleh dan menatap wajah orang tersebut.
"Ayah!" sapa Michel seraya tersenyum lebar.
Seorang laki-laki berperawakan tinggi juga berkumis tebal berjalan memasuki ruangan. Dia memakai seragam tentara lengkap dengan lencana jendral yang tersemat di pakaian tersebut. Eden seketika membulatkan bola matanya. Dia baru tahu ternyata calon ayah mertuanya adalah seorang abdi negara.
"Apa yang terjadi, Michel? Kenapa kamu bisa berbaring di sini?" tanya Budiman ayahanda Michel berdiri tepat samping Eden, "Ayah dengar kamu terjebak di dalam lift? Ayah 'kan sudah bilang, kamu resign aja dari perusahaan itu. Perusahaan macam apa yang tidak memiliki standar yang baik dalam menjaga keamanan karyawannya?!" ketus Budiman menahan rasa geram.
"Aku baik-baik saja, Yah. Ayah tidak usah khawatir, ini hanya kecelakaan biasa ko," jawab Michel seraya tersenyum cengengesan, "Ayah tahu dari mana aku ada di sini? Aku belum sempat memberitahu Ayah lho."
"Tidak penting Ayah tahu dari siapa, yang jelas Ayah kesal sekali sama Bos kamu itu," decak Budiman seraya mengepalkan ke dua tangannya membuat Eden yang saat ini berada di sampingnya seketika menelan ludahnya kasar, "Katakan di mana Bos kamu sekarang? Ayah ingin bertemu dengan dia, kalau perlu Ayah bakalan bejek-bejek tuh orang."
Eden semakin membulatkan bola matanya. Dia seketika menoleh dan menatap wajah calon ayah mertuanya dari arah samping. Wajahnya terlihat begitu menyeramkan menurutnya. Rahang laki-laki berseragam itu nampak mengeras benar-benar menahan amarah.
Sedangkan Michel hanya tersenyum cengengesan. Ekspresi wajah Eden benar-benar terlihat lucu dan menggemaskan. Keringat dingin pun nampak memenuhi pelipis wajah kekasihnya itu.
"Eu, dia ada di sini, Yah," ucap Michel seraya melirik wajah Eden.
Budiman sontak mengikut arah pandangan mata putrinya. Dia menoleh dan menatap wajah laki-laki yang saat ini berdiri tepat di sampingnya. Eden mengangkat telapak tangannya seraya tersenyum cengengesan.
"Selamat siang, Om. Pak ... eu ... A-Ayah mertua," sapa Eden dengan tubuh yang gemetar.
BERSAMBUNG