
Nata seketika meletakkan jari telujuknya di bibir Daren kini. Hingga ci*man yang hendak Daren daratkan pun tertahan. Namun, dengan posisi wajah yang sangat dekat. Tatapan mata mereka pun saling bertemu, saling menatap satu sama lain kini.
"Khilaf seperti apa yang Mas maksudkan?" tanya Nata dengan nada suara yang sangat pelan.
"Mas benar-benar sudah tidak tahan lagi ingin segera meledakkannya, sayang." Daren dengan nada suara berat juga hembusan napas yang terasa menyapu permukaan wajahnya kini.
"Meledakkan apa maksud Mas?"
"Kalau dulu Mas menahannya karena kamu masih terlalu muda kala itu. Sekarang kamu sudah dewasa, sayang. Kamu bisa menolaknya kalau memang kamu tidak mau, tapi percayalah Mas benar-benar cinta sama kamu dan Mas gak akan pernah melepaskan kamu lagi untuk selamanya. Bahkan jika kamu ingin kita kawin lari sekalipun, Mas gak akan menolaknya lagi kali ini,'' lirih Daren lagi, tatapan matanya terlihat sayu juga dengan napas yang terdengar memburu, begitu mendambakan sesuatu.
"Lakukan, Mas. Jiwa raga ini milik Mas seutuhnya dan seluruhnya. Aku percaya dengan semua yang baru saja Mas ucapkan, meskipun hanya terdengar seperti sebuah gombalan semata, tapi entah mengapa aku benar-benar percaya sama kamu, Mas," ucap Nata pasrah. Dia pun seketika menurunkan jari telunjuknya lalu menarik kepala Mas duda kesayangannya itu hingga bibir mereka benar-benar bertemu dan saling beradu.
Kerinduan yang selama ini mereka tahan pun benar-benar meledak saat itu juga. Ibarat sebuah bom nuklir, satu ledakan saja sudah dapat membumihanguskan seluruh pertahanan di dalam jiwa keduanya. Baik Nata maupun Daren benar-benar telah di buatkan oleh cinta.
Kerinduan yang selama lebih dari 5 tahun ini mereka tahan, dan juga rasa cinta yang menggebu melebur bersama ha*rat di dalam jiwa keduanya. Begitupun dengan gai*ah yang kini menguasai raga keduanya, membutakan mata hati mereka bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya adalah sebuah kesalahan meskipun di lakukan atas dasar cinta dan juga kasih sayang.
* * *
Beberapa jam kemudian.
Daren menatap wajah Nata yang saat ini masih dalam keaadaan terlelap. Tubuh gadis itu pun masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Tidak ada rasa penyesalan sedikit pun di hati seorang Daren karena dia memang sudah bertekad akan memperjuangkan cinta mereka sampai titik darah penghabisan.
"Mas sudah bangun?" tanya Nata yang tiba-tiba saja membuka kedua matanya kini.
"Mas memang tidak tidur sedikitpun, Mas hanya ingin melihat wajah kamu semalaman ini, sayang," jawab Daren, menopang kepalanya dengan kepalan tangan.
"Hmm ... Mas pasti lelah, kenapa gak tidur?"
"Mas sudah bilang tadi. Mas ingin menatap wajah kamu semalaman ini."
"Ish ... Mas ini. Aku tidur lagi kamu begitu. Tubuh aku lelah banget, Mas. Mas Daren benar-benar nakal, awas aja ya kalau berani ninggalin aku setelah kita berbuat seperti ini. Aku bakalan kejar Mas sampai ke ujung dunia sekalipun, paham?'' tegas Nata penuh penekanan.
"Hahahaha! Kalau kamu yang ngejar sih, Mas gak bakalan lari sedikitpun, sayang. Beneran deh," jawab Daren tersenyum cengengesan.
"Dih, dasar. Bangunkah aku pukul 5 pagi. Aku ngantuk banget, Mas.'' Pinta Nata melingkarkan kakinya di kedua kaki Daren, padahal tubuh mereka masih sama-sama polos.
Grep!
Glegek!
Daren sontak menelan ludahnya kasar juga sesuatu di bawah sana yang tiba-tiba saja kembali menegang. Dia pun menatap wajah Natalia yang saat ini sudah memejamkan kedua matanya secara sempurna.
"Astaga, Nata. Kamu beneran mau tidur lagi?"
Gadis itu pun sontak membuka kedua mata.
"Memangnya kenapa? Mas gak ngantuk tah?''
"Nggak, sayang. Mas gak ngantuk sama sekali. Malahan Mas seger banget, beneran deh. Temani Mas begadang ya? Tanggung, pagi juga sebentar lagi. Lagian besok juga hari minggu 'kan?''
"Dih?"
"Eu ... Boleh kita melakukannya sekali lagi? Sekaliiiiii aja, ya ...'' rengek Daren layaknya seorang anak kecil yang sedang meminta untuk dibelikan mainan.
"Dih?"
"Sayaaaaang ... Mas janji akan melakukan dengan lembut dan penuh perasaan sekarang.''
Nata akhirnya hanya mengangguk pasrah. Dia pun menarik selimut lalu menutup seluruh tubuhnya juga tubuh sang duda yang masih dalam keadaan polos sama seperti dirinya.
"Haaa ... Pelan-pelan Mas, masih sakit,'' teriak Nata dari dalam selimut tersebut.
"Ya jelas sakit, sayang. Buka dulu kedua kaki kamunya.''
"Ya udah, iya!"
"Gimana, apa masih masih sakit?"
Teriakan demi teriakan pun terdengar dari dalam selimut tebal yang menutup kedua raga sepasang insan dewasa yang sedang di mabuk asmara itu. Ranjang pun seketika bergetar, seiringan dengan panasnya permainan yang sedang mereka lakukan. Dunia benar-benar terasa milik mereka berdua.
* * *
Keesokan harinya.
Nata merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Mengedipkan kedua matanya saat sinar matahari terasa hangat menyentuh permukaan wajahnya kini. Sampai akhirnya, kedua mata gadis itu pun seketika terbuka sempurna.
Natalia Agatha menatap wajah Daren sang duda yang saat ini masih tertidur lelap. Dia pun tersenyum lebar, wajah duda kesayangannya itu terlihat begitu tampan sempurna meskipun usianya sudah semakin menua.
Cup!
Satu kec*pan pun dia daratkan di bibir sang hot duda yang semalaman telah membawanya melayang ke surga dunia. Sontak hal itu membuat Daren sektika membuka kedua matanya. Daren tersenyum ceria karena gadis itu masih berada di sana, dia dalam dekapannya.
"Good morning, honey," sapa Daren merentangkan kedua tanganya.
"Morning, my hot duda," Nata tersenyum cengengesan.
"Hot duda?"
Nata menganggukkan kepalanya.
"Hahahaha! Masih pagi udah ngelucu aja kamu.'' Daren tertawa lepas.
"Siapa yang melucu? Semalam Mas benar-benar hot ko, aku aja sampe--" Nata segera menghentikan ucapannya, mulutnya itu hampir saja mengakui bahwa dirinya benar-benar terbuai dengan gelombang kenik*atan yang disuguhkan oleh sang hot duda, wajah Nata pun seketika memerah merasa malu tentu saja.
"Sampe apa? Merem melek? Mend*sah akhhh! Begitu?''
Plak!
Satu pukulan pun di daratkan di dada bidang Daren membuatnya seketika meringis juga tertawa secara bersamaan.
"Argh ... Sakit, sayang. Hahahaha! Wajah kamu memerah, sayang.''
"Ihk ... Mas nakal. Udah akh, aku harus pulang.''
Nata hendak bangkit.
"Astaga, Mas Daren!" teriak Nata belum dia sempat turun dari atas ranjang.
Gadis itu seketika membulatkan bola matanya saat mendapati seluruh pakaian miliknya benar-benar berserakan di atas lantai, dari mulai gaun, bahkan pakaian dalam juga segitiga berwarna hitam miliknya pun tergeletak begitu saja di atas lantai.
"Ada apa, sayang? Ko panik gitu," tanya Daren yang juga bangkit lalu duduk di atas ranjang.
"Noh lihat, hasil perbuatan Mas," tunjuk Nata dengan jari telujuknya.
"Hah? Hahahaha? Kenapa pakaian kamu bisa berada di situ? Itu ...? Astaga, sayang. Apa semalam kita benar-benar lupa daratan? Hahahaha!" Daren menertawakan, dia bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal.
"Ihk ... Mas nakal. Pokoknya, aku gak mau tau ya. Mas ambilin semua pakaian aku itu. Aku gak mau turun dalam keadaan seperti ini,'' ketus Nata mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.
"Iya-iya ... Mas ambilin. Hadeuh ... Semalam kamu benar-benar luar biasa, sayang." Daren hendak bangkit dalam keadaan masih polos tentu saja.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Dad? Apa Daddy sudah bangun?"
Tiba-tiba pintu kamar di ketuk, dan terdengar suara Eden dari luar sana.
Ceklek!
Pintu pun di buka kemudian.
BERSAMBUNG
...****************...