
"Pak Eden," sapa Rizal laki-laki yang duduk bersama Michel.
Eden hanya tersenyum sinis seraya menatap sekilas wajah Rizal. Dia pun mulai menyantap makanan yang dia bawa dengan wajah masam. Michel hanya menatap wajah sang Bos seraya tersenyum cengengesan. Dia yakin betul bahwa laki-laki ini sedang terbakar api cemburu, tapi dia terlalu malu untuk mengakuinya.
'Dasar Pak Bos muna, bilang aja kalau Anda cemburu melihatku dengan laki-laki lain, ekspresi wajahnya lucu banget sih. Gemes deh,' batin Michel seraya menatap lekat wajah Eden juga memasukan satu sendok makanan ke dalam mulutnya sendiri.
"Eu ... Michel, pulang kantor saya antar kamu pulang ya," ucap Rizal mengabaikan keberadaan Eden yang juga duduk di meja yang sama.
"Michel bawa mobil sendiri," sahut Eden tanpa menoleh membuat Rizal seketika merasa heran. Sedangkan Michel hanya bisa menahan senyuman di bibirnya tanpa sepatah katapun.
"Oh, begitu ya. Eu ... bagaimana kalau nanti malam saya berkunjung ke rumah kamu, Michel?" Rizal kembali bertanya.
"Malam ini Michel lembur, dia ada banyak pekerjaan," celetuk Eden lagi-lagi mewakili Michel dalam menjawab pertanyaan laki-laki bernama Rizal.
"Maaf, Pak. Saya bertanya kepada Michel, bukan kepada Anda," sahut Rizal mulai merasa kesal.
"Michel ini sekretaris saya, jadi saya tahu jadwal dia 24 jam," imbuh Eden dengan wajah datar.
"Hah? Ko aneh ya," sahut Rizal seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
"Apanya yang aneh?" tanya Eden menyudahi makan siang yang sedang dia lakukan, "Michel, kamu masih punya banyak perkejaan, sekarang kembali ke atas dan lanjutkan pekerjaan kamu." Eden mengalihkan pandangan matanya menatap wajah sang sekretaris dengan tatapan mata tajam.
"Tapi, Pak--" Michel terpaksa menahan ucapannya karena Eden tiba-tiba menyela.
"Gak ada tapi-tapian, ikut saya sekarang juga," sela Eden seketika berdiri tegak, "Kenapa diam saja? Mau saya potong gaji kamu bulan ini?"
"Hah? Ti-tidak, Pak Bos. Iya-iya, saya naik sekarang," jawab Michel seraya mengusap perut datarnya sebenarnya masih terasa lapar.
Eden berjalan meninggalkan kantin diikuti oleh Michel sang sekretaris yang berjalan tepat di belangnya. Michel merasa kesulitan untuk mengimbangi langkah kaki lebar seorang Eden sehingga dirinya tertinggal di belakang dengan perasaan kesal. Eden berdiri tepat di depan pintu lift yang masih tertutup rapat, beberapa saat kemudian Michel pun datang dengan napas yang tersengal-sengal, dia berjongkok tepat di samping Eden.
"Astaga, Pak Bos. Gak bisa apa jalannya pelan-pelan, cape tahu," decak Michel kembali berdiri tegak.
Eden mengabaikan ucapan Michel, dia segera masuk ke dalam lift sesaat setelah pintu lift terbuka di susul oleh Michel kemudian. Beberapa detik kemudian, pintu lift pun kembali tertutup rapat dan hanya ada mereka berdua didalam lift tersebut.
"Kenapa wajah Pak Bos kesal kayak gitu?" tanya Michel menatap wajah Eden dalam posisi yang sangat dekat.
"Iya, saya kesal. Kesal banget," jawab Eden tanpa menoleh sedikitpun.
"Kenapa? Salahku apa?" tanya Michel seketika mengerutkan, "Apa jangan-jangan, Pak Bos cemburu ya melihat aku dengan laki-laki lain?"
Eden akhirnya menoleh dan menatap wajah Michel seraya tersenyum menyeringai, "Apa? Cemburu? Hahahaha! Untuk apa saya cemburu, Michel? Ngaco kamu."
"Terus, kenapa Pak Bos kesal sama saya?"
"Ya, saya kesal karena--" Eden seketika menahan ucapannya.
Lampu di dalam lift tiba-tiba saja padam. Seiringan dengan itu, lift pun berguncang membuat Michel dan juga Eden seketika merasa panik. Keadaan di dalam lift benar-benar gelap gulita dan terasa mencekam.
Michel reflek memeluk tubuh Eden merasa ketakutan, "Apa yang terjadi, Pak Bos? Kenapa lampunya tiba-tiba saja mati?" tanya Michel memeluk erat tubuh kekar seorang Eden, "Aku takut, Pak Bos. Gimana ini? Kalau lift ini rusak gimana? Lift ini bisa meluncur bebas ke bawah dan kita tewas terbakar," teriak Michel seraya memejamkan ke dua matanya, "Haaaa! Aku gak mau, aku masih mau hidup. Nikah aja belum masa udah tewas aja!"
"Kamu tenang dulu, Michel. Saya akan menghubungi bagian keamanan," sahut Eden seraya mengarahkan senter ke wajah Michel hingga wajah ketakutan wanita itu benar-benar terlihat jelas, "Sepertinya ada masalah dengan lift ini."
"Cepat hubungi pihak keamanan, Pak Bos. Aku gak mau mati di sini, aku gak mau!" rengek Michel dengan nada suara manja.
"Ish! Gak akan ada yang mati di sini, saya dan kamu akan selamat, pasti itu," jawab Eden mencoba untuk menenangkan.
"Ya udah, cepetan telpon mereka. Malah ngobrol kayak gini lagi."
"Iya-iya, tunggu sebentar ya."
Eden menatap layar ponsel dan hendak menghubungi pihak keamanan. Namun, sinyal di ponsel miliknya benar-benar hilang, akibatnya dia tidak dapat menghubungi siapapun.
"Astaga, gak ada sinyal, Michel," decak Eden seketika merasa kesal, sedangkan Michel semakin merasa ketakutan, "Sebentar, Michel. Lift ini ada tombol daruratnya. Kamu lepaskan pelukanmu dulu, biar saya menekan tombol darurat dulu," pinta Eden seraya melepaskan lingkaran tangan Michel dari pinggangnya.
Wanita itu seketika terduduk lemas di atas lantai. Tubuhnya pun tiba-tiba saja melemas seolah tidak bertenaga. Keringat dingin mulai membasahi pelipis wajahnya bahkan di sekujur tubuhnya. Sementara itu, Eden segera menekan tombol darurat yang berada di dalam lift.
"Tolong kami, siapapun. Kami terjebak di dalam lift!" teriak Eden berharap ada yang mendengarnya.
Tombol darurat tersebut terhubung ke pos keamanan. Ada penjaga yang selalu berjaga di sana selama 24 jam. Eden benar-benar berharap pertolongan akan segera datang dan nyawa mereka akan terselamatkan. Eden kembali berbalik dan menghampiri Michel setelah menekan tombol tersebut secara berkali-kali. Michel nampak duduk dengan memeluk ke dua lututnya dengan tubuh yang gemetar.
Eden duduk tepat di depan wanita itu lalu memeluknya erat, "Kamu tenang dulu ya, saya yakin pertolongan akan segara datang," lirih Eden dan di jawab dengan anggukan oleh Michel.
"Aku takut, Pak Bos," rengek Michel seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang seorang Eden.
"Kamu gak usah takut, ada saya di sini. Saya yakin kita pasti bakalan selamat."
"Kalau kita tewas di sini gimana?"
"Gak akan, kita pasti selamat."
"Padahal aku belum nikah, aku gak mau mati dan menjadi hantu perawan nantinya, huaaa!" Michel tiba-tiba saja berteriak histeris.
"Gak akan, Michel. Saya akan segera menikahi kamu, jadi kamu gak bakalan jadi hantu perawan, astaga!" decak Eden seketika tersenyum kecil seraya mendekap erat tubuh ramping kekasihnya.
"Beneran? Pak Bos gak bakalan bohongin aku, kan?"
"Iya, Michel. Seorang laki-laki itu yang di pegang adalah janjinya. Saya laki-laki sejati lho, pantang bagi saya mengingkari janji yang sudah saya ucapkan."
Tut!
Lampu lift tiba-tiba saja menyala, pintu lift pun seketika terbuka. Pihak keamanan berikut karyawan lainnya nampak berdiri di depan pintu dengan perasaan khawatir juga merasa heran karena Bos mereka nampak sedang memeluk tubuh Michel erat, bahkan sangat erat.
Daren yang juga berada di sana seketika tersenyum kecil alih-alih merasa khawatir, "Ck! Ck! Ck! Ini sih namanya, musibah membawa berkah," gumam Daren seraya berjalan memasuki lift tersebut.
BERSAMBUNG