MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Demam



Nata menatap wajah Eden juga memeriksa keadaan tubuhnya dengan perasaan khawatir. Wajah Eden terdapat bintik merah, bahkan hampir memenuhi sekujur tubuhnya kini. Hal itu membuat Nata merasa khawatir juga terkejut tentunya.


"Sepertinya kamu benar-benar terserang demam berdarah. Kamu harus di bawa ke Rumah sakit, Ed. Sebentar, aku telpon Mas Daren dulu," ucap Nata. Dia pun meraih ponsel miliknya lalu menelpon Daren kemudian.


"Gak usah repot-repot. Aku gak apa-apa ko. Lebih baik kamu pulang aja sekarang. Aku gak mau melihat kamu, dasar so baik," ketus Eden kembali menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


Nata sama sekali tidak menanggapi ucapan Eden. Dia berdiri dan berjalan keluar dari dalam kamar tidak ingin suaranya sampai mengganggu kenyamanan Eden. Gadis itu pun segera mengatakan apa yang sedang menimpa Eden sang calon putra sambung kepada kekasihnya. Daren pun mengatakan bahwa dia akan pulang saat ini juga.


Setelah menelpon sang duda, Nata kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa satu wadah kecil berisi air hangat lengkap dengan kain kecil yang akan dia gunakan untuk mengompres tubuh Eden.


"Tubuh kamu harus di kompres. Kalau Tidak demamnya akan semakin parah nanti," ucap Nata duduk tepat di tepi ranjang.


Eden hanya bisa pasrah. Dia sama sekali tidak kuasa untuk mengatakan sepatah kata pun lagi. Sekujur tubuhnya benar-benar terasa remuk. Belum lagi, kepalanya yang semakin terasa pusing kini. Dia memejamkan kedua matanya saat kain hangat itu mulai diletakan di keningnya kini. Nata bahkan melakukan hal tersebut secara berkali-kali, akan tetapi demam itu tidak kunjung reda juga.


30 menit kemudian, Nata mendengar suara mobil yang berhenti tepat di halaman. Dia pun segera berlari keluar dari dalam kamar dengan perasaan khawatir. Wajahnya bahkan terlihat pucat pasi.


"Bagaimana keadaan Eden, Nat? Dia kenapa?" tanya Daren berjalan ke arah kamar bersama Nata tentunya.


"Eden demam, Mas. Tubuhnya juga bintik-bintik. Aku takut kalau dia terserang demam berdarah," jawab Nata.


"Astaga, putra Daddy. Maafkan Daddy karena telah mengabaikan kamu selama beberapa ini sehingga Daddy gak tahu kalau kamu sakit seperti ini."


"Kita harus membawa Eden ke Rumah Sakit sekarang juga. Aku takut dia kenapa-napa nantinya."


Daren memeriksa keadaan Eden. Wajahnya terlihat begitu khawatir. Rasa bersalah pun menyelimuti relung hatinya kini karena dia merasa kurang memperhatikan sang putra.


"Sayang, Nak. Ini Daddy. 'Maafkan Daddy, Ed. Kita ke Rumah Sakit sekarang juga," lirih Daren dan hanya di jawab dengan anggukan oleh Eden.


* * *


Di Rumah Sakit.


Daren dan juga Nata menunggu dengan perasaan khawatir di luar ruangan Unit Gawat Darurat. Raut kesedihan terlihat jelas dari Wajahnya tampan seorang Daren. Hal yang sama pun dirasakan oleh Nata kini. Dia pun menyesal dan berfikir bahwa Eden sakit karena dirinya.


Keduanya tidak mengatakan sepatah katapun kini. Baik Nata maupun Daren kini larut dalam lamunan masing-masing. Nata menjatuhkan kepalanya di bahu lebar Daren dan seketika memejamkan kedua matanya.


"Apa Eden seperti ini gara-gara kita?'' gumamnya rasa bersalah terselip di dalam lubuk hatinya kini.


"Tapi tetap saja, Mas seperti ini karena aku. Karena hubungan kita dan karena Eden merasa keberatan dengan hubungan kita.'' Nata mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Daren kemudian.


"Tapi tetap saja itu bukan salah kamu. Mas yang memilih keras kepala, dan tidak berusaha untuk memenangkan hati dia. Sayang, dengarkan Mas. Jangan sampai apa yang terjadi dengan Eden membuat hubungan kita goyah. Justru, ini adalah saat yang tepat untuk kamu menunjukkan kepada dia bahwa kamu adalah calon ibu yang baik untuk dia,'' lemah Daren mengusap kedua sisi pipi Nata lembut dan penuh kasih sayang.


"Begitukah?"


"Tentu saja, walau bagaimana pun kita harus bisa melewati semua ini dengan tenang dan sabar, oke?''


Nata menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


Ceklek!


Pintu ruangan pun di buka. Dokter keluar dari dalam sana kemudian. Nata dan juga Daren sontak berdiri lalu menghampiri sang Dokter.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dokter?'' tanya Daren cemas.


"Pasien baik-baik saja. Demamnya juga sudah mulai turun,'' jawab sang Dokter.


"Lalu, bintik-bintik merah itu apa, Dok?" tanya Nata yang juga merasa khawatir.


"Oh itu, Anda tidak usah khawatir. Itu hanya reaksi dari panas di dalam tubuhnya. Sepertinya pasien melewati demamnya sendiri.''


"Maksud Dokter, putra saya sudah terserang demam selama beberapa hari?"


"Sepertinya begitu? Apa Anda ayahnya sama sekali tidak tahu?"


Daren hanya bisa mengusap Wajahnya kasar. Rasa berdarah pun semakin mengusik hatinya kini. Hal yang sama pun di rasakan oleh Nata. Walau bagaimanapun, jauh di relung hatinya yang paling dalam dia tetap menyalahkan diri sendiri.


'Maafkan aku, Ed. Karena aku, kasih sayang Mas Daren jadi terbagi. Maafkan aku juga karena aku perhatian Daddy kamu jadi terbagi. Aku berjanji akan membayar semua kasih sayang dan juga perhatian Daddy mu ini di seumur hidup aku,' (batin Nata).


BERSAMBUNG


...****************...