
Mau tidak mau, Nata berjalan menjauh dari ruang tamu dengan perasaan was-was sebenarnya. Dia takut bahwa sang ayah akan berubah pikiran dan mengatakan yang tidak-tidak kepada Mas Daren-nya itu. Dia berdiri di belakang tembok dan mencoba untuk mengintip juga mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Apa semalam putriku menginap di hotel bersama kamu, Daren?" Jude memulai pembicaraan.
"Hah? Eu ... Dari kamu kamu tahu, Jude?" Daren terlihat gugup tentu saja, keringat dingin nampak membasahi pelipis wajahnya kini. Jantungnya bahkan berdetak kencang dengan tubuh yang sedikit gemetar.
"Aku tidak ingin menerka-nerka apa yang kalian lakukan di kamar hotel hanya berdua saja. Kalian sudah dewasa, aku tidak mungkin memarahi putriku seperti dulu. Dia juga bukan anak kecil lagi yang bisa aku atur-,atur hidupnya, nikahi dia secepatnya."
"Hah? Ka-mu me-min-ta aku untuk--" Daren terbata-bata, saking senangnya dia bahkan tidak sanggup untuk meneruskan ucapannya.
"Kenapa? Kamu tidak mau? Ya sudah aku nikahkan saja dia dengan orang lain."
"Ish ... Siapa yang bilang tidak mau? Kamu ini. Tentu saja aku mau, sangat mau malah. Kalau perlu kita ke Kantor Urusan Agama sekarang juga, bagaimana?"
"Dasar gak sabaran. Dia itu putriku satu-satunya, aku ingin mengadakan acara pesta besar-besaran buat dia. Tapi, Daren. Berapa mahar yang akan kamu berikan buat putriku itu? Mengingat ini adalah Pernikahan kedua kamu dan putriku itu adalah harta yang paling berharga buat kami, aku tidak ingin kamu memberikan mahar yang sembarangan untuk dia.''
'Aku baru tau kalau ternyata kamu matre juga, Jude. Hadeuh, sisi lain yang baru aku ketahui tentang kamu,' (batin Daren).
"Aku bukannya matre, Daren. Tapi, aku hanya ingin yang terbaik untuk Nata. Kamu gak keberatan 'kan kalau aku minta mahar yang besar?"
"Hah?"
'Kenapa dia bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan? Astaga, Jude,' (batin Daren).
"Tentu saja tidak, aku memang sudah berniat akan memberikan mahar yang besar untuk putrimu yang berharga itu. Katakan saja, berapa mahar yang kamu inginkan? Aku punya cukup banyak uang ko. 1 miliar? 2 miliar? Kamu tinggal sebutkan saja nominalnya.''
Nata yang mendengar hal itu tentu saja mengepalkan tangannya. Dia menatap dengan perasaan kesal wajah sang ayah di dalam sana.
'Dasat Daddy, kenapa dia matre sekali sih? Tapi, sabar Nata, sabar ... Turuti aja apa yang Daddy inginkan,' (batin Nata).
"Hahahaha! Aku percaya sama kamu. Kamu itu pengusaha sukses, aku yakin uang kamu juga pasti banyak. Yang aku minta tidak muluk-muluk ko. Aku hanya ingin kamu pindah ke kota ini setelah kalian menikah nanti, aku tidak mau tinggal jauh-jauh dari putriku ini. Kamu cukup sediakan rumah yang besar dan nyaman buat dia, jangan terlalu mewah, tapi cukup tiga lantai lengkap dengan kolam renang dan halaman yang luas. Gimana, apa kamu sanggup?'' Jude meneruskan ucapannya.
"Hah?"
'Rumah tiga lantai dengan kolam renang? Apa ada rumah sederhana yang seperti itu? Astaga, Jude. Tapi tak apa, aku sanggup membeli rumah lima lantai sekalipun,' (batin Daren).
"Tentu saja aku sanggup, aku juga gak masalah harus bulak-balik keluar kota kalau kita sudah menikah nanti. Hahahaha!" jawab Daren tertawa lepas.
"Bagus, aku tunggu janji kamu. Sekarang, tinggal tentukan kapan kalian akan menikah?"
"Terserah kamu saja, Jude. Untuk waktu dan tanggalnya aku serahkan sama kamu, tapi jangan sampai tahun depan juga. Kalau bisa Minggu depan."
"Ish ... Sabar dong. Aku beri waktu tiga bulan untuk kalian mempersiapkan pesta pernikahan besar-besaran. Tak usah terlalu mewah, cukup diadakan di hotel berbintang lima juga mengundang artis papan atas saja, hahahaha!''
"Mas, cukup. Mas bilang hanya, Mas bilang juga hanya sederhana, tapi apa yang kamu minta itu lebih dari kata sederhana. Kamu itu kayak ayah mertua yang matre tau," protes Merry yang sedari tadi hanya menyimak percakapan suami juga calon menantunya.
"Hahahaha! Masa sih? Coba kita tanya sama calon menantu kita ini, apa dia keberatan dengan apa yang Mas mintakan tadi?''
"Tentu saja tidak calon ayah dan calon ibu mertua. Menantu kalian ini gak keberatan sama sekali dengan apa yang kalian mintakan tadi. Hahahaha!" Tawa Daren terdengar nyaring. Wajah duda satu anak itu terlihat sangat bahagia.
"Jude, boleh aku meminta izin untuk membawa Nata keluar? Malam ini aku ingin melamar dia secara pribadi. Aku juga sudah menyiapkan cincin yang indah buat dia. Boleh ya?" pinta Daren kemudian.
"Jude? Masa sama calon mertua manggilnya Jude? Gak sopan banget sih?" ketus Jude setengah bercanda.
"Lalu aku harus memanggil mu apa, calon ayah mertua?"
"Itu dia, aku juga bingung."
"Sudah-sudah, kalian ini. Malah membicarakan hal yang tidak penting kayak gitu. Daren, kalau kamu mau membawa Natal keluar, jangan pulang terlalu malam. Jam 11 malam dia harus sudah ada di rumah, oke?" tegas Merry penuh penekanan.
"Baik calon ibu mertua, aku janji gak akan pulang lebih dari jam 11 malam."
"Ish ... Geli rasanya mendengar kamu menyebut istriku dengan sebutan seperti itu. Sudah sana, nanti keburu malam lagi," protes Jude merasa geli.
Nata seketika keluar dari persembunyiannya. Dia tersenyum cengengesan seraya berjalan menghampiri ayah juga calon suaminya.
"Kita pergi sekarang, Mas," ucap Nata kemudian.
"Kamu? Apa kamu mendengar apa yang kami bicarakan tadi?'' tanya Jude kemudian.
"Hah? Nggak ko, Dad. Memangnya kalian membicarakan apa tadi?" jawab Nata berbohong tentu saja.
"Sudahlah, kalian cepat pergi nanti kemalaman di jalan."
Daren pun bangkit lalu berpamitan. Hal yang sama pun dilakukan oleh Nata. Dia melingkarkan tangannya di pergelangan tangan sang duda, bergelayutan manja di depan kedua orang tuanya sendiri tanpa rasa malu sedikit pun.
''Kami pergi dulu, Dad, Mom,'' pamit Nata kemudian lalu keluar dari dalam rumah.
''Hati-hati, ingat pesan Mommy tadi!'' jawab Merry sang ibu.
''Astaga, Nata. Jangan terlalu nempel kayak gitu kalian belum jadi suami-istri!'' protes Jude, tapi diabaikan oleh putrinya itu tentu saja.
Nata dan juga Daren akhirnya masuk ke dalam mobil kemudian.
''Ish, memangnya waktu kita muda dulu kamu gak kayak gitu, Mas? Kamu bahkan nempelin aku terus kayak prangko,'' celetuk Merry menoleh dan menatap wajah Jude sang suami.
''Hehehehe! Iya juga ya. O iya, sayang. Aku ngantuk, kita tidur ya. Nata gak usah di tungguin, dia sudah dewasa. Biarkan mereka bersenang-senang.''
''Tumben kamu seperti ini?''
''Seperti ini seperti apa?''
''Sudah, gak usah di bahas. Kita tidur, aku juga sudah ngantuk sebenarnya,'' jawab Merry mulai menutup pintu setelah mobil putrinya itu benar-benar meninggalkan halaman lalu melesat di jalanan.
BERSAMBUNG
...****************...