MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Airin



Nata seketika menatap wajah Airin. Wanita yang pernah menjadi asistennya sebelum dirinya resign dari perusahaan dimana tempatnya bekerja selama ini. Wajah Airin pun seketika memerah merasa malu tentu saja.


"Bu Nata? Kenapa Anda juga bisa berada di sini?'' tanya Airin kemudian.


"Seharusnya saya yang bertanya sama kamu? Sedang apa kamu di sini? Ini memang rumah suami saya, dan si Eden ini adalah putra sambung saya. Eu ... Apa kalian berpacaran?"


"Hehehehe! Kenapa kalian gak bilang kalau bakalan datang hari ini?'' tanya Eden tersenyum cengengesan.


"Ed ... Jelaskan sama Daddy, apa dia pacar kamu? Kenapa istri Daddy bisa kenal sama gadis ini?" tanya Daren kemudian.


"Airin ini adalah mantan assiten aku di kantor, Mas. Mereka memang pernah satu kali ketemu waktu Eden datang ke kantorku, tapi gak nyangka lho kalau kalian bakalan beneran pacaran seperti ini."


"Hehehehe! Itu karena putra ibu ini mendekati saya, bu. Sampai akhirnya dia pun menyatakan cinta sama saya, iya 'kan sayang?"


Eden menganggukkan kepalanya, seraya tersenyum menatap wajah Airin kekasihnya.


"Jadi beneran kalian berpacaran?"


Baik Eden maupun Airin menganggukkan kepalanya kini, keduanya bahkan saling menggenggam jemari masing-masing.


"Hmmm ... Baguslah, dengan begitu kalian bisa segera menikah.''


"Jadi Daddy merestui hubungan kami?" Eden tersenyum lebar merasa senang tentu saja.


"Memangnya Daddy ada alasan untuk menentang hubungan kalian? Apa selama ini Daddy selalu ikut campur setiap kali kamu dekat dengan wanita manapun?''


"Hehehehe! Nggak juga sih. O iya, aku sampai lupa ngenalin dia sama Daddy. Kenalin, Dad. Dia Airin, seperti yang Mommy katakan tadi, Airin ini adalah mantan asistennya Mommy Nata. Sekarang dia pacar aku, dan kami sudah 3 bulan menjalin hubungan,'' ucap Eden, akhirnya mengenalkan Airin secara resmi sebagai kekasihnya.


Gadis itu pun mengulurkan tangannya ramah seraya menyebutkan namanya sopan. Daren menyambut uluran tangan Airin juga menyebutkan namanya.


''Silahkan lanjutkan kebersamaan kalian, kami lelah sekali. Kami istirahat dulu ya. Airin, jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri,'' ucap Nata kemudian.


"Baik, Bu Nata. Terima kasih."


Nata pun tersenyum ramah lalu berjalan bersama suaminya menuju tangga dimana kamarnya berada di lantai dua.


"Sayang, mau Mas gendong," tawar Daren meletakkan tangannya di pinggang ramping sang istri.


"Gak usah, aku berat lho."


"Tak masalah, walaupun sudah tua kayak kini, Mas masih buat ko. Kasian kamu pasti kelelahan setelah seharian di perjalanan."


"Ya udah kalau Mas maksa." Nata akhirnya melingkarkan kedua tangannya di leher Daren mesra. Pelan tapi pasti, Daren pun benar-benar menggendong tubuh ramping Natalia dan perlahan mulai naik ke lantai dua.


"Kamu berat juga ternyata," decak Daren mencoba menyeimbangkan tubuhnya sebelum kakinya benar-benar menaiki anak tangga.


"Kan aku udah bilang tadi. Turinin saja kalau begitu, nanti Mas jatuhin aku kayak dulu lagi."


"Hahahaha! Kamu masih ingat juga ternyata. Nggak ko, sayang. Kali ini Mas gak akan jatuhin kamu, Mas akan lebih hati-hati, 'kan ada dede bayi di dalam perut kamu ini."


"Awas aja ya kalau aku sampai jatuh, jatah malam aku pending nanti,'' ancam Nata semakin merekatkan lingkaran tangannya di leher Daren sang suami.


Eden yang juga berada di sana pun hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Sementara Airin, dia menatap sepasang suami-istri tersebut dengan perasaan iri juga merasa kagum dengan keromatisan Nata dan juga suaminya.


"Hmm ... Mereka so sweet banget si," decak Airin matanya masih saja menatap ke arah tangga.


"Mereka memang selalu seperti itu, kalau mereka mesra-mesraan suka lupa tempat. Bikin iri aja sih,'' decak Eden.


"Selama ini ibu Nata selalu menutup diri kepada laki-laki, bahkan selalu menolak setiap ada yang mendekati dia. Ternyata ini alasannya. Ada Om Daren yang tampan ternyata, ya meskipun udah agak berumur juga sih.''


"Dih mulai deh gombalnya keluar." Airin tersenyum kecil.


"Hahahaha! Ini bukan gombal sayang, aku juga jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu. Sejak kita bertemu di kantor waktu itu. Jujur saja, aku langsung jatuh hati saat melihat wajah cantik kamu, Airin.'' Eden mengeluarkan keahliannya dalam menggombal yang tentu saja di turunkan dari ayahnya.


Airin tentu saja merasa tersanjung mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh kekasihnya itu. Wajahnya bahkan sampai memerah juga tersipu malu.


* * *


Malam hari.


"Maaaas ..." Nata merengek manja, meringkuk tepat di samping Daren suaminya.


"Apa, sayang? Ngidam lagi? Katakan kamu mau makan apa? Mas bakalan beliin kamu apapun yang kamu inginkan," tanya Daren yang saat ini dalam keadaan duduk dengan laptop di atas pangkuannya, juga dengan jarinya yang kini menari-nari di atas keyboard lengkap dengan kaca mata minus yang dikenakannya kini.


"Aku bukan ngidam makanan, Mas.''


"Terus?" Daren menghentikan gerakan tangannya lalu menoleh dan menatap wajah istrinya kini.


Nata tiba-tiba saja memasukan telapak tangannya ke dalam selimut yang meutupi separuh tubuh suaminya. Perlahan jemarinya itu pun mulai turun ke bawah sana dan mengelus benda yang tersembunyi di balik celana boxer yang saat ini dikenakan oleh suaminya.


"Sayang, tunggu sebentar. Mas selesaikan dulu pekejaan Mas ini, karena Mas sudah cuti selama beberapa hari membuat pekerjaan Mas menumpuk,'' decak Daren memejamkan kedua matanya kini.


"Mas terusin aja pekerjaan Mas. Aku cuma mau main-main sebentar ko. Semenjak aku hamil, entah mengapa pengennya main sama si junior terus,'' lirih Nata, tangannya semakin nakal, dia bahkan menyelusup ke dalam sana dan benar-benar memainkan benda pusaka yang perlahan mulai mengeras dan juga menegang tentu saja.


"Astaga, istriku sayang. Bagaimana Mas bisa nerusin pekerjaan Mas kalau kamu kayak gini? Akhh ... Natalia Agatha. Nakal kamu ya.''


"Bukan aku yang nakal, tapi baby kita di dalam sini yang minta aku buat kayak gini."


"Alasan, dasar istri Nakal. Bisa aja bikin Mas panas dingin. Jangan salahkan Mas ya kalau tidur kamu gak bakalan nyenyak malam ini!"


"Hah?"


Nata membulatkan bola matanya, saat suaminya itu tiba-tiba saja menyudahi pekerjaan yang sedang dia lakukan. Daren seketika bangkit lalu melucuti setiap helai pakaian yang dia kenakan hingga tak ada satu pun yang tersisa.


''Astaga, sayang. Kamu lagi apa? Hahahaha!'' Nata tertawa lepas, apa lagi saat dia melihat belalai panjang yang kini sudah benar-benar menegang.


"Mas sudah bilang tadi, kalau tidur kamu gak akan nyenyak malam ini."


Grep!


Daren benar-benar menerkam buas tubuh istrinya saat itu juga layaknya singa yang baru saja dibangunkan dari tidur panjanganya.


"Haaaa! Pelan-pelan Mas. Ingat baby kita!" teriak Nata memejamkan kedua matanya.


"O iya, Mas lupa. Mas bakalan pelan-pelan, sayang."


"Akhhh! Maaaas ..."


"Kenapa, sayang?"


"Enak, Mas. Teruskan!''


BERSAMBUNG


...****************...