
Jackie seketika menunduk seraya terisak. Anak pembawa sial? Apa dirinya tidak salah dengar? Meskipun Eden mengatakan hal itu dengan setengah berbisik, tapi anak itu masih dapat mendengar dengan jelas ucapan yang sangat menyakitkan itu.
'Apa benar aku ini anak pembawa sial? Daddy sama Mommy tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepadaku? Kenapa Kaka Jackie begitu membenci aku? sebenarnya salah aku apa?' batin Jackie seraya mengusap wajahnya yang benar-benar membanjir.
Sementara Eden hanya terdiam seraya menatap lurus ke depan. Wajahnya terlihat datar bahkan seperti tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun usai mengatakan hal yang begitu menyakitkan hati darah dagingnya sendiri.
Jackie mengangkat ke dua kakinya ke atas jok lalu memeluk ke dua lututnya sendiri. Suara isak tangisnya memang tidak terdengar, tapi air mata itu tidak berhenti bergulir. Apa yang baru saja diucapkan oleh Eden benar-benar telah melukai hati dan perasaan Jackie buah hatinya sendiri.
Dret! Dret! Dret!
Ponsel milik Eden seketika bergetar. Dia pun merogoh saku celananya lalu mengangkat sambungan telpon.
"Halo," sapa Eden tanpa menatap layar ponsel, tatapan matanya nampak lurus menatap ke depan.
"Iya, Pak Eden. Meeting akan segera di mulai, Pak. Anda di mana?" Samar-samar terdengar suara sekretarisnya di dalam sambungan telpon.
"Hmm! Baiklah, saya ke sana sekarang juga," jawab Eden segera menginjak pedal gas guna mempercepat laju mobil.
'Gara-gara anak ini saya jadi terlambat datang ke kantor, dasar!' decak Eden di dalam hatinya.
Mobil pun melesat dengan kecepatan tinggi bahkan menyalip setiap mobil yang berada di hadapannya bak seorang pembalap profesional. Dalam hitungan menit saja, mobil yang dikendarai oleh Eden pun tiba di kantor di mana dia bekerja.
Ckiiit!
Mobil berhenti di area parkir. Jackie nampak menatap sekeliling dengan kening yang dikerutkan.
"Ko kita ke sini, Kak? Katanya mau mengantarkan aku pulang?" tanya Jackie menatap wajah Eden dengan bola mata memerah.
"Sudah jangan banyak nanya, saya ada meeting. Kamu pulang sama Daddy nanti," jawab Eden seraya membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa, "Kenapa kamu diam saja? Cepat keluar," pinta Eden dengan ke dua mata yang membulat sempurna.
Jackie segera mengikuti apa yang diperintahkan oleh laki-laki itu dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa.
* * *
2 Jam Kemudiaan
Ceklek!
Pintu ruangan pun di buka. Eden masuk ke dalam ruangan dengan perasaan malas dan ekspresi wajah datar seperti biasa. Dia menatap tubuh mungil Jackie yang saat ini sedang meringkuk di atas kursi dengan memeluk ke dua lututnya juga dengan ke dua mata yang terpejam sempurna.
"Anak ini, malah tidur lagi. Ck! Ck! Ck! Nyusahin banget sih?" decak Eden berjalan menghampiri dan hendak membangunkan anak itu.
Eden menyentuh bahu anak itu dengan ragu-ragu. Dia menatap lekat wajah Jackie hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Bagi Eden, menatap wajah anak ini hanya akan membuatnya mengingat kejadian 5 tahun yang lalu di mana dia kehilangan istrinya untuk selamanya.
"Hey, bangun," pinta Eden semakin lekat menatap wajah Jackie.
Eden seketika berjongkok tepat di samping kursi, ke dua matanya nampak menyisir setiap jengkal wajah Jackie membuatnya teringat akan seseorang. Ya, wajah Jackie benar-benar mirip dengan Airin mendiang istrinya. Bisa dikatakan bahwa Jackie adalah Airin versi laki-laki. Matanya, hidungnya, bahkan alis tebalnya sama persis seperti yang dimiliki oleh mendiang istrinya.
"Wajahmu benar-benar mirip dengan Ibumu, Jack," gumam Eden tanpa sadar bibirnya tersenyum kecil seraya menatap wajah anak itu.
"Kaka sedang apa?" tanya Jackie tiba-tiba saja membuka ke dua matanya membuat Eden seketika merasa terkejut.
Eden sontak berdiri tegak dengan perasaan gugup, "Mau Pulang tidak? Malah tidur lagi," decak Eden hatinya tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang aneh.
Dia kembali menatap wajah Jackie seolah ingin melepas rasa rindunya kepada ibu dari anak ini.
"Aku lapar, Kak," rengek Jackie seraya mengusap perutnya sendiri.
"Astaga, anak ini! Bisanya nyusahin aja." Eden kembali berdecak kesal, "Kita makan dulu di bawah setelah itu saya akan mengantarkan kamu pulang, tapi ingat jangan makan lebih dari 15 menit. Saya sibuk."
Jackie menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lebar juga menatap wajah Eden dengan tatapan mata berbinar. Eden kembali tercengang, lagi-lagi senyuman yang dilayangkan oleh anak ini benar-benar mirip dengan senyuman yang selalu diperlihatkan oleh mendiang istrinya. Eden seketika mengalihkan pandangan matanya ke arah lain lalu berjalan keluar dari dalam ruangan dengan diikuti oleh Jackie.
"Tunggu aku, Kak," pinta Jackie, tapi diabaikan oleh Eden seperti biasa, "Kaka, kakiku sakit, gendong!" rengek Jackie dengan nada suara manja.
Eden terpaksa menghentikan langkah kakinya dengan perasaan malas. Dia pun berbalik lalu menatap tubuh Jackie yang saat ini berlari ke arahnya. Eden tiba-tiba saja merentangkan ke dua tangannya lalu benar-benar menggendong Jackie sama seperti yang dia lakukan kepada Axelia di sekolah tadi.
'Akhirnya Kaka mau menggendong aku,' batin Jackie seketika merasa senang.
BERSAMBUNG