MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Tidak Menua



''Ini mobil kamu?'' tanya Daren menatap mobil mewah berwarna merah milik Natalia.


"Tentu saja. Asal Mas tahu aja ya, aku ini seorang wanita karir yang sukses lho. Mobil ini juga aku beli dengan uangku sendiri,'' jawab Nata penuh percaya diri.


"Hahahaha! Kamu benar-benar luar biasa. Mas bangga sama kamu, sayang. Hmmm ... Gemes deh," decak Daren gemas mencubit kedua sisi pipi Nata membuat gadis itu seketika meringis kesal.


"Argh ... Mas ini, sakit tahu. Make up aku luntur nanti," ringis Nata mengusap kedua sisi pipinya kini.


"Hahahaha! Kamu benar-benar sudah banyak berubah, sayang. Mana kuncinya biar Mas yang menyetir."


Nata menyerahkan kunci mobil miliknya dan segera di terima oleh Mas duda. Keduanya pun masuk ke dalam mobil secara bersamaan. Mobil pun mulai di nyalakan dan melesat di jalanan.


Di perjalanan. Nata sama sekali tidak beranjak dalam menatap wajah tampan sang duda yang saat ini sedang mengendarai mobilnya. Tentu saja hal itu membuat Daren merasa gugup tentu saja.


"Jangan liatin Mas kayak gitu. Bisa keegeran nanti Masmu ini," ucap Daren tersenyum cengengesan.


"Muka Mas ko bisa gak berubah sama sekali sih."


"Entahlah, Mas juga heran kenapa muka Mas gak berubah padahal umur Mas semakin tua lho."


"Hahahaha! Tapi rambut Mas udah berubah lho. Noh ... Lihat, ada ubannya," ledek Nata menunjuk kepala Daren dimana beberapa helai rambut berwarna putih terselip di antara rambut hitam lainnya.


"Masa sih? Hmmm ... Rambut memang gak bisa di ajak kompromi, padahal udah Mas cat pake warna hitam lho. Masih aja nunjukin diri, hadeuh ..." Gumam Daren.


"Kita mau ke mana, Mas?''


"Ke hotel dimana Mas menginap, katamu mau ke tempat yang hanya ada kita berdua."


"Hmmm ... Yakin di sana hanya ada kita berdua? Bukannya Mas menginap di sana sama si Eden juga?"


"O iya, Mas lupa. Gampang lah, dia bisa Mas suruh pindah ke kamar lain biar dia gak jadi obat nyamuk nantinya.''


Nata hanya tersenyum kecil. Kedua matanya masih saja menatap wajah tampan sang duda seolah tidak ingin melewatkan setiap detik bersamanya. Apalagi, dia telah menghabiskan waktu selama 5 tahun menahan rasa rindu dan tidak bertemu dengan duda kesayangannya itu.


Ckiiit!


Mobil pun akhirnya melipir dan berhenti di tempat parkir hotel. Daren membuka pintu mobil lalu keluar dari dalamnya. Setelah itu, dia pun berlari ke arah samping lalu membukakan pintu mobil untuk gadisnya.


Ceklek!


"Silahkan keluar, Tuan putri," ucap Daren tersenyum lebar seraya merentangkan tangannya.


"Dia apaan sih," gumam Nata menyembunyikan senyumannya lalu keluar dari dalam mobil tersebut.


Keduanya pun berjalan secara beriringan juga saling bergandeng tangan mesra. Wajah keduanya terlihat sangat bahagia lengkap dengan senyuman yang mengembang sempurna dari kedua sisi bibir masing-masing. Sampai akhirnya, keduanya pun tiba di kamar hotel.


Ceklek!


Pintu kamar pun di buka. Daren dan juga Nata masuk ke dalam sana. Eden yang saat ini sedang berbaring seraya memainkan ponselnya pun seketika bangkit lalu menatap wajah kedua orang yang saat ini masih bergandengan tangan mesra.


"Ko cepet banget makan malamnya?" tanya Eden berdiri tegak kemudian.


"Kami gak makan, padahal Daddy lapar lho."


"Ko Mas gak bilang sama aku kalau Mas lapar?'' protes Nata menoleh dan menatap wajah Daren sang duda.


"Ya, kamu sendiri yang bilang ingin cepat-cepat di bawa ke tempat yang sepi, biar kita bisa berduaan nantinya."


"Hah? Kapan aku bilang kayak gitu? Mas ngarang nih."


"Kamu lah, siapa lagi?"


Eden menatap wajah ayahnya dan juga Nata secara bergantian. Senang rasanya bisa melihat mereka bertengkar mesra seperti ini. Sudah lama sekali dia tidak melihat sang ayah tersenyum begitu bahagia.


"Hmm ... Kalian ini. Yang kayak gitu aja kenapa harus diributkan sih? Kalau kalian memang pengen berduaan, aku pesan satu kamar lagi kalau begitu. Kalian bebas melakukan apapun di sini. Oke?'' gumam Eden berjalan dan hendak keluar dari dalam kamar.


"Ed ..."


Eden sontak menghentikan langkah kakinya lalu menoleh dan menatap wajah ayah juga calon ibu tirinya.


"Terima kasih, Daddy benar-benar berterima kasih sama kamu karena telah mempertemukan kami lagi,'' ucap Daren penuh rasa haru.


"Bukan aku yang telah mempertemukan kalian berdua, tapi Takdir. Jadi, nikmati takdir kalian ini, oke?"


"Maafkan Daddy karena telah mengatakan kamu anak durhaka, Daddy cabut ucapan Daddy yang satu itu."


"Hah?" Eden mengerutkan kening merasa tidak mengerti tentu saja.


"Eu ... Gak usah di pikirin. Sekarang kamu boleh keluar."


Eden pun melanjutkan langkah kakinya lalu benar-benar keluar dari dalam kamar tersebut.


Sepeninggal Eden sang putra, kini tinggalkan Daren bersama Nata di sana. Rasa canggung pun seketika tercipta. Keduanya merasa gugup tiba-tiba, padahal mereka sering menghabiskan waktu bersama kala itu di Villa.


"Eu ... Kamu pasti haus? Mas ambilin minum ya," tawar Daren menyembunyikan rasa gugup sebenarnya, dan hanya di jawab dengan anggukan kecil oleh Nata yang merasakan hal yang sama, dia pun duduk di kursi kemudian.


Tidak lama kemudian, Daren pun kembali dengan membawa segelas air putih. Dia pun meletakkannya di atas meja.


"Ko cuma air putih? Memangnya gak ada minuman lain apa?" Protes Nata meraih gelas tersebut lalu meminumnya kemudian.


"Emangnya kamu minum apa, sayang? Biar Mas ambilkan lagi.'' Daren hendak bangkit.


"Gak usah, aku cuma bercanda ko, Mas. Air putih aja udah cukup kok buat menghilangkan rasa haus di tenggorokan aku ini."


Daren sontak mengurungkan niatnya lalu kembali duduk di kursi tepat di samping Nata kini. Susana terasa semakin kikuk. Baik Nata maupun Daren merasa sungkan untuk mengatakan sepatah katapun lagi. Keduanya benar-benar merasa canggung, bahkan sangat canggung.


"Mas--''


"Nat--"


Keduanya secara bersamaan.


"Kamu duluan, Nat." Pinta Daren.


"Nggak-nggak, Mas aja yang duluan."


"Hmm ... Baiklah kalau begitu. Mas cuma bertanya, bagaimana kabar Jude? Apa dia baik-baik saja?'' tanya Daren menatap lekat wajah Nata.


"Daddy baik-baik aja. Makin tua makin bawel dia. Bahkan, Daddy berkali-kali menjodohkan aku dengan putra dari teman-temanya."


"Terus?"


"Terus apa?"


"Apa kamu menerima perjodohan itu?"


"Pertanyaan macam apa itu? Kalau aku menerima perjodohan itu, mana mungkin aku berada di sini sekarang. Aku juga sudah menikah dengan orang lain mungkin.'' Nata seketika menoleh dan menatap wajah Daren lengkap dengan senyuman yang mengembang begitu cantik di pandang.


"Nat, Mas benar-benar sudah tidak tahan lagi. 5 tahun Mas memendam rasa rindu di dalam hati Mas ini, sampai rasanya jiwanya Mas akan meledak setiap kali Mas memikirkan kamu, sayang. Maafkan Mas jika malam ini Mas akan berbuat khilaf sama kamu,'' lirih Daren seketika itu juga mendaratkan ciu*an di bibir Natalia Agatha.


BERSAMBUNG


...****************...