
Baik Daren maupun Nata seketika diam mematung seraya menatap wajah si kembar yang saat ini berdiri tepat di depan pintu. Untuk beberapa saat otak mereka seolah berhenti berfungsi, sampai akhirnya Jackie menerobos masuk ke dalam kamar dan menyadarkan mereka berdua.
"Kalian sedang apa? Katanya mau main?" tanya Jackie tanpa menatap ke arah Daren dan juga Nata, "Ko kalian malah ke sini?" tanya Jackie dengan wajah polosnya.
Daren sontak menurunkan tubuh istrinya hingga dia berdiri dan hampir saja tumbang. Namun, Nata segera menyeimbangkan tubuhnya dan berhasil berdiri tegak dengan perasaan gugup.
"Ka-kalian kalau masuk kamar itu biasakan ketuk pintu dulu," sahut Daren dengan wajah memerah, "Gak sopan tau. Untung Mommy sama Daddy tidak sedang--" Daren menahan ucapannya.
"Sedang apa? Daddy kenapa gendong-gendong Mommy segala?" tanya Xela dengan begitu polosnya, "Mommy manja ikh, pengen di gendong sama Daddy segala, apa Mommy iri melihat kami di gendong sama Daddy tadi?"
Nata menggaruk kepalanya sendiri seraya tersenyum cengengesan. Semenjak mereka memiliki si kembar, dirinya dan sang suami tidak pernah bebas melakukan hubungan intim kapanpun mereka ingin melakukannya. Apalagi, mereka berdua tidak di beri kesempatan untuk menikmati masa-masa indahnya menjadi pengantin baru karena Nata hamil tanpa di duga kala itu.
"Nggak, sayang. Siapa bilang Mommy iri sama kalian?" tanya Nata mencoba untuk membela diri, "Memangnya Daddy kalian ini ayah kalian aja? Dia juga punya Mommy lho," decak Nata seraya merangkul tubuh suaminya dari arah samping.
Axelia berjalan menghampiri lalu berdiri tepat di tengah-tengah mereka berdua, "Ikh, Daddy punyaku bukan punya Mommy. Mommy jangan peluk-peluk Daddy aku," pinta Axelia seraya memeluk ke dua kaki sang ayah.
Axelia memang sangat dekat dengan ayahnya. Baginya, sang ayah adalah super hero dan sosok yang sangat dia banggakan. Jika ada istilah yang mengatakan bahwa cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya, hal itu benar adanya.
"Iya-iya, sayang. Mommy ngalah deh, astaga anak ini!" decak Nata seraya tersenyum lucu, putrinya yang satu ini memang selalu seperti ini, "Gak jadi ngobatin deh, Mommy masak untuk kalian aja deh," sahut Nata dengan nada suara lantang seraya melirik wajah suaminya, lalu berjalan keluar dari dalam kamar.
Daren hanya bisa menghela napas berat. Keinginannya untuk mandi berdua dengan sang istri gagal total gara-gara si kembar. Sepertinya, dia harus mengambil cuti kantor dan pergi bulan madu berdua saja dengan istrinya ini. Namun, mana tega seorang Daren pergi tanpa ke tiga buah hatinya. Daren mengusap wajahnya kasar lalu menatap wajah si kembar secara bergantian.
"Sayang-sayangnya Daddy, bantu Mommy kalian masak gih," pinta Daren dengan nada suara lembut, "Daddy mandi dulu. Tubuh Daddy lengket, bau lagi."
Axelia mengurai pelukan, "Oke Daddy, kami tunggu di luar ya," jawab Axelia seraya tersenyum ceria. Dia pun berjalan keluar dari dalam kamar diikuti oleh Xela dan Jackie.
"Hadeuh, kapan saya bisa bebas bercinta tanpa di ganggu sama si bocil?" decak Daren seraya membuka pintu kamar mandi lalu masuk ke dalamnya kemudian.
* * *
Setelah selesai makan malam, Daren berjalan menghampiri putranya yang saat ini sedang duduk santai di halaman belakang seraya menikmati secangkir teh hangat. Dia duduk tepat di samping putranya.
"Gimana meeting hari ini, sukses?" tanya Daren hanya sekedar basa basi saja sebenarnya.
"Sukses, tinggal di acc sama Daddy aja, besok laporannya aku kirim ke ruangan Daddy," jawab Eden tanpa menoleh.
"Sudah waktunya kamu menikah lagi, Ed," celetuk Daren membuat Eden seketika merasa terkejut.
"Apa menikah? Jangan ngaco, Dad. Saya tidak berniat untuk menikah lagi," jawab Eden seraya tersenyum menyeringai.
"Apa mungkin yang dikatakan sama Mommy kamu itu benar?"
"Kamu sudah tidak normal, berganti haluan, begitu?" celetuk Daren dengan begitu santainya.
"Hah? Hahahaha! Daddy semakin ngaco aja sih, saya normal, Dad. Saya laki-laki jantan!" tegas Eden penuh penekanan juga merasa kesal.
"Benarkah? Akh, syukurlah Daddy lega sekali mendengarnya," decak Daren seraya menarik napas lega, "Jadi kapan?"
Eden seketika mengerutkan kening, "Jadi kapan apanya?" tanya Eden merasa tidak mengerti.
"Kapan kamu akan menikah? Sudah cukup kamu hidup menduda selama 5 tahun ini," tanya Daren seketika memasang wajah serius.
"Saya mau tanya sama Daddy, dulu sebelum Daddy menikah dengan Mommy Nata, Daddy menduda berapa tahun?" tanya Eden tersenyum sinis, "Setahu saya Daddy menduda lebih dari 10 tahun, kenapa saya yang baru menduda selama 5 tahun sudah di tanya kapan menikah?"
Daren mengusap wajahnya kasar. Putranya ini memang pintar memutar balikan keadaan. Ya, dirinya memang menduda lebih dari 10 tahun kala itu, tapi keadaan mereka berbeda. Dia memang menduda dalam waktu yang lama, tapi dirinya tidak mengabaikan putranya bahkan berhasil membesarkan Eden dengan baik.
Sedangkan putranya ini, dia melakukan hal yang sebaliknya. Jangankan mengurus, membesarkan, dan memberi Jackie kasih sayang, menganggap kehadirannya saja tidak sedikit pun.
"Jangan samakan Daddy sama kamu, Ed. Meskipun kita Ayah dan anak, tapi kita berbeda, sangat berbeda," tegas Daren mulai merasa kesal.
"Jangan bahas masalah Jackie lagi, saya malas bertengkar dengan Daddy gara-gara anak itu," pinta Eden dengan Wajah datar.
"Kamu tidak kasihan sama dia, Ed? Jackie itu anak kandung kamu, darah daging kamu," ujar Daren mulai menaikan nada suaranya, "Airin istri kamu sampai mengorbankan nyawanya untuk melahirkan dia. Apa kamu tidak berfikir bagaimana perasaan istri kamu di alam sana jika dia tahu bahwa anak yang dia lahirkan dengan penuh pengorbanan kamu sia-siakan begitu saja?"
Eden diam seribu bahasa. Kepalanya nampak menunduk sedih dengan ke dua mata yang mulai memerah. Apa yang baru saja diucapkan oleh ayahnya ini benar-benar terasa menusuk relung hatinya yang paling dalam.
Ya, Airin kehilangan nyawanya demi melahirkan buah hati mereka. Apa dia tidak akan murka jika sampai tahu bahwa dirinya mengabaikan, membenci bahkan melimpahkan kesalahan atas meninggalnya Airin kepada anak itu?
Dada Eden seketika terasa sesak. Buliran bening pun jatuh begitu saja tanpa terasa. Eden berdiri tegak lalu pergi begitu saja meninggalkan sang ayah.
"Kamu mau ke mana, Ed? Daddy belum selesai bicara?" teriak Daren menatap kepergian putranya dengan perasaan kesal.
Eden sama sekali tidak menanggapi pertanyaan sang ayah. Dia berjalan dengan langkah kaki gontai menuju sebuah kamar.
Ceklek!
Pintu kamar pun di buka. Jackie yang sedang bermain sendiri seketika menoleh dan menatap wajah Eden dengan kening yang dikerutkan.
"Kaka Eden?" sapa Jackie merasa heran, "Mau apa Kaka ke kamarku? Tumben sekali."
BERSAMBUNG